Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

Maret hingga Juni. Merupakan bulan-bulan sibuk bagi mereka yang akan menghadapi ujian kelulusan, termasuk aku. Akhir-akhir ini kami sedang disibukkan dengan berbagai macam ujian praktek. Aku sebagai murid yang normal tentunya merasa takut, takut jika nanti sampai tidak lulus. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, aku terpaksa harus rajin belajar dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamaku, yaitu bermalas-malasan.

Di sekolah, aku memang dikenal murid yang pandai, selalu juara umum. Setiap kali ada guru yang marah kepada murid yang lain, biasanya selalu menyebut namaku di akhir, tentunya sebagai contoh cara belajar yang baik. Aku tentu bangga dengan predikat tersebut. Namun, apa yang dikatakan guruku itu bisa dikatakan fitnah, mereka bahkan tidak pernah tahu, bahwa aku sebanarnya tidak pernah belajar, seperti yang mereka bicarakan.

Bakat pintarku ini bisa dikatakan bakat alami. Bakat yang tiba-tiba datang, tanpa harus melakukan usaha keras. Terkadang aku sendiri merasa heran, bagaimana mungkin aku bisa menjadi yang terbaik di kelas, sedangkan aku jarang membuka buku pelajaran di rumah. Bagaimana mungkin aku selalu juara umum, padahal aku jarang tidur lebih malam untuk sekedar membaca kembali materi yang sudah dipelajari. Aku tidak pernah menatap buku lebih dari 5 menit, aku tidak pernah betah membaca buku, bahkan aku tidak memiliki jam belajar yang teratur. Terkadang hidup memang terasa sangat mudah.

Namun, menjadi pintar belum cukup membuat aku tenang menghadapi ujian nanti. Aku selalu merasa takut jika saja sampai gagal menghadapi ujian praktek. Bisa saja, Allah dengan kehendakanya membuat aku tidak lulus, karena aku selalu percaya, semua kepintaran yang kumiliki ini milik Allah. Sungguh, Allah sudah terlalu baik kepadaku, memberikan kepintaran kepadaku yang hampir tak melakukan usaha.

“Sst, ngelamunin apa, hayoo?” Faris, dengan sedikit menaikkan kedua alisnya itu memecah lamunanku.

“Nggak, lagi mikirin umat.” Jawabku dengan nada canda.

“Sok peduli kamu, teman aja ditelantarin, pake mikirin umat lagi.” Faris menjawab dengan sedikit meledekku.

Faris adalah salah satu sahabatku, ia adalah temanku yang paling dekat, tentu saja, karena ia duduk di sebelahku. Meskipun orangnya asyik, namun kebiasaannya yang suka mencontek kerap kali membuatku marah. Aku tidak pernah menyontek, oleh karena itu, aku benci sekali dengan teman yang suka menyontek.

“Ssst, udah udah, Bu Sun sudah datang tuh.” Faris membenarkan posisi duduknya, berkata dengan suara lirih, seperti berbisik, matanya melirik ke arah guru yang baru saja masuk ke dalam kelas kami.

Semua siswa langsung duduk pada tempatnya masing-masing, setelah tadi berkeliaran ke kursi-kursi tetangga. “Pagi Bu.” Semua serentak menyapa Bu Sun, Guru Bahasa Indonesia yang terkenal galak tersebut.

“Faris…..!!” Bu Sun melontarkan nama itu dengan nada tinggi, sedikit berteriak layaknya orang yang sedang marah. Baru saja guru itu masuk, sebuah belati telah menyayat satu nama diantara kami. Tentu saja itu sebuah kiasan, tapi Bu Sun benar-benar terlihat marah.

Merasa namanya disebut, Faris heran. ‘Apa yang salah, kenapa Bu Sun marah denganku’. Mungkin itulah yang sedang ada di pikiran temanku itu.

“Kenapa kamu memasang topi terbalik? Mau mengejek saya ya?!” Guru galak itu bertanya, sambil mengutarakan kesalahan yang telah dilakukan Faris.

Ternyata, saking asyiknya Faris ngobrol denganku tadi, ia sampai lupa melepas topinya setelah upacara pagi tadi, parahnya lagi topi itu terpasang terbalik di kepalanya. Bu Sun benar-benar sensi, hanya hal seperti itu saja menjadi alasan untuk memarahi kami.

Hanya satu kesalahan yang dilakukan Faris tersebut, kelas menjadi lebih membosankan, mendengarkan celotehan amarah dan ceramah dari Bu Sun. Satu jam lebih kami diceramahi olehnya, dengan satu kesimpulan akhir, bahwa minggu depan akan diadakan Ujian Praktek Bahasa Indonesia.

“Haah!” Hampir semua siswa serentak mengatakan satu ‘kata’ yang berstruktur 2 huruf itu.

“Ujiannya, dengan berpidato di depan kelas.” Tambah Bu Sun dengan raut wajah yang masih menyimpan marah.

“Haah!” Kali ini, semua siswa benar-benar serentak mengatakan ‘kata’ itu.

“Belum selesai, Tema pidatonya akan ditentukan dengan cara diundi.” Suaranya benar-benar tinggi saat mengatakan susuanan kalimat mengerikan itu. "Itu artinya, kalian semua harus mempersiapkan dan menguasai tema apa saja yang akan kalian terima nanti, semua harus siap.” Semakin ke akhir, nadanya semakin tinggi. Hingga pada kata ‘siap’, suaranya hampir melewati 3 oktaf.

Ini benar-benar mimpi buruk, bagaimana mungkin aku dapat lulus ujian pidato tersebut, sedangkan semua tentu tahu, aku paling tidak bisa kalau ngomong di depan umum, walau hanya di depan teman-teman. Dan Buruknya lagi, tema-nya akan ditentukan dengan undian. Oh tidak, aku benar-benar berharap ini semua hanya mimpi.

ooOoo

2 Hari setelah pengumuman mengerikan itu, aku tak merasa itu semua mimpi. Akhirnya aku menerima kenyataan itu dengan pahit plus getir, ujian pidato itu benar-benar nyata dikatakan oleh Bu Sun. Kini yang harus kulakukan bukanlah mengutuk guru tersebut, tapi harus benar-benar mempersiapkan ujian praktek itu dengan matang.

Aku harus mempersiapkan banyak materi, aku harus banyak menguasai pengetahuan, aku harus memperluas wawasan, aku harus benar-benar menyediakan waktu belajar, dan yang paling penting, aku harus minta kepada Allah. Tak akan kubiarkan Ujian Praktek Bahasa Indonesia ini gagal kulewati.

Tak hanya belajar, di sepertiga malam, aku selalu mengusahakan bangun, menyegarkan badan dengan mandi, dan menyucikan diri dengan wudhu untuk memperoleh kedamaian Sholat Malam, kedamaian hati yang tak terkalahkan. Dan di saat seperti ini, aku selalu merasa berdosa. Berdosa, karena aku hanya merasa dekat kepada-Nya jika sedang membutuhkan saja, baru kusadari atas kesalahan itu, maka kuputuskan untuk merubahnya.

Aku benar-benar merasa tidak pantas lagi meminta kepada-Nya. Namun, di sunyi malam itu, kulantunkan satu permintaanku.

Ya Allah. Engkaulah maha pemberi, engkau yang selalu memberiku kemudahan, meski aku jarang mensyukurinya. Kali ini, berilah petunjukmu lagi kepadaku, berilah kemudahan kepadaku dalam menghadapi ujian, kuserahkan semuanya kepada-Mu Ya Allah. Amiin…

Dalam, doa singkat itu. Aku selalu merasa lebih tenang, damai dan sejuk hati ini. Setiap malam, tak pernah lupa kulantunkan permintaanku itu untuk melengkapi sholat malamku.

Dan siang hari, kuusahakan untuk banyak membaca, begitu serius aku mempersiapkan ujian pidato ini, karena aku tahu, aku bukanlah orang yang memiliki seribu kata. Selalu tak bisa berkata-kata di depan umum.

Aku terus membaca, kali ini aku membaca mengenai teknologi, siapa tahu saat aku maju nanti aku mendapat tema mengenai teknologi. Tak hanya membaca, aku berusaha menghafal bebrapa kosakata menarik dalam berpidato, aku menghafal sedikit isi materinya, dan aku juga menghafal bagaimana cara membuka sebuah pidato.

2 hari sebelum hari H, aku masih berusaha membaca, memperbanyak wawasan. Namun, setiap kali membaca, aku selalu hanya tertarik pada materi yang berkaitan dengan teknologi, padahal ada banyak materi yang harus aku kuasai. Dalam teori matematika, kita tentu mengenal teori peluang, maka peluang keluarnya tema teknologi hanyalah satu berbanding puluhan tema yang akan diundi.

Tinggal satu hari, tak ada materi lain yang kubaca selain teknologi. Mataku selalu tertuju pada materi tersebut. Aku hampir menyerah, ujian semakin dekat, sedangkan aku belum bisa menguasai banyak materi.

Di Malam terakhirnku, aku tidak meninggalkan Sholat Malam. Satu doa terakhirku.

Ya Allah, hanya Engkau yang maha pemberi. Tolonglah aku dalam menghadapi ujian pidato besok Ya Allah.

ooOoo

Ujian itu akan segera dimulai. Semua siswa merasakan hal yang sama denganku, gugup, gemetar dan tidak karuan, kecuali Dea, ia pernah menjadi juara pidato tingkat provinsi mewakili sekolah kami. Seharunya ini hal yang mudah baginya.

Langkah Bu Sun kali ini terdengar jauh lebih mengerikan. Jantungku berdetak semakin kencang, tidak karuan, melewati batas stabil. Tegang sekali saat mendengar langkah kakinya mendekati kelas kami.

“Kamu sudah siap belum?” Tanya Faris, beberapa saat sebelum satu langkah mengerikan masuk ke dalam kelas.

Aku hanya diam, tidak merespon pertanyaan temanku itu. Pikiranku lebih sibuk memikirkan masa depan, apa yang akan terjadi nanti. Yang pasti, satu diantara dua hal akan terjadi, Berhasil atau gagal. Tak ada rasa optimis yang kurasakan, tak ada pula rasa tenang, yang ada hanyalah ketakutan akan kegagalan.

Namun, di lain sisi, aku terus berusaha meyakinkan diri, bahwa Allah selalu ada di samping kita. Ia pasti akan mengabulkan doaku.

“Baik, ujian ini langsung saja kita mulai. Siapa yang lebih dulu maju, akan ditentukan melalui undian.” Tanpa basa-basi Bu Sun langsung memberi pengarahan terkait ujian pidato tersebut.

Di atas meja Bu Sun, ada dua buah keleng bekas ‘cocacolla’. Aku tahu, di dalam kaleng yang pertama berisi banyak nama untuk menentukan siapa yang lebih dulu maju. Di kaleng kedua, berisi kertas bertuliskan bermacam-macam tema yang harus disampaikan oleh kami.

Giliran pertama. Keleng pertama dikocok, sehelai kertas keluar, bertuliskan satu buah nama diantara kami. Semua berdebar, ini tentunya momen paling mendebarkan bagi kami semua.

“Yandi!” Tegas Bu Sun membaca satu nama yang keluar dari kaleng bekas cocacolla tersebut. Lega rasanya, bukan aku yang pertama.

Kaleng kedua dikocok, kaleng yang menentukan tema pidato yang harus disampaikan, kali ini yang berdebar hanyalah Yandi. Penasaran sekaligus takut. Dan, sebuah tulisan keluar, “kesehatan”. Itulah tema yang harus Yandi sampaikan. Tanpa dikomandoi, Yandi maju ke depan kelas, kulihat langkahnya begitu ragu, namun wajahnya tetap terlihat santai.

Aku semakin gugup, semakin bergetar. Penampilan Yandi barusan cukup bagus, membuatku sedikit merasa minder. Ujian terus berlangsung, tak terasa sudah lama aku menanti, tapi aku belum juga mendapat giliran. Jumlah kami 28, kini sudah penampilan temanku yang ke 19. Faris dan beberapa teman dekatku lainnya sudah sukses, mereka terlihat lega, namun aku belum.

Sambil menunggu, aku tetap mempelajari, menambah wawasan dan materi sambil terus bedoa dalam hati. Lagi-lagi aku hanya membaca buku bagian teknologi, padahal aku membawa banyak buku lain. Dan kali ini, aku hanya berharap, yang keluar nanti adalah tema mengenai teknologi, hanya itu yang kukuasai, hanya itu harapanku.

Oh tidak. Tak terasa, tinggal aku dan Niko yang tersisa, aku masih belum bisa merasa tenang seperti teman-teman yang lain, yang sudah bisa bernafas lega. Tinggal dua nama lagi yang ada di dalam kaleng tersebut. Aku semakin bergetar, gugup, semakin tidak karuan.

“Fajar!” Panggil Bu Sun. Itu namaku, kini giliranku. Sebelum guru ‘galak’ itu menyebut namaku kedua kalinya, aku berjalan ke depan kelas, melangkah dengan tetap berusaha tenang, tapi hatiku tetap berdoa, “Ya Allah, berikan keajaibanm, aku ingin tema mengenai teknologi, hanya itu yang aku kuasai Ya Allah.”

Kaleng cocacolla tersebut bergoyang-goyang di tangan Bu Sun, aku masih terus berdoa. Dan satu helas kertas keluar. Dengan bergetar, Kubuka gulungan kecil kertas itu. Kulihat perlahan.

Huruf T di depan, “Semoga saja,” Ucapku lirih.

Kemudian huruf E. “Ayolah,” batinku berkata.

Dan kubuka lebih lebar. ‘Teknologi’. “Alhamdulillah”, sedikit tidak percaya.

Ini nyata, aku benar-benar tak percaya, satu kata yang kuharapkan benar-benar nyata di depan mata. Aku masih berdiri, kali ini aku semakin yakin. Sebelum aku mulai merangkaikan kata-kata, aku tersenyum melihat hiasan di dinding belakang kelasku yang bertuliskan ‘Allah’. Aku bergumam dalam hati, “Engkau memang Pengabul Doa.”



20 Maret 2013

Bogor

Sang Pengabul Doa (cerpen)

Maret hingga Juni. Merupakan bulan-bulan sibuk bagi mereka yang akan menghadapi ujian kelulusan, termasuk aku. Akhir-akhir ini kami sedang disibukkan dengan berbagai macam ujian praktek. Aku sebagai murid yang normal tentunya merasa takut, takut jika nanti sampai tidak lulus. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, aku terpaksa harus rajin belajar dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamaku, yaitu bermalas-malasan.

Di sekolah, aku memang dikenal murid yang pandai, selalu juara umum. Setiap kali ada guru yang marah kepada murid yang lain, biasanya selalu menyebut namaku di akhir, tentunya sebagai contoh cara belajar yang baik. Aku tentu bangga dengan predikat tersebut. Namun, apa yang dikatakan guruku itu bisa dikatakan fitnah, mereka bahkan tidak pernah tahu, bahwa aku sebanarnya tidak pernah belajar, seperti yang mereka bicarakan.

Bakat pintarku ini bisa dikatakan bakat alami. Bakat yang tiba-tiba datang, tanpa harus melakukan usaha keras. Terkadang aku sendiri merasa heran, bagaimana mungkin aku bisa menjadi yang terbaik di kelas, sedangkan aku jarang membuka buku pelajaran di rumah. Bagaimana mungkin aku selalu juara umum, padahal aku jarang tidur lebih malam untuk sekedar membaca kembali materi yang sudah dipelajari. Aku tidak pernah menatap buku lebih dari 5 menit, aku tidak pernah betah membaca buku, bahkan aku tidak memiliki jam belajar yang teratur. Terkadang hidup memang terasa sangat mudah.

Namun, menjadi pintar belum cukup membuat aku tenang menghadapi ujian nanti. Aku selalu merasa takut jika saja sampai gagal menghadapi ujian praktek. Bisa saja, Allah dengan kehendakanya membuat aku tidak lulus, karena aku selalu percaya, semua kepintaran yang kumiliki ini milik Allah. Sungguh, Allah sudah terlalu baik kepadaku, memberikan kepintaran kepadaku yang hampir tak melakukan usaha.

“Sst, ngelamunin apa, hayoo?” Faris, dengan sedikit menaikkan kedua alisnya itu memecah lamunanku.

“Nggak, lagi mikirin umat.” Jawabku dengan nada canda.

“Sok peduli kamu, teman aja ditelantarin, pake mikirin umat lagi.” Faris menjawab dengan sedikit meledekku.

Faris adalah salah satu sahabatku, ia adalah temanku yang paling dekat, tentu saja, karena ia duduk di sebelahku. Meskipun orangnya asyik, namun kebiasaannya yang suka mencontek kerap kali membuatku marah. Aku tidak pernah menyontek, oleh karena itu, aku benci sekali dengan teman yang suka menyontek.

“Ssst, udah udah, Bu Sun sudah datang tuh.” Faris membenarkan posisi duduknya, berkata dengan suara lirih, seperti berbisik, matanya melirik ke arah guru yang baru saja masuk ke dalam kelas kami.

Semua siswa langsung duduk pada tempatnya masing-masing, setelah tadi berkeliaran ke kursi-kursi tetangga. “Pagi Bu.” Semua serentak menyapa Bu Sun, Guru Bahasa Indonesia yang terkenal galak tersebut.

“Faris…..!!” Bu Sun melontarkan nama itu dengan nada tinggi, sedikit berteriak layaknya orang yang sedang marah. Baru saja guru itu masuk, sebuah belati telah menyayat satu nama diantara kami. Tentu saja itu sebuah kiasan, tapi Bu Sun benar-benar terlihat marah.

Merasa namanya disebut, Faris heran. ‘Apa yang salah, kenapa Bu Sun marah denganku’. Mungkin itulah yang sedang ada di pikiran temanku itu.

“Kenapa kamu memasang topi terbalik? Mau mengejek saya ya?!” Guru galak itu bertanya, sambil mengutarakan kesalahan yang telah dilakukan Faris.

Ternyata, saking asyiknya Faris ngobrol denganku tadi, ia sampai lupa melepas topinya setelah upacara pagi tadi, parahnya lagi topi itu terpasang terbalik di kepalanya. Bu Sun benar-benar sensi, hanya hal seperti itu saja menjadi alasan untuk memarahi kami.

Hanya satu kesalahan yang dilakukan Faris tersebut, kelas menjadi lebih membosankan, mendengarkan celotehan amarah dan ceramah dari Bu Sun. Satu jam lebih kami diceramahi olehnya, dengan satu kesimpulan akhir, bahwa minggu depan akan diadakan Ujian Praktek Bahasa Indonesia.

“Haah!” Hampir semua siswa serentak mengatakan satu ‘kata’ yang berstruktur 2 huruf itu.

“Ujiannya, dengan berpidato di depan kelas.” Tambah Bu Sun dengan raut wajah yang masih menyimpan marah.

“Haah!” Kali ini, semua siswa benar-benar serentak mengatakan ‘kata’ itu.

“Belum selesai, Tema pidatonya akan ditentukan dengan cara diundi.” Suaranya benar-benar tinggi saat mengatakan susuanan kalimat mengerikan itu. "Itu artinya, kalian semua harus mempersiapkan dan menguasai tema apa saja yang akan kalian terima nanti, semua harus siap.” Semakin ke akhir, nadanya semakin tinggi. Hingga pada kata ‘siap’, suaranya hampir melewati 3 oktaf.

Ini benar-benar mimpi buruk, bagaimana mungkin aku dapat lulus ujian pidato tersebut, sedangkan semua tentu tahu, aku paling tidak bisa kalau ngomong di depan umum, walau hanya di depan teman-teman. Dan Buruknya lagi, tema-nya akan ditentukan dengan undian. Oh tidak, aku benar-benar berharap ini semua hanya mimpi.

ooOoo

2 Hari setelah pengumuman mengerikan itu, aku tak merasa itu semua mimpi. Akhirnya aku menerima kenyataan itu dengan pahit plus getir, ujian pidato itu benar-benar nyata dikatakan oleh Bu Sun. Kini yang harus kulakukan bukanlah mengutuk guru tersebut, tapi harus benar-benar mempersiapkan ujian praktek itu dengan matang.

Aku harus mempersiapkan banyak materi, aku harus banyak menguasai pengetahuan, aku harus memperluas wawasan, aku harus benar-benar menyediakan waktu belajar, dan yang paling penting, aku harus minta kepada Allah. Tak akan kubiarkan Ujian Praktek Bahasa Indonesia ini gagal kulewati.

Tak hanya belajar, di sepertiga malam, aku selalu mengusahakan bangun, menyegarkan badan dengan mandi, dan menyucikan diri dengan wudhu untuk memperoleh kedamaian Sholat Malam, kedamaian hati yang tak terkalahkan. Dan di saat seperti ini, aku selalu merasa berdosa. Berdosa, karena aku hanya merasa dekat kepada-Nya jika sedang membutuhkan saja, baru kusadari atas kesalahan itu, maka kuputuskan untuk merubahnya.

Aku benar-benar merasa tidak pantas lagi meminta kepada-Nya. Namun, di sunyi malam itu, kulantunkan satu permintaanku.

Ya Allah. Engkaulah maha pemberi, engkau yang selalu memberiku kemudahan, meski aku jarang mensyukurinya. Kali ini, berilah petunjukmu lagi kepadaku, berilah kemudahan kepadaku dalam menghadapi ujian, kuserahkan semuanya kepada-Mu Ya Allah. Amiin…

Dalam, doa singkat itu. Aku selalu merasa lebih tenang, damai dan sejuk hati ini. Setiap malam, tak pernah lupa kulantunkan permintaanku itu untuk melengkapi sholat malamku.

Dan siang hari, kuusahakan untuk banyak membaca, begitu serius aku mempersiapkan ujian pidato ini, karena aku tahu, aku bukanlah orang yang memiliki seribu kata. Selalu tak bisa berkata-kata di depan umum.

Aku terus membaca, kali ini aku membaca mengenai teknologi, siapa tahu saat aku maju nanti aku mendapat tema mengenai teknologi. Tak hanya membaca, aku berusaha menghafal bebrapa kosakata menarik dalam berpidato, aku menghafal sedikit isi materinya, dan aku juga menghafal bagaimana cara membuka sebuah pidato.

2 hari sebelum hari H, aku masih berusaha membaca, memperbanyak wawasan. Namun, setiap kali membaca, aku selalu hanya tertarik pada materi yang berkaitan dengan teknologi, padahal ada banyak materi yang harus aku kuasai. Dalam teori matematika, kita tentu mengenal teori peluang, maka peluang keluarnya tema teknologi hanyalah satu berbanding puluhan tema yang akan diundi.

Tinggal satu hari, tak ada materi lain yang kubaca selain teknologi. Mataku selalu tertuju pada materi tersebut. Aku hampir menyerah, ujian semakin dekat, sedangkan aku belum bisa menguasai banyak materi.

Di Malam terakhirnku, aku tidak meninggalkan Sholat Malam. Satu doa terakhirku.

Ya Allah, hanya Engkau yang maha pemberi. Tolonglah aku dalam menghadapi ujian pidato besok Ya Allah.

ooOoo

Ujian itu akan segera dimulai. Semua siswa merasakan hal yang sama denganku, gugup, gemetar dan tidak karuan, kecuali Dea, ia pernah menjadi juara pidato tingkat provinsi mewakili sekolah kami. Seharunya ini hal yang mudah baginya.

Langkah Bu Sun kali ini terdengar jauh lebih mengerikan. Jantungku berdetak semakin kencang, tidak karuan, melewati batas stabil. Tegang sekali saat mendengar langkah kakinya mendekati kelas kami.

“Kamu sudah siap belum?” Tanya Faris, beberapa saat sebelum satu langkah mengerikan masuk ke dalam kelas.

Aku hanya diam, tidak merespon pertanyaan temanku itu. Pikiranku lebih sibuk memikirkan masa depan, apa yang akan terjadi nanti. Yang pasti, satu diantara dua hal akan terjadi, Berhasil atau gagal. Tak ada rasa optimis yang kurasakan, tak ada pula rasa tenang, yang ada hanyalah ketakutan akan kegagalan.

Namun, di lain sisi, aku terus berusaha meyakinkan diri, bahwa Allah selalu ada di samping kita. Ia pasti akan mengabulkan doaku.

“Baik, ujian ini langsung saja kita mulai. Siapa yang lebih dulu maju, akan ditentukan melalui undian.” Tanpa basa-basi Bu Sun langsung memberi pengarahan terkait ujian pidato tersebut.

Di atas meja Bu Sun, ada dua buah keleng bekas ‘cocacolla’. Aku tahu, di dalam kaleng yang pertama berisi banyak nama untuk menentukan siapa yang lebih dulu maju. Di kaleng kedua, berisi kertas bertuliskan bermacam-macam tema yang harus disampaikan oleh kami.

Giliran pertama. Keleng pertama dikocok, sehelai kertas keluar, bertuliskan satu buah nama diantara kami. Semua berdebar, ini tentunya momen paling mendebarkan bagi kami semua.

“Yandi!” Tegas Bu Sun membaca satu nama yang keluar dari kaleng bekas cocacolla tersebut. Lega rasanya, bukan aku yang pertama.

Kaleng kedua dikocok, kaleng yang menentukan tema pidato yang harus disampaikan, kali ini yang berdebar hanyalah Yandi. Penasaran sekaligus takut. Dan, sebuah tulisan keluar, “kesehatan”. Itulah tema yang harus Yandi sampaikan. Tanpa dikomandoi, Yandi maju ke depan kelas, kulihat langkahnya begitu ragu, namun wajahnya tetap terlihat santai.

Aku semakin gugup, semakin bergetar. Penampilan Yandi barusan cukup bagus, membuatku sedikit merasa minder. Ujian terus berlangsung, tak terasa sudah lama aku menanti, tapi aku belum juga mendapat giliran. Jumlah kami 28, kini sudah penampilan temanku yang ke 19. Faris dan beberapa teman dekatku lainnya sudah sukses, mereka terlihat lega, namun aku belum.

Sambil menunggu, aku tetap mempelajari, menambah wawasan dan materi sambil terus bedoa dalam hati. Lagi-lagi aku hanya membaca buku bagian teknologi, padahal aku membawa banyak buku lain. Dan kali ini, aku hanya berharap, yang keluar nanti adalah tema mengenai teknologi, hanya itu yang kukuasai, hanya itu harapanku.

Oh tidak. Tak terasa, tinggal aku dan Niko yang tersisa, aku masih belum bisa merasa tenang seperti teman-teman yang lain, yang sudah bisa bernafas lega. Tinggal dua nama lagi yang ada di dalam kaleng tersebut. Aku semakin bergetar, gugup, semakin tidak karuan.

“Fajar!” Panggil Bu Sun. Itu namaku, kini giliranku. Sebelum guru ‘galak’ itu menyebut namaku kedua kalinya, aku berjalan ke depan kelas, melangkah dengan tetap berusaha tenang, tapi hatiku tetap berdoa, “Ya Allah, berikan keajaibanm, aku ingin tema mengenai teknologi, hanya itu yang aku kuasai Ya Allah.”

Kaleng cocacolla tersebut bergoyang-goyang di tangan Bu Sun, aku masih terus berdoa. Dan satu helas kertas keluar. Dengan bergetar, Kubuka gulungan kecil kertas itu. Kulihat perlahan.

Huruf T di depan, “Semoga saja,” Ucapku lirih.

Kemudian huruf E. “Ayolah,” batinku berkata.

Dan kubuka lebih lebar. ‘Teknologi’. “Alhamdulillah”, sedikit tidak percaya.

Ini nyata, aku benar-benar tak percaya, satu kata yang kuharapkan benar-benar nyata di depan mata. Aku masih berdiri, kali ini aku semakin yakin. Sebelum aku mulai merangkaikan kata-kata, aku tersenyum melihat hiasan di dinding belakang kelasku yang bertuliskan ‘Allah’. Aku bergumam dalam hati, “Engkau memang Pengabul Doa.”



20 Maret 2013

Bogor

Senin, 06 Mei 2013

Vira tertunduk lesu di kursi belakang, merebahkan kepalanya di atas meja, bersembunyi di belakang kepala teman-temannya agar Pak Fauzan yang sedang menjelaskan di depan tidak melihatnya. Seperti biasa, ia tidak pernah bersemangat mengikuti pelajaran agama yang diajarkan Pak Fauzan ini. Apalagi ini adalah jam pelajaran terakhir, seluruh semangatnya sudah terkuras dan menyisakkan rasa kantuk. Untungnya letak kursinya di belakang, sehingga kecil kemungkinan Pak Fauzan dapat melihatnya.

Dilihatya jam dinding kelas, 20 menit lagi waktunya pulang. Ia tak sabar untuk segera pulang dan meninggalkan tempat membosankan ini. Entah mengapa Vira begitu benci pelajaran agama, baginya semua yang dibicarkan Pak Fauzan hanyalah omong kosong. Belum lagi saat ini Pak Fauzan sedang menjelaskan mengenai Valentine’s Day. “Dasar, guru sok tahu!” Gerutunya dalam hati.

V’Day Haram, V’Day budaya kafir, V’Day tak boleh dirayakan, jangan rayakan V’Day. Sekilas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Fauzan ini sangat menyesakkan pikiran Vira. Semua yang dijelaskan Pak Fauzan hanya sekilas lewat di pikiran Vira dan kemudian keluar lagi. Pikirannya tidak mau lagi menampung semua omong kosong dari Pak Fauzan.

“Ah, omong kosong.” Vira menggerutu lagi dengan pelan, yang hanya didengar olehnya sendiri.

“Ssst, nggak boleh gitu.” Ternyata Rina mendengarkan ucapan Vira barusan.

Namun Vira tidak peduli, ia diam saja mendengar tanggapan Rina.

Bel berbunyi, semua siswa terlihat berhamburan keluar, seperti kerumunan semut yang sarangnya baru saja dihancurkan. Namun tidak untuk kelas 9a, mereka masih di dalam kelas. Seperti biasa Pak Fauzan selalu mengajar hingga lewat waktuya, kadang-kadang lewat 10 menit, 15 menit, bahkan sampai 20 menit. Itulah mengapa banyak murid yang tidak suka dengan pelajarannya.

“Sial, kapan pulangnya!” GerutuVira dengan pelan.

Kali ini ,Rina, teman sebangku Vira, hanya berani memandangi temannya itu, tak berani berkomentar lagi. Ia tahu dengan sifat Vira yang keras kepala, tak pernah mau mendengar nasihat apalagi komentar orang lain. Malah seringkali ia malah marah jika ada teman yang menasehatinya.

Dan sekarang sepertinya Pak Fauzan sudah hampir usai ceramah, penekanan kata ‘jadi ‘ di depan kalimatnya menunjukkan bahwa ia sedang memberi kesimpulan akhir dari ceramahnya.

“Jadi, ingat ya siswa-siswi semua. Jangan pernah ikut-ikutan merayakan yang namanya Valentine’s Day. Karena Islam melarang kita untuk menyerupai budaya kafir, dan ingat Valentine’s Day itu haram.” Ucap Pak Fauzan dengan nada yang semakin tinggi.

Ternyata benar, Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Fauzan itu mengakhiri pelajaran agama siang ini, 10 Menit setelah bel berbunyi, barulah mereka pulang. Semua siswa keluar kelas dengan berdesak-desakan, berusaha keluar lebih dulu, seakan takut ketinggalan kereta.

Rumah Vira tidak jauh dari sekolahnya, mungkin sekitar 200 Meter dari sekolahnya. Dengan berjalan kaki dapat sampai kurang dari 5 menit. Dalam perjalanan pulang, ia tampak berbincang-bincang dengan salah satu temannya.

“Gimana, Besok jadi kan?” Tanya Vira kepada Susan, salah satu teman akrabnya.

“Kayaknya, besok aku nggak jadi ikut deh.”

“Kenapa?” Tanya Vira lagi.

Susan memilih menggelengkan kepala, tidak mau memberi alasan untuk pertanyaan ‘kenapa’ yang dilontarkan Vira barusan.

“Kamu harus ikut dong, kan kamu yang ngajak, nggak seru kalo nggak ada kamu!” sedikit pujian dari Vira, dicampur sedikit harapan yang terlihat dari raut wajahnya membuat Susan sepertinya semakin ragu dengan pilihannya.

“Besok deh lihatnya.” Jawab Susan dengan sangat ragu, sampai-sampai suaranya tak bernada, hanya datar, sedatar permukaan setrika.

“Nah gitu dong, besok ya, di rumah Beni.” Ucap Vira dengan sedikit berteriak dan melambaikan tangannya ke arah Susan, ia sudah tidak berada di sebelah sebelah Susan lagi, barusan ada pertigaan yang memisahkan mereka.

*****

Seperti biasa, Vira hanya bermalas-malasan di rumah, nonton TV sambil baring dan sambil SMS-an. Vira memang pemalas, orang tuanya sering kali memarahinya karena bermalas-malasan di depan TV, jarang sekali mau mebantu orang tuanya, sangat jauh berbeda dengan kedua adik perempuannya yang tak semalas Vira, bahkan adiknya sagat rajin.

Berulangkali ia memindah-mindah channel TV nya, mungkin ia belum menemukan acara yang ia cari, atau mungkin ia sedang mencari acara yang cocok dengan seleranya. Tapi nampaknya ia belum juga menemukannya.

“Bete, dimana-mana ceramah!” Vira kesal. Tak ada acara TV yang pas.

Wajar saja banyak acara ceramah di TV, besok tanggal 14 Februari, hari Valentine’s Day. Meskipun banyak anak remaja yang menunggu-nunggu hari tersebut, tapi banyak juga pihak-pihak yang mengadakan acara anti Valentine’s Day. Dan Vira adalah orang yang mengikuti golongan pertama, yaitu remaja yang menunggu hari Kasih Sayang tersebut.

Vira mematikan TV dan kemudian melemparkan remote nya ke arah sofa disebelahnya. Kini tidak ada yang dapat ia lakukan. Bukan tidak ada, tapi tidak mau, sebenarnya ada banyak hal yang dapat ia lakukan, seperti mengerjakan PR, membantu ibunya membuat kue, dan masih banyak lagi. Tapi Vira adalah tipe orang yang pemalas, tidak mungkin ia mau merelakan sedikit waktunya untuk hal yang ia anggap tidak berguna.

Ia tetap berbaring di sofa panjang di depan TV yang sudah tidak bercahaya. Matanya semakin redup, tatapannya semakin kosong, wajahnya semakin sendu, mungkin sedang melamun. Dan tiba-tiba…

*****

Vira masuk ke dalam sebuah dimensi yang entah dimana itu. yang pasti ia sedang berada di sebuah ruangan yang ia sendiri tidak tahu, ruangan apa itu ? ruangan yang tidak terlalu luas, berwarna merah jambu dengan motif Love yang memenuhi ruangan, Vira mulai memperhatikan lebih detail rumah tersebut. Tapi aneh, baru saja ia ingin melihat lebih jauh lagi. Tiba-tiba ia seperti berpindah ke sebuah dimensi yang lain lagi.

Kini ia malah berada di sebuah taman indah, taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga indah dan wangi. Tapi kenapa? Ada yang aneh, bunga-bunga terus saja bertaburan dari atas, seperti sebuah hujan, hujan bunga. Ada yang tidak beres, tidak mungkin ada hujan seperti ini. Vira gelisah, ia bingung dengan apa yang telah terjadi. Bunga-bunga tersebut semakin lama semakin banyak. Dan semakin berat, hingga pada suatu titik dimana bunga tersebut terasa seperti batu, berjatuhan dari atas dan menghantam tubuhnya. Sakit sekali.

Vira takut dan berteriak sekuat-kuatnya sampai tenggorokannnya terasa panas dan terbakar, tapi tak ada suara apapun selain suara lirih helaan napasnya dan suara bunga yang menghantam tubuhnya, bunga yang keras.

Vira memohon kepada tuhan, agar tuhan memindahkannya, membuangnya jauh-jauh dari ruang aneh yang mengerikan ini.

Dan Allah memang pengabul doa, dengan sekejap Rina terlempar ke sebuah tempat, ke tempat yang sungguh aneh, berpindah-pindah dan terus berpindah, Vira seperti dipermainkan oleh Nasib, tenggelam ke dalam sebuah dimensi aneh yang semakin aneh, selalu berpindah dan tak tentu arahnya. Hingga akhirnya, ia pun terlempar lagi ke sebuah tempat yang sangat ia kenal, Ke tempat dimana semua keanehan ini bermula. Yaitu di atas sofa, di depan TV.

“Untung, hanya mimpi.” Ucap Vira dengan melepas lega, dengan napas yang masih ngos-ngosan. Mungkin mimpi itu terasa sangat melelahkan.

Dan dilihatnya, adiknya sudah berada di pinggirnya.

“Kenapa teriak-teriak Kak?” tanya sang adik.

“Cuma mimpi.”

“Mimpi apa?”

Tak mau membiarkan adiknya penasaran, Vira menceritakan mempinya tersebut kepada adiknya.

Sungguh aneh, mimpi di siang bolong. Mimpi yang sama sekali tidak logis.

******

Matahari sudah menyerahkan tugasnya kepada rembulan. Di malam yang cerah ini, Vira berniat untuk pergi ke sebuah Mall. Ia ingin membeli sesuatu untuk merayakan Valentine’s Day esok hari seperti yang sudah ia bicarakan dengan Susan siang tadi. Meski susan sendiri belum pasti akan dapat ikut dalam acara itu.

Dengan mengendarai motornya, Vira pergi ke salah satu mall besar. Tujuannya tidak lain hanya untuk membeli barang untuk dihadiahkan kepada pacaranya esok, di hari Valenteine’s Day. Sesampai nya di mall, ia langsung menuju salah satu toko yang sepertinya menyediakan apa yang ia cari.

Suasana Mall sangat beda dengan biasanya, dipenuhi hiasan serba merah jambu, dan serba love. Ini semua mungkin adalah bentuk penyambutan Valentine’s Day.

Dan tak perlu butuh waktu lama Vira sudah keluar dari mall membawa barang yang ia cari. Kue coklat berbentuk love sudah berhasil ia temukan. Kue yang rencananya akan ia berikan kepada pacarnya esok pada perayaan Valentine’s Day.

Vira langsung pulang, sudak tidak ada mood lagi untuk jalan-jalan. Tiba-tiba perasaannya semakin tidak enak, padahal barang yang dicari sudah ditangannya. Tapi entah mengapa perasaan berubah jadi tak karuan setelah membayar di kasir, ia teringat kembali mimpi siang tadi, mimpi yang baginya sangat mengerikan. Dan kali ini mimpi itu tiba-tiba saja kembali terlintas saat ia melihat kue coklat berbentuk love itu.

Lupakan semua itu. Vira berusaha membuang perasaan tidak karuan itu, ia tak mau larut semakin dalam karena memikirkan mimpi siang tadi, ia berusaha melupakannya dan langsung pulang.

******

Matahari baru saja bangun, menyinari bumi yang gelap menjadi terang-benderang dengan diselimuti suara kicauan burung pagi ini. Hari yang begitu cerah, sesuai harapan bagi kebanyakan remaja. Mungkin hari ini akan terjadi banyak kemaksiatan, kemaksiatan yang dilakukan oleh para remaja yang keliru menafsirkan hari ini.

Hari ini Vira sangat bersemangat, ini adalah salah satu hari yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Bukan sekedar karena ini Hari Minggu, tapi karena hari ini adalah hari ‘Kasih Sayang’. Ia tidak sabar untuk bertukar hadiah dengan pacarnya. Selain itu, pada hari ini juga ia akan mengadakan acara perayaan di rumah pacarnya.

Sore harinya, Vira mengendap-endap keluar rumah, agar kedua orang tuanya tidak mengetahui kepergiannya. Sore ini ia akan mengunjungi rumah pacarnya, dan tidak lupa ia membawa hadiah yang sudah dipersiapkannya. Tapi se-persekian senti lagi menuju pintu depan, mamanya mengagetkannya.

“Mau kemana kamu?”

“emm, mau ke rumah teman.” Jawab Vira dengan gugup.

“Ngapain sore-sore gini ke rumah teman?”

“emm, ada tugas kelompok.” Vira menjawab dengan nada cepat.

“Bener...”

Vira mengangguk sambil sedikit bersuara, “emm”. Mungkin Vira harus tahu bahwa kata ‘emm’ itu tidak ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata itu malah akan membuat mamanya semakin curiga.

Tapi untung, mamanya adalah orang yang tidak mudah curiga, ia percaya dengan ucapan anaknya itu, lagipula jika kemauan Vira tidak dituruti, biasanya Vira akan ngambek dan marah hingga berhari-hari. Dan mamanya tidak mau membiarkan Vira ngambek lagi seperti yang sudah sering terjadi.

“Iingat, Sebelum Maghrib sudah harus sampai di rumah!” tegas mama Vira

Vira segera berangkat, sebelum mamanya berkata-kata lagi, takut kalau mamanya dengan tiba-tiba mempertimbangkan lagi keputusannya.

Sekrang baru jam 4 sore, Vira mulai pergi ke rumah Susan, untuk menjemputnya ke acara yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Vira mengendarai motornya sedikit kencang menuju rumah Susan. Rumahnya tidak terlalau jauh, 5 menit jika menggunakan motor, namun jika berjalan kaki cukup jauh.

Benar, tidak sampai 5 menit, Vira sampai di depan rumah Susan, dan ternyata Susan sudah menunggu di pinggri jalan, mungkin ia tahu Vira akan menemuinya. Dan seakan sudah tahu tujuan Vira, Susan langsung saja menjawab sebelum Vira bertanya. “Maaf Vir, aku nggak ikut.”

“kenapa ?” pertanyaan itu kembali terdengar. Tapi kali ini, Susan menjelaskan alasannya.

“Kamu lupa? Pak Fauzan kan pernah melarang kita merayakan V’Day.” Jawab Susan.

“Jadi kamu percaya dengan ucapan Pak Fauzan?”

“Kenapa tidak, Pak Fauzan juga pernah bilang, V’Day itu budaya Kafir, dan haram bagi Umat Islam mengikutinya, apalagi merayakannya, aku nggak mau dapat dosa.” Susan menjelaskan.

“Ah, kamu percaya aja sama guru sok tahu itu.” Tangkis Vira.

“Ya udah kalo kamu nggak percaya, yang pasti aku nggak mau ikut.”

“Eh, Pak Fauzan itu Cuma sok tahu, lagi pula V’Day kan hari kasih sayang, masa nggak boleh dirayakan.” Vira tak mau kalah. Ia memang keras kepala, tapi tak sekeras baja.

“Tapi masalahnya, V’Day itu kan budaya kafir, dan siapa bilang V’Day itu hari kasih sayang, dulu V’Day adalah ritual penyembahan orang kafir. Jadi haram hukumnya bagi Umat Islam, lebih baik kamu juga jangan ikut-ikutan Vir.” Jawab Susan.

“Aku tidak percaya dengan pimikiran bodoh itu, kalau gitu aku sendiri saja yang berangkat kalo kamu nggak mau.” Jawab Vira dengan sedikit marah. Kemudian ia langsung menyalakan motornya dan pergi meninggalkan rumah Susan.

Namun sebelum, Vira benar-benar menjauh, terdengar teriakan dari Susan.“Yang penting aku sudah mengingatkanmu.”

Kini Vira pergi menuju rumah pacarnya, sesuai janji mereka akan ketemuan di sini, untuk sekedar merayakan hari V’Day, bertukar hadiah dan entah apa cara lain yang dilakukan mereka untuk merayakan Valentine’s Day ini.

Vira memang sangat keras kepala. Ia tak mau mendengarkan apa yang dikatakan Susan, dan Pak Fauzan. Bahkan orang tuanya sendiri dibohonginya.

Vira sampai di rumah Beni, pacarnya. Keadaan rumahnya sepi, dan katanya kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota. Beni sedang sendiri di Rumah. Jadi kini hanya mereka berdua di rumah tersebut, Susan dan pacaranya tidak jadi ikut merayakan acara V’Day ini.

******

Hari sudah malam, tapi Vira tidak kunjung pulang, kedua orang tuanya terutama mamanya semakin gelisah. Padahal tadi Vira sudah berjanji akan pulang sebelum Maghrib. Kedua orang tuanya berusaha mencari tahu, dengan menelpon beberapa teman Vira. Tapi sayang, sudah banyak temannya yang dihubungi, tapi tidak ada yang mengetahui keadaan Vira.

Keesokan Harinya, Vira belum saja pulang. Kini seluruh keluarganya semakin cemas. Tak tahu dimana keberadaan Vira dan apa yang sedang terjadi padanya sehingga tidak kunjung pulang.

Di Sekolahnya pun tidak ada, semua nya sedang cemas, termasuk teman-teman dan pihak sekolah. Susan sudah menanyakan kepada Beni, karena setahu Susan kemarin Vira pergi Ke rumah Beni. Namun Beni juga mengaku tidak tahu mengenai keadaan Vira. Menurutnya kemarin Vira pulang dari rumahnya sekitar jam setengah enam.

Hari ke-dua ada kabar ditemukannya mayat perempuan hanyut di sungai. Dan tidak salah lagi, setelah di periksa, mayat tersebut adalah mayat Vira. Orang tua Vira menangis histeris, mereka tak menduga putrinya akan berakhir seperti ini, mereka masih tidak percaya. Keadaannya sangat mengenaskan, ada banyak luka bacokan, dan tubuhnya sudah membusuk.

Kemudian adik vira menceritakan mengenai mimpi yang pernah dialami Vira di siang bolong itu. Mimpi yang aneh, berada di sebuah ruangan serba merah jambu dengan motif love yang memenuhinya , kemudian di sebuah taman mengerikan, kemudian tempat yang berpindah-pindah. Dan mungkin inilah maksud mimpi itu.

Mama Vira sangat terpukul dan menyesal karena telah membiarkan anaknya pergi sore kemarin, seharusnya ia melarangnya, seharusnya ia tahu kebohongan Vira, seharusnya ia mengetahui pergaulan Vira, seharusnya… seharusnyaa.. Banyak sekali kata ‘seharusnya’. Kata yang hanya memberatkan penyesalan. Menyesal memang selalu di akhir.

“Seandainya aku tidak membiarkan Vira pergi kemarin sore.” Mama Vira bersuara pelan, menyesali kelalaiannya. ‘Seandainya’, itu merupakan sebuah kata yang selalu keluar setelah terjadinya penyesalan. Kata yang tidak akan bisa menyelesaikan penyesalan, namun sudah cukup untuk menegaskan kesalahannya.

Kemudian, polisi pun meyelediki lebih jauh mengenai kematian ini. Apa penyebabnya dan siapa pelakunya.

Pada Hari Rabu, 17 Februari. Di sebuah surat kabar sudah terpampang sebuah berita

“Vira, mayat gadis ini ditemukan oleh salah satu warga Desa ‘Noname’ dengan keadaan yang sudah sangat mengenaskan. Diduga gadis ini dibunuh oleh pacarnya karena menolak ajakan sang pacar untuk melakukan hubungan seks di hari Valentine’s Day.”

Itulah yang sebenarnya terjadi. Tapi sayang, laporan dalam surat kabar tersebut kurang lengkap. Karena seharusnya di depan kalimat tersebut ditulis, “Gara-Gara Merayakan Valentine’s Day.”

ahmad khoirul anam---@anamsharing

Gara-Gara V’Day (cerpen)

Vira tertunduk lesu di kursi belakang, merebahkan kepalanya di atas meja, bersembunyi di belakang kepala teman-temannya agar Pak Fauzan yang sedang menjelaskan di depan tidak melihatnya. Seperti biasa, ia tidak pernah bersemangat mengikuti pelajaran agama yang diajarkan Pak Fauzan ini. Apalagi ini adalah jam pelajaran terakhir, seluruh semangatnya sudah terkuras dan menyisakkan rasa kantuk. Untungnya letak kursinya di belakang, sehingga kecil kemungkinan Pak Fauzan dapat melihatnya.

Dilihatya jam dinding kelas, 20 menit lagi waktunya pulang. Ia tak sabar untuk segera pulang dan meninggalkan tempat membosankan ini. Entah mengapa Vira begitu benci pelajaran agama, baginya semua yang dibicarkan Pak Fauzan hanyalah omong kosong. Belum lagi saat ini Pak Fauzan sedang menjelaskan mengenai Valentine’s Day. “Dasar, guru sok tahu!” Gerutunya dalam hati.

V’Day Haram, V’Day budaya kafir, V’Day tak boleh dirayakan, jangan rayakan V’Day. Sekilas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Fauzan ini sangat menyesakkan pikiran Vira. Semua yang dijelaskan Pak Fauzan hanya sekilas lewat di pikiran Vira dan kemudian keluar lagi. Pikirannya tidak mau lagi menampung semua omong kosong dari Pak Fauzan.

“Ah, omong kosong.” Vira menggerutu lagi dengan pelan, yang hanya didengar olehnya sendiri.

“Ssst, nggak boleh gitu.” Ternyata Rina mendengarkan ucapan Vira barusan.

Namun Vira tidak peduli, ia diam saja mendengar tanggapan Rina.

Bel berbunyi, semua siswa terlihat berhamburan keluar, seperti kerumunan semut yang sarangnya baru saja dihancurkan. Namun tidak untuk kelas 9a, mereka masih di dalam kelas. Seperti biasa Pak Fauzan selalu mengajar hingga lewat waktuya, kadang-kadang lewat 10 menit, 15 menit, bahkan sampai 20 menit. Itulah mengapa banyak murid yang tidak suka dengan pelajarannya.

“Sial, kapan pulangnya!” GerutuVira dengan pelan.

Kali ini ,Rina, teman sebangku Vira, hanya berani memandangi temannya itu, tak berani berkomentar lagi. Ia tahu dengan sifat Vira yang keras kepala, tak pernah mau mendengar nasihat apalagi komentar orang lain. Malah seringkali ia malah marah jika ada teman yang menasehatinya.

Dan sekarang sepertinya Pak Fauzan sudah hampir usai ceramah, penekanan kata ‘jadi ‘ di depan kalimatnya menunjukkan bahwa ia sedang memberi kesimpulan akhir dari ceramahnya.

“Jadi, ingat ya siswa-siswi semua. Jangan pernah ikut-ikutan merayakan yang namanya Valentine’s Day. Karena Islam melarang kita untuk menyerupai budaya kafir, dan ingat Valentine’s Day itu haram.” Ucap Pak Fauzan dengan nada yang semakin tinggi.

Ternyata benar, Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Fauzan itu mengakhiri pelajaran agama siang ini, 10 Menit setelah bel berbunyi, barulah mereka pulang. Semua siswa keluar kelas dengan berdesak-desakan, berusaha keluar lebih dulu, seakan takut ketinggalan kereta.

Rumah Vira tidak jauh dari sekolahnya, mungkin sekitar 200 Meter dari sekolahnya. Dengan berjalan kaki dapat sampai kurang dari 5 menit. Dalam perjalanan pulang, ia tampak berbincang-bincang dengan salah satu temannya.

“Gimana, Besok jadi kan?” Tanya Vira kepada Susan, salah satu teman akrabnya.

“Kayaknya, besok aku nggak jadi ikut deh.”

“Kenapa?” Tanya Vira lagi.

Susan memilih menggelengkan kepala, tidak mau memberi alasan untuk pertanyaan ‘kenapa’ yang dilontarkan Vira barusan.

“Kamu harus ikut dong, kan kamu yang ngajak, nggak seru kalo nggak ada kamu!” sedikit pujian dari Vira, dicampur sedikit harapan yang terlihat dari raut wajahnya membuat Susan sepertinya semakin ragu dengan pilihannya.

“Besok deh lihatnya.” Jawab Susan dengan sangat ragu, sampai-sampai suaranya tak bernada, hanya datar, sedatar permukaan setrika.

“Nah gitu dong, besok ya, di rumah Beni.” Ucap Vira dengan sedikit berteriak dan melambaikan tangannya ke arah Susan, ia sudah tidak berada di sebelah sebelah Susan lagi, barusan ada pertigaan yang memisahkan mereka.

*****

Seperti biasa, Vira hanya bermalas-malasan di rumah, nonton TV sambil baring dan sambil SMS-an. Vira memang pemalas, orang tuanya sering kali memarahinya karena bermalas-malasan di depan TV, jarang sekali mau mebantu orang tuanya, sangat jauh berbeda dengan kedua adik perempuannya yang tak semalas Vira, bahkan adiknya sagat rajin.

Berulangkali ia memindah-mindah channel TV nya, mungkin ia belum menemukan acara yang ia cari, atau mungkin ia sedang mencari acara yang cocok dengan seleranya. Tapi nampaknya ia belum juga menemukannya.

“Bete, dimana-mana ceramah!” Vira kesal. Tak ada acara TV yang pas.

Wajar saja banyak acara ceramah di TV, besok tanggal 14 Februari, hari Valentine’s Day. Meskipun banyak anak remaja yang menunggu-nunggu hari tersebut, tapi banyak juga pihak-pihak yang mengadakan acara anti Valentine’s Day. Dan Vira adalah orang yang mengikuti golongan pertama, yaitu remaja yang menunggu hari Kasih Sayang tersebut.

Vira mematikan TV dan kemudian melemparkan remote nya ke arah sofa disebelahnya. Kini tidak ada yang dapat ia lakukan. Bukan tidak ada, tapi tidak mau, sebenarnya ada banyak hal yang dapat ia lakukan, seperti mengerjakan PR, membantu ibunya membuat kue, dan masih banyak lagi. Tapi Vira adalah tipe orang yang pemalas, tidak mungkin ia mau merelakan sedikit waktunya untuk hal yang ia anggap tidak berguna.

Ia tetap berbaring di sofa panjang di depan TV yang sudah tidak bercahaya. Matanya semakin redup, tatapannya semakin kosong, wajahnya semakin sendu, mungkin sedang melamun. Dan tiba-tiba…

*****

Vira masuk ke dalam sebuah dimensi yang entah dimana itu. yang pasti ia sedang berada di sebuah ruangan yang ia sendiri tidak tahu, ruangan apa itu ? ruangan yang tidak terlalu luas, berwarna merah jambu dengan motif Love yang memenuhi ruangan, Vira mulai memperhatikan lebih detail rumah tersebut. Tapi aneh, baru saja ia ingin melihat lebih jauh lagi. Tiba-tiba ia seperti berpindah ke sebuah dimensi yang lain lagi.

Kini ia malah berada di sebuah taman indah, taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga indah dan wangi. Tapi kenapa? Ada yang aneh, bunga-bunga terus saja bertaburan dari atas, seperti sebuah hujan, hujan bunga. Ada yang tidak beres, tidak mungkin ada hujan seperti ini. Vira gelisah, ia bingung dengan apa yang telah terjadi. Bunga-bunga tersebut semakin lama semakin banyak. Dan semakin berat, hingga pada suatu titik dimana bunga tersebut terasa seperti batu, berjatuhan dari atas dan menghantam tubuhnya. Sakit sekali.

Vira takut dan berteriak sekuat-kuatnya sampai tenggorokannnya terasa panas dan terbakar, tapi tak ada suara apapun selain suara lirih helaan napasnya dan suara bunga yang menghantam tubuhnya, bunga yang keras.

Vira memohon kepada tuhan, agar tuhan memindahkannya, membuangnya jauh-jauh dari ruang aneh yang mengerikan ini.

Dan Allah memang pengabul doa, dengan sekejap Rina terlempar ke sebuah tempat, ke tempat yang sungguh aneh, berpindah-pindah dan terus berpindah, Vira seperti dipermainkan oleh Nasib, tenggelam ke dalam sebuah dimensi aneh yang semakin aneh, selalu berpindah dan tak tentu arahnya. Hingga akhirnya, ia pun terlempar lagi ke sebuah tempat yang sangat ia kenal, Ke tempat dimana semua keanehan ini bermula. Yaitu di atas sofa, di depan TV.

“Untung, hanya mimpi.” Ucap Vira dengan melepas lega, dengan napas yang masih ngos-ngosan. Mungkin mimpi itu terasa sangat melelahkan.

Dan dilihatnya, adiknya sudah berada di pinggirnya.

“Kenapa teriak-teriak Kak?” tanya sang adik.

“Cuma mimpi.”

“Mimpi apa?”

Tak mau membiarkan adiknya penasaran, Vira menceritakan mempinya tersebut kepada adiknya.

Sungguh aneh, mimpi di siang bolong. Mimpi yang sama sekali tidak logis.

******

Matahari sudah menyerahkan tugasnya kepada rembulan. Di malam yang cerah ini, Vira berniat untuk pergi ke sebuah Mall. Ia ingin membeli sesuatu untuk merayakan Valentine’s Day esok hari seperti yang sudah ia bicarakan dengan Susan siang tadi. Meski susan sendiri belum pasti akan dapat ikut dalam acara itu.

Dengan mengendarai motornya, Vira pergi ke salah satu mall besar. Tujuannya tidak lain hanya untuk membeli barang untuk dihadiahkan kepada pacaranya esok, di hari Valenteine’s Day. Sesampai nya di mall, ia langsung menuju salah satu toko yang sepertinya menyediakan apa yang ia cari.

Suasana Mall sangat beda dengan biasanya, dipenuhi hiasan serba merah jambu, dan serba love. Ini semua mungkin adalah bentuk penyambutan Valentine’s Day.

Dan tak perlu butuh waktu lama Vira sudah keluar dari mall membawa barang yang ia cari. Kue coklat berbentuk love sudah berhasil ia temukan. Kue yang rencananya akan ia berikan kepada pacarnya esok pada perayaan Valentine’s Day.

Vira langsung pulang, sudak tidak ada mood lagi untuk jalan-jalan. Tiba-tiba perasaannya semakin tidak enak, padahal barang yang dicari sudah ditangannya. Tapi entah mengapa perasaan berubah jadi tak karuan setelah membayar di kasir, ia teringat kembali mimpi siang tadi, mimpi yang baginya sangat mengerikan. Dan kali ini mimpi itu tiba-tiba saja kembali terlintas saat ia melihat kue coklat berbentuk love itu.

Lupakan semua itu. Vira berusaha membuang perasaan tidak karuan itu, ia tak mau larut semakin dalam karena memikirkan mimpi siang tadi, ia berusaha melupakannya dan langsung pulang.

******

Matahari baru saja bangun, menyinari bumi yang gelap menjadi terang-benderang dengan diselimuti suara kicauan burung pagi ini. Hari yang begitu cerah, sesuai harapan bagi kebanyakan remaja. Mungkin hari ini akan terjadi banyak kemaksiatan, kemaksiatan yang dilakukan oleh para remaja yang keliru menafsirkan hari ini.

Hari ini Vira sangat bersemangat, ini adalah salah satu hari yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Bukan sekedar karena ini Hari Minggu, tapi karena hari ini adalah hari ‘Kasih Sayang’. Ia tidak sabar untuk bertukar hadiah dengan pacarnya. Selain itu, pada hari ini juga ia akan mengadakan acara perayaan di rumah pacarnya.

Sore harinya, Vira mengendap-endap keluar rumah, agar kedua orang tuanya tidak mengetahui kepergiannya. Sore ini ia akan mengunjungi rumah pacarnya, dan tidak lupa ia membawa hadiah yang sudah dipersiapkannya. Tapi se-persekian senti lagi menuju pintu depan, mamanya mengagetkannya.

“Mau kemana kamu?”

“emm, mau ke rumah teman.” Jawab Vira dengan gugup.

“Ngapain sore-sore gini ke rumah teman?”

“emm, ada tugas kelompok.” Vira menjawab dengan nada cepat.

“Bener...”

Vira mengangguk sambil sedikit bersuara, “emm”. Mungkin Vira harus tahu bahwa kata ‘emm’ itu tidak ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata itu malah akan membuat mamanya semakin curiga.

Tapi untung, mamanya adalah orang yang tidak mudah curiga, ia percaya dengan ucapan anaknya itu, lagipula jika kemauan Vira tidak dituruti, biasanya Vira akan ngambek dan marah hingga berhari-hari. Dan mamanya tidak mau membiarkan Vira ngambek lagi seperti yang sudah sering terjadi.

“Iingat, Sebelum Maghrib sudah harus sampai di rumah!” tegas mama Vira

Vira segera berangkat, sebelum mamanya berkata-kata lagi, takut kalau mamanya dengan tiba-tiba mempertimbangkan lagi keputusannya.

Sekrang baru jam 4 sore, Vira mulai pergi ke rumah Susan, untuk menjemputnya ke acara yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Vira mengendarai motornya sedikit kencang menuju rumah Susan. Rumahnya tidak terlalau jauh, 5 menit jika menggunakan motor, namun jika berjalan kaki cukup jauh.

Benar, tidak sampai 5 menit, Vira sampai di depan rumah Susan, dan ternyata Susan sudah menunggu di pinggri jalan, mungkin ia tahu Vira akan menemuinya. Dan seakan sudah tahu tujuan Vira, Susan langsung saja menjawab sebelum Vira bertanya. “Maaf Vir, aku nggak ikut.”

“kenapa ?” pertanyaan itu kembali terdengar. Tapi kali ini, Susan menjelaskan alasannya.

“Kamu lupa? Pak Fauzan kan pernah melarang kita merayakan V’Day.” Jawab Susan.

“Jadi kamu percaya dengan ucapan Pak Fauzan?”

“Kenapa tidak, Pak Fauzan juga pernah bilang, V’Day itu budaya Kafir, dan haram bagi Umat Islam mengikutinya, apalagi merayakannya, aku nggak mau dapat dosa.” Susan menjelaskan.

“Ah, kamu percaya aja sama guru sok tahu itu.” Tangkis Vira.

“Ya udah kalo kamu nggak percaya, yang pasti aku nggak mau ikut.”

“Eh, Pak Fauzan itu Cuma sok tahu, lagi pula V’Day kan hari kasih sayang, masa nggak boleh dirayakan.” Vira tak mau kalah. Ia memang keras kepala, tapi tak sekeras baja.

“Tapi masalahnya, V’Day itu kan budaya kafir, dan siapa bilang V’Day itu hari kasih sayang, dulu V’Day adalah ritual penyembahan orang kafir. Jadi haram hukumnya bagi Umat Islam, lebih baik kamu juga jangan ikut-ikutan Vir.” Jawab Susan.

“Aku tidak percaya dengan pimikiran bodoh itu, kalau gitu aku sendiri saja yang berangkat kalo kamu nggak mau.” Jawab Vira dengan sedikit marah. Kemudian ia langsung menyalakan motornya dan pergi meninggalkan rumah Susan.

Namun sebelum, Vira benar-benar menjauh, terdengar teriakan dari Susan.“Yang penting aku sudah mengingatkanmu.”

Kini Vira pergi menuju rumah pacarnya, sesuai janji mereka akan ketemuan di sini, untuk sekedar merayakan hari V’Day, bertukar hadiah dan entah apa cara lain yang dilakukan mereka untuk merayakan Valentine’s Day ini.

Vira memang sangat keras kepala. Ia tak mau mendengarkan apa yang dikatakan Susan, dan Pak Fauzan. Bahkan orang tuanya sendiri dibohonginya.

Vira sampai di rumah Beni, pacarnya. Keadaan rumahnya sepi, dan katanya kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota. Beni sedang sendiri di Rumah. Jadi kini hanya mereka berdua di rumah tersebut, Susan dan pacaranya tidak jadi ikut merayakan acara V’Day ini.

******

Hari sudah malam, tapi Vira tidak kunjung pulang, kedua orang tuanya terutama mamanya semakin gelisah. Padahal tadi Vira sudah berjanji akan pulang sebelum Maghrib. Kedua orang tuanya berusaha mencari tahu, dengan menelpon beberapa teman Vira. Tapi sayang, sudah banyak temannya yang dihubungi, tapi tidak ada yang mengetahui keadaan Vira.

Keesokan Harinya, Vira belum saja pulang. Kini seluruh keluarganya semakin cemas. Tak tahu dimana keberadaan Vira dan apa yang sedang terjadi padanya sehingga tidak kunjung pulang.

Di Sekolahnya pun tidak ada, semua nya sedang cemas, termasuk teman-teman dan pihak sekolah. Susan sudah menanyakan kepada Beni, karena setahu Susan kemarin Vira pergi Ke rumah Beni. Namun Beni juga mengaku tidak tahu mengenai keadaan Vira. Menurutnya kemarin Vira pulang dari rumahnya sekitar jam setengah enam.

Hari ke-dua ada kabar ditemukannya mayat perempuan hanyut di sungai. Dan tidak salah lagi, setelah di periksa, mayat tersebut adalah mayat Vira. Orang tua Vira menangis histeris, mereka tak menduga putrinya akan berakhir seperti ini, mereka masih tidak percaya. Keadaannya sangat mengenaskan, ada banyak luka bacokan, dan tubuhnya sudah membusuk.

Kemudian adik vira menceritakan mengenai mimpi yang pernah dialami Vira di siang bolong itu. Mimpi yang aneh, berada di sebuah ruangan serba merah jambu dengan motif love yang memenuhinya , kemudian di sebuah taman mengerikan, kemudian tempat yang berpindah-pindah. Dan mungkin inilah maksud mimpi itu.

Mama Vira sangat terpukul dan menyesal karena telah membiarkan anaknya pergi sore kemarin, seharusnya ia melarangnya, seharusnya ia tahu kebohongan Vira, seharusnya ia mengetahui pergaulan Vira, seharusnya… seharusnyaa.. Banyak sekali kata ‘seharusnya’. Kata yang hanya memberatkan penyesalan. Menyesal memang selalu di akhir.

“Seandainya aku tidak membiarkan Vira pergi kemarin sore.” Mama Vira bersuara pelan, menyesali kelalaiannya. ‘Seandainya’, itu merupakan sebuah kata yang selalu keluar setelah terjadinya penyesalan. Kata yang tidak akan bisa menyelesaikan penyesalan, namun sudah cukup untuk menegaskan kesalahannya.

Kemudian, polisi pun meyelediki lebih jauh mengenai kematian ini. Apa penyebabnya dan siapa pelakunya.

Pada Hari Rabu, 17 Februari. Di sebuah surat kabar sudah terpampang sebuah berita

“Vira, mayat gadis ini ditemukan oleh salah satu warga Desa ‘Noname’ dengan keadaan yang sudah sangat mengenaskan. Diduga gadis ini dibunuh oleh pacarnya karena menolak ajakan sang pacar untuk melakukan hubungan seks di hari Valentine’s Day.”

Itulah yang sebenarnya terjadi. Tapi sayang, laporan dalam surat kabar tersebut kurang lengkap. Karena seharusnya di depan kalimat tersebut ditulis, “Gara-Gara Merayakan Valentine’s Day.”

ahmad khoirul anam---@anamsharing
Seorang pria tua mengendarai mobil tuanya, mobil yang rasanya sudah tidak layak digunakan. Hujan yang turun sedikit mengganggu penglihatannya. Berulangkali ia mengelap kaca mobil depannya yang berkabut akibat hujan.

Konsentrasinya sedikit pudar, manakala ia harus tetap fokus melihat setiap lekukan jalan yang nampak tidak jelas akibat cuaca hujan ini. Banyak anak-anak yang dengan mendadak berlarian ke tengah jalan, mencari perlindungan dari derasnya air hujan.

Mata tuanya sudah terlalu tua untuk menghadapi hal semacam ini. Pria tua itu melepas kacamatanya dan menyangkutkannya di kepalanya.

Tangan kanannya dengan lihai memainkan setir mobil, dan tangan kirinya sibuk mengelap kaca yang terus berkabut.

Di sebuah perempatan. Sesosok wanita menyebarang jalan.

Oh tidak, pria tua itu tidak melihat lampu yang menyala merah.

Sekuat tenaga pria tua itu menekan pedal rem hingga menimbulkan bunyi yang berdecit-decit. Sebuah benturan keras terjadi. Suara jeritan pun terdengar. Dan sesosok wanita barusan ditabraknya. Wanita itu terkapar di tengah jalan. Tak berdaya. Buru-buru pria tua itu, seolah tak tahu, meninggalkan wanita itu begitu saja.

Hujan semakin reda, kerumunan semakin penuh, menonton seorang wanita yang tergeletak tak berdaya di jalan. Wanita yang menjadi korban tabrak lari beberapa menit yang lalu.

ooOoo

Seorang gadis berdiri, memandangi sekitar. Memikirkan kapan semua ini bermula, kapan tepatnya ia berada di sini. Namun semua tak terjawab, ia sendiri tak menyadari mengapa dirinya berada di tempat sunyi ini. Sudah terlalu jauh ia menelusuri memori ingatannya, tapi nampaknya tak tercatat di kepalanya.

“Apa yang sedang kau lihat?”

Gadis berumur 20 tahun itu buru-buru menoleh. Seseorang baru saja menepuk pundaknya dengan amat lembut. Seseorang yang juga menegurnya dengan sebuah pertanyaan. Seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal. Pria itu tersenyum hangat kepadanya, sehangat matahari senja ini.

Gadis itu hanya menatap lekat wajah pria yang barusan menepuknya, dalam pikirannya barangkali tak ada ruang untuk memikirkan jawaban yang akan ia lontarkan dari pertanyaan pria yang tak dikenalnya itu. Kepalanya sudah terlanjur dipenuhi oleh pertanyaan Siapa?

“Kau tak perlu tahu siapa aku, karena kau tak akan pernah mengeti.” Seakan tahu isi pikiran sang gadis, pria itu langsung saja melontarkan satu pernyataan membingungkan, peryataan yang diucapkan dengan amat ramah.

“Apakah kau mengenalku?” Sang GAdis penasaran dengan pria ramah itu, ia berharap pria itu memberikan jawaban untuk mengobati rasa penasarannya.

“Jangan tanyakan itu, kau tak akan pernah mengerti.” Pria tak dikenal itu menjawab dengan senyuman, begitu ramah. Wajahnya terlihat seolah bercahaya oleh gurat kearifan. Matanya yang bulat, cokalat, menatap akrab. Ia mengenakan baju putih yang aneh. Seperti jubah.

“Lihatlah tempat ini, bukankah sangat indah?” Pria itu bicara lagi, begitu ramah.

Sang gadis melepaskan pandangannya, menikmati tempat yang memang sangat indah. Sebuah taman di pusat kota, tempat ia biasa menghabiskan senjanya bersama teman-temannya. Hanya saja, sore ini ia begitu bingung, kenapa dirinya ada di sini.

Sore yang terasa begitu aneh. Pria ramah yang misterius, dan kesunyian ini. Kesunyian? Bukankah pengunjung taman ini ramai, saling bercanda, bersenda gurau. Tetapi mengapa senja ini terasa sunyi baginya. Dan, bukankah dari tadi gadis itu berdiri di taman ini, namun kenapa tidak ada seorangpun yang menghirukannya, semua lewat begitu saja, menembus tubuhnya tanpa bisa menyentuhnya.

Gadis muda itu benar-benar bingung, ia merasa dirinya seperi hantu, tak bisa menyentuh dan tersentuh apapun. Tak ada orang yang bisa melihatnya, kecuali pria ramah itu. Apakah ia juga hantu?

“Apa yang terjadi, apakah aku sudah mati? Apakah aku hantu?” Sang gadis bertanya kepada pria ramah itu, sembari melihat ke bawah. Kedua kakinya tidak menapak tanah.

“Kau akan tahu setelah kau mengikutiku?” Seperti biasa jawabannya begitu ramah.

Pria itu menarik tangan sang gadis, dan tiba-tiba gadis itu merasakan tubuhnya tersedot memasuki kumparan penuh cahaya, kumparan yang begitu menyilaukan. Dan, sekonyong-konyong dirinya dan pria ramah itu sudah tidak berada di taman tersebut, kini mereka berada di sebuah jalan besar, berdiri di tengah-tengah keramaian orang. Kendaraan yang berlalu lalang, sama sekali tak bisa menyentuh kedua tubuh itu. Mereka benar-benar seperti makhluk halus.

Gadis muda itu sangat mengenali jalan ini, jalan yang mengingatkannya pada satu kejadian yang pernah dialaminya. Tapi apa? Ia tak dapat mengingatnya.

Seosok wanita terlihat terkapar di jalan itu.

Gadis itu menatap pria ramah yang berdiri di sampingnya. “Bukankah itu aku? Apakah aku sudah mati?” Ia bertanya kepada pria ramah yang berdiri di sebelahnya, jarinya menunjuk ke sosok wanita yang terkapar di jalan.

“Itu benar kau.” Sang pria menjawab dengan akrab, bibirnya melebar, memasang senyuman hangat. Hanya saja ia tidak menjawab pertanyaan kedua dari gadis yang kini sedang berdiri di sebelahnya.

Titikan air pun keluar dari matanya, gadis itu menangis, menatap jasad dirinya yang tergeletak di jalan, tak berdaya. Kematian dan musibah selalu menyedihkan dan menakutkan.

“Kenapa kau menangis, apakah kau belum siap jika Allah memanggilmu?” Pria misterius bertanya dengan ramah. Namun pertanyaannya sungguh menusuk, begitu runcing, telak mengenai hati sang gadis.

“Apakah kau malaikat yang menjemputku, dan apakah aku akan masuk surga?” Gadis muda itu malah balik bertanya. Ia semakin tidak mengerti, dan semakin takut. Maka ia ingin membuat hatinya tenang dengan pertanyaan itu, jika saja jawabannya sesuai dengan harapannya. Karena surga selalu menjadi tujuan setiap orang.

“Kau tak perlu tahu siapa aku?” Pria misterius itu masih saja merahasiakannya, pria ramah yang mengenakan baju putih aneh, seperti jubah. “Dan ketahuilah, surga tak akan menerima orang sepertimu.” Lanjutnya.

Sang gadis bergetar mendengar jawaban itu, terdengar begitu mengerikan. Terlalu berat ia menerima jawaban mengerikan itu, “kenapa?” Tanya gadis lagi.

Kesunyian tercipta. Keduanya sama-sama memandangi sesosok wanita yang tergeletak di jalan itu.

“Lihatlah dirimu, kau bahkan tak mau menutup auratmu.” Mata pria menatap fokus ke arah wanita yang terbaring di jalan itu. Wanita yang juga sedang berdiri di sebelahnya.

Dan gadis itupun melihat dirinya, yang hanya mengenakan baju ketat, celana pendek. Baju yang sama sekali tidak layak digunakan sebagai seorang muslimah.

“Bagiamana mungkin surga akan menerima seorang yang juga pembunuh.” Pria ramah yang misterius berbicara lagi, namun kini ia tidak terlihat ramah lagi, perkataannya begitu menyayat, matanya semakin tajam.

“Pembunuh? Aku bukan pembunuh.” Terdengar keras sang gadis mengatakan itu, seolah membuktikan pria yang sedang berdiri di sebelahnya telah salah.

“Tapi karena kau, seorang telah terbunuh.” Dengan cepat pria misterius membalasnya. Tak nampak sama sekali wajah ramah yang tadi sempat ia pasang, kini pria itu malah terlihat begitu kejam, dengan matanya yang menatap semakin tajam.

“Apa maksudmu? tolong jelaskan!” Lekat sang gadis menatap wajah pria misterius, berharap dapat menemukan jawaban di lekuk matanya.

“Baiklah, sekarang pegang tanganku!” Pria itu memberi sebuah perintah. “Aku akan membawamu ke sebuah tempat yang akan menjelaskan semuanya.”

Sesuai perintah, sang gadis memegang erat tangannya. Dan lagi-lagi, bersama pria itu, dia merasakan tubuhnya tersedot memasuki kumparan penuh cahaya, menyilaukan, sekejap semuanya jadi putih. Dan tiba-tiba ia sudah berada di tempat yang berbeda, di tepi sungai besar.

Kemudian sang gadis menatap wajah pria misterius dengan heran, ia tak mengerti, bagaimana mungkin pria itu bisa membawanya dengan sekejap ke tempat ini. Apakah ia benar-benar malaikat? Dan apakah gadis itu benar-benar sudah mati?

Di tepi sungai besar ini, orang-orang ramai berlalu lalang, namun tak akan menyadari keberadaan mereka berdua. Keduanya kini berdiri di sebuah pendopo tepi sungai besar, setelah sebelumnya mereka sempat berada di sebuah jalan raya, melihat jasad sang gadis yang tak berdaya. Keduanya berdiri, menatap senja yang indah.

“Untuk apa kau bawa aku ke tempat ini?” Matanya masih saja memandangi sekitar, memastikan tempat ini benar-benar nyata.

“Ingatkah kau, senja itu, saat kau menghabiskan waktumu di tempat ini?” Seperti mengetahui segalanya, pria misterius bertanya sekaligus mengingatkan gadis muda itu.

“Tentu aku ingat , lalu?” gadis muda masih belum bisa menebak apa yang akan sang pria ungkapkan dari tempat ini. Nampaknya suatu hal yang sangat penting.

“Tahukah kau, sore itu, seorang anak terbunuh karena kau!” Mengerikan sang pria misterius mengucapkannya.

“Apa maksudmu?” Penasaran semakin membuncah. Apa maksud pria misterius itu? Bukankah sore itu, sang gadis tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk santai, menikmati suasana senja dengan menatap indahnya detik-detik terbenamnya matahari. Kepalanya kini penuh dengan pertanyaan.

“Kau memang tak menyadarinya. Tapi aku akan ceritakan satu fakta untukmu.” Setelah kalimat itu diucapkan, kesunyian sempat tercipta. Keduanya hanya diam, saling memandang. Dan suara gemuruh ombak sungai, masih menjadi backsound di tengah kesunyian mereka.

Kemudian pria misterius melanjutkan. “Ingatlah senja itu saat kau di tempat ini, bukankah kau mengenakan pakaian yang sangat minim?”

Sang gadis mengangguk pelan, berusaha mengingat kembali momen lamanya itu.

“Kau mengenakan baju yang hanya setinggi dada, dan celana pendek yang tak sampai menutup pahamu.” Pria misterius itu berusaha mengingatkan kembali semua yang telah terjadi. Sementara gadis muda hanya mendengarkan, kini ia benar-benar ingat kejadian saat itu, keadaaannya persis dengan yang diceritakan sang pria misterius. Bagaimana pria itu bisa tahu?

“Dan saat itu kau tidak sadar, bahwa ada seorang lelaki yang berulang kali memandangimu, melihat auratmu yang kau buka itu.” Suasana semakin mencekam, setiap kata yang diucapkan sang pria membuat gadis itu tertunduk. Tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali hanya mendengar.

“Dan tahukah kau, pakaian minim yang kau gunakan itu, ternyata mengundang nafsu syahwat lelaki itu. Dan keadaan jauh lebih buruk dari itu.” Pria misterius menghentikan tuturnya, matanya menatap tajam wanita di hadapannya itu, seperti baru saja mengutuknya.

“Lalu apa?” Sang gadis semakin penasaran, tak sabar ingin mengetahui fakta sebenarnya.

“Lalu, lelaki itu pulang ke rumah, dan melampiaskan nafsunya itu kepada anak perempuannya. Yang masih Kecil.” Nadanya semakin tinggi.

Sang gadis hanya terdiam, berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan pria itu barusan. Wajahnya tertunduk, mulai menyadari kesalahannya saat itu, saat ia mengenakan pakaian minim. Sang gadis benar-benar tidak mengira, semua seburuk itu, akibat kesalahannya.

“Dan lebih buruk lagi dari itu!” Bagaikan petir, suaranya menggelegar.

“Apa?” Sang gadis penasaran.

“Kemudian, setelah melampiaskan nafsunya kepada anaknya itu, lelaki itu lalu membunuh anaknya. Yang masih kecil.” Lagi-lagi diakhiri dengan kalimat yang sama, gadis itu merasa seperti ada yang menyayat hatinya barusan, begitu pedih. Andai saat itu ia menyadarinya, betapa buruknya keadaan sebenarnya.

“Dan kau tahu, kau lah penyebab semua itu.” Pria misterius itu nampak semakin kejam dengan ucapannya barusan, sorot matanya tajam, dahinya mengerut, wajahnya sangat mengerikan. Baru saja ia menetapkan sang gadis menjadi pelaku.

Gadis muda hanya menangis, menyadari semua kesalahannya itu. Ia benar-benar menyesal. Gara-gara pakaian minimnya itu, seorang anak kecil terbunuh. Ini terlalu berat untuk menjadi kenyataan.

Tapi, bagaimana mungkin pria misterius mengetahui kejadian tersebut. Mungkinkah ia benar-benar seorang malaikat yang akan menjemput gadis itu.

Sementara sang gadis masih belum percaya kesalahannya hingga sebesar itu. “Kemana kau akan membawaku lagi?” Sang gadis benar-benar pasrah, semua telah menjadi penyesalan. “Apakah kau akan membawaku ke neraka?”

Belum sempat pria misterius itu menjawab, tiba-tiba saja sosoknya menghilang, untuk yang ketiga kalinya, pria itu masuk ke dalam kumparan penuh cahaya. Kemudian menghilang, tersedot ke dalamnya. Dengan meninggalkan kalimat terakhirnya, “Aku bukan malaikat.”

Namun, sebelum kumparan itu lenyap, gadis muda itu ikut masuk ke dalam kumparan menyialukan itu. Dan, semua menjadi putih, entah dimana ia kini. Ruang lengang yang mencekam, serba putih.

ooOoo

Gadis 20 tahun itu membuka matanya, perlahan. Semua masih terlihat buram, silau oleh lampu malam. Lampu? Dimanakah ia kini, bukankah tadi ia masuk ke dalam sebuah kumparan yang menyilaukan. Dan lihatlah, banyak orang disekelilingnya. Ada apa ini?

“Ia sudah bangun!” Salah seorang mengatakan hal itu, dengan nada gembira. Entah siapa, seseorang yang tidak ia kenal.

“Kau sekarang di rumah sakit nak.” Suara ini begitu akrab. Ya, itu adalah ibunya.

Tapi, kenapa ia berada di rumah sakit ini. Bukankah terakhir ia mendapati dirinya mati, dengan jasad yang tergeletak tak berdaya di jalan itu. Bukankah ia sudah mati.

Gadis itu berusaha menelusuri ingatannya, mengingat kembali semua yang terjadi sebelum ia berada di rumah sakit ini. Dan ingat, sang gadis benar-benar ingat kejadian itu, sebuah mobil telah menabraknya di perempatan ketika ia menyebarang saat lampu merah menyala.

Tapi, ada ingatannya yang terasa begitu ganjil. Lalu, bagaimana dengan pria misterius itu? dan semua ceritanya. Pertanyaan baru muncul.

Pria misterius itu, kumparan cahaya itu, teryata hanya mimpi. Semua pesan dalam mimpi itu, begitu lekat dalam kepalanya. Kini gadis itu menyadari semua kesalahannya selama ini. Mimpi yang begitu nyata, membuatnya berpikir dirinya sudah mati.

Kemudian gadis itu menatap ke atas, dilihatnya lampu terang di rumah sakit itu, nampak seperti sebuah kumparan terang dalam mimpinya.

Bogor, 2 April 2013

Ahmad Khoirul Anam

Pria Misterius (cerpen)

Seorang pria tua mengendarai mobil tuanya, mobil yang rasanya sudah tidak layak digunakan. Hujan yang turun sedikit mengganggu penglihatannya. Berulangkali ia mengelap kaca mobil depannya yang berkabut akibat hujan.

Konsentrasinya sedikit pudar, manakala ia harus tetap fokus melihat setiap lekukan jalan yang nampak tidak jelas akibat cuaca hujan ini. Banyak anak-anak yang dengan mendadak berlarian ke tengah jalan, mencari perlindungan dari derasnya air hujan.

Mata tuanya sudah terlalu tua untuk menghadapi hal semacam ini. Pria tua itu melepas kacamatanya dan menyangkutkannya di kepalanya.

Tangan kanannya dengan lihai memainkan setir mobil, dan tangan kirinya sibuk mengelap kaca yang terus berkabut.

Di sebuah perempatan. Sesosok wanita menyebarang jalan.

Oh tidak, pria tua itu tidak melihat lampu yang menyala merah.

Sekuat tenaga pria tua itu menekan pedal rem hingga menimbulkan bunyi yang berdecit-decit. Sebuah benturan keras terjadi. Suara jeritan pun terdengar. Dan sesosok wanita barusan ditabraknya. Wanita itu terkapar di tengah jalan. Tak berdaya. Buru-buru pria tua itu, seolah tak tahu, meninggalkan wanita itu begitu saja.

Hujan semakin reda, kerumunan semakin penuh, menonton seorang wanita yang tergeletak tak berdaya di jalan. Wanita yang menjadi korban tabrak lari beberapa menit yang lalu.

ooOoo

Seorang gadis berdiri, memandangi sekitar. Memikirkan kapan semua ini bermula, kapan tepatnya ia berada di sini. Namun semua tak terjawab, ia sendiri tak menyadari mengapa dirinya berada di tempat sunyi ini. Sudah terlalu jauh ia menelusuri memori ingatannya, tapi nampaknya tak tercatat di kepalanya.

“Apa yang sedang kau lihat?”

Gadis berumur 20 tahun itu buru-buru menoleh. Seseorang baru saja menepuk pundaknya dengan amat lembut. Seseorang yang juga menegurnya dengan sebuah pertanyaan. Seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal. Pria itu tersenyum hangat kepadanya, sehangat matahari senja ini.

Gadis itu hanya menatap lekat wajah pria yang barusan menepuknya, dalam pikirannya barangkali tak ada ruang untuk memikirkan jawaban yang akan ia lontarkan dari pertanyaan pria yang tak dikenalnya itu. Kepalanya sudah terlanjur dipenuhi oleh pertanyaan Siapa?

“Kau tak perlu tahu siapa aku, karena kau tak akan pernah mengeti.” Seakan tahu isi pikiran sang gadis, pria itu langsung saja melontarkan satu pernyataan membingungkan, peryataan yang diucapkan dengan amat ramah.

“Apakah kau mengenalku?” Sang GAdis penasaran dengan pria ramah itu, ia berharap pria itu memberikan jawaban untuk mengobati rasa penasarannya.

“Jangan tanyakan itu, kau tak akan pernah mengerti.” Pria tak dikenal itu menjawab dengan senyuman, begitu ramah. Wajahnya terlihat seolah bercahaya oleh gurat kearifan. Matanya yang bulat, cokalat, menatap akrab. Ia mengenakan baju putih yang aneh. Seperti jubah.

“Lihatlah tempat ini, bukankah sangat indah?” Pria itu bicara lagi, begitu ramah.

Sang gadis melepaskan pandangannya, menikmati tempat yang memang sangat indah. Sebuah taman di pusat kota, tempat ia biasa menghabiskan senjanya bersama teman-temannya. Hanya saja, sore ini ia begitu bingung, kenapa dirinya ada di sini.

Sore yang terasa begitu aneh. Pria ramah yang misterius, dan kesunyian ini. Kesunyian? Bukankah pengunjung taman ini ramai, saling bercanda, bersenda gurau. Tetapi mengapa senja ini terasa sunyi baginya. Dan, bukankah dari tadi gadis itu berdiri di taman ini, namun kenapa tidak ada seorangpun yang menghirukannya, semua lewat begitu saja, menembus tubuhnya tanpa bisa menyentuhnya.

Gadis muda itu benar-benar bingung, ia merasa dirinya seperi hantu, tak bisa menyentuh dan tersentuh apapun. Tak ada orang yang bisa melihatnya, kecuali pria ramah itu. Apakah ia juga hantu?

“Apa yang terjadi, apakah aku sudah mati? Apakah aku hantu?” Sang gadis bertanya kepada pria ramah itu, sembari melihat ke bawah. Kedua kakinya tidak menapak tanah.

“Kau akan tahu setelah kau mengikutiku?” Seperti biasa jawabannya begitu ramah.

Pria itu menarik tangan sang gadis, dan tiba-tiba gadis itu merasakan tubuhnya tersedot memasuki kumparan penuh cahaya, kumparan yang begitu menyilaukan. Dan, sekonyong-konyong dirinya dan pria ramah itu sudah tidak berada di taman tersebut, kini mereka berada di sebuah jalan besar, berdiri di tengah-tengah keramaian orang. Kendaraan yang berlalu lalang, sama sekali tak bisa menyentuh kedua tubuh itu. Mereka benar-benar seperti makhluk halus.

Gadis muda itu sangat mengenali jalan ini, jalan yang mengingatkannya pada satu kejadian yang pernah dialaminya. Tapi apa? Ia tak dapat mengingatnya.

Seosok wanita terlihat terkapar di jalan itu.

Gadis itu menatap pria ramah yang berdiri di sampingnya. “Bukankah itu aku? Apakah aku sudah mati?” Ia bertanya kepada pria ramah yang berdiri di sebelahnya, jarinya menunjuk ke sosok wanita yang terkapar di jalan.

“Itu benar kau.” Sang pria menjawab dengan akrab, bibirnya melebar, memasang senyuman hangat. Hanya saja ia tidak menjawab pertanyaan kedua dari gadis yang kini sedang berdiri di sebelahnya.

Titikan air pun keluar dari matanya, gadis itu menangis, menatap jasad dirinya yang tergeletak di jalan, tak berdaya. Kematian dan musibah selalu menyedihkan dan menakutkan.

“Kenapa kau menangis, apakah kau belum siap jika Allah memanggilmu?” Pria misterius bertanya dengan ramah. Namun pertanyaannya sungguh menusuk, begitu runcing, telak mengenai hati sang gadis.

“Apakah kau malaikat yang menjemputku, dan apakah aku akan masuk surga?” Gadis muda itu malah balik bertanya. Ia semakin tidak mengerti, dan semakin takut. Maka ia ingin membuat hatinya tenang dengan pertanyaan itu, jika saja jawabannya sesuai dengan harapannya. Karena surga selalu menjadi tujuan setiap orang.

“Kau tak perlu tahu siapa aku?” Pria misterius itu masih saja merahasiakannya, pria ramah yang mengenakan baju putih aneh, seperti jubah. “Dan ketahuilah, surga tak akan menerima orang sepertimu.” Lanjutnya.

Sang gadis bergetar mendengar jawaban itu, terdengar begitu mengerikan. Terlalu berat ia menerima jawaban mengerikan itu, “kenapa?” Tanya gadis lagi.

Kesunyian tercipta. Keduanya sama-sama memandangi sesosok wanita yang tergeletak di jalan itu.

“Lihatlah dirimu, kau bahkan tak mau menutup auratmu.” Mata pria menatap fokus ke arah wanita yang terbaring di jalan itu. Wanita yang juga sedang berdiri di sebelahnya.

Dan gadis itupun melihat dirinya, yang hanya mengenakan baju ketat, celana pendek. Baju yang sama sekali tidak layak digunakan sebagai seorang muslimah.

“Bagiamana mungkin surga akan menerima seorang yang juga pembunuh.” Pria ramah yang misterius berbicara lagi, namun kini ia tidak terlihat ramah lagi, perkataannya begitu menyayat, matanya semakin tajam.

“Pembunuh? Aku bukan pembunuh.” Terdengar keras sang gadis mengatakan itu, seolah membuktikan pria yang sedang berdiri di sebelahnya telah salah.

“Tapi karena kau, seorang telah terbunuh.” Dengan cepat pria misterius membalasnya. Tak nampak sama sekali wajah ramah yang tadi sempat ia pasang, kini pria itu malah terlihat begitu kejam, dengan matanya yang menatap semakin tajam.

“Apa maksudmu? tolong jelaskan!” Lekat sang gadis menatap wajah pria misterius, berharap dapat menemukan jawaban di lekuk matanya.

“Baiklah, sekarang pegang tanganku!” Pria itu memberi sebuah perintah. “Aku akan membawamu ke sebuah tempat yang akan menjelaskan semuanya.”

Sesuai perintah, sang gadis memegang erat tangannya. Dan lagi-lagi, bersama pria itu, dia merasakan tubuhnya tersedot memasuki kumparan penuh cahaya, menyilaukan, sekejap semuanya jadi putih. Dan tiba-tiba ia sudah berada di tempat yang berbeda, di tepi sungai besar.

Kemudian sang gadis menatap wajah pria misterius dengan heran, ia tak mengerti, bagaimana mungkin pria itu bisa membawanya dengan sekejap ke tempat ini. Apakah ia benar-benar malaikat? Dan apakah gadis itu benar-benar sudah mati?

Di tepi sungai besar ini, orang-orang ramai berlalu lalang, namun tak akan menyadari keberadaan mereka berdua. Keduanya kini berdiri di sebuah pendopo tepi sungai besar, setelah sebelumnya mereka sempat berada di sebuah jalan raya, melihat jasad sang gadis yang tak berdaya. Keduanya berdiri, menatap senja yang indah.

“Untuk apa kau bawa aku ke tempat ini?” Matanya masih saja memandangi sekitar, memastikan tempat ini benar-benar nyata.

“Ingatkah kau, senja itu, saat kau menghabiskan waktumu di tempat ini?” Seperti mengetahui segalanya, pria misterius bertanya sekaligus mengingatkan gadis muda itu.

“Tentu aku ingat , lalu?” gadis muda masih belum bisa menebak apa yang akan sang pria ungkapkan dari tempat ini. Nampaknya suatu hal yang sangat penting.

“Tahukah kau, sore itu, seorang anak terbunuh karena kau!” Mengerikan sang pria misterius mengucapkannya.

“Apa maksudmu?” Penasaran semakin membuncah. Apa maksud pria misterius itu? Bukankah sore itu, sang gadis tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk santai, menikmati suasana senja dengan menatap indahnya detik-detik terbenamnya matahari. Kepalanya kini penuh dengan pertanyaan.

“Kau memang tak menyadarinya. Tapi aku akan ceritakan satu fakta untukmu.” Setelah kalimat itu diucapkan, kesunyian sempat tercipta. Keduanya hanya diam, saling memandang. Dan suara gemuruh ombak sungai, masih menjadi backsound di tengah kesunyian mereka.

Kemudian pria misterius melanjutkan. “Ingatlah senja itu saat kau di tempat ini, bukankah kau mengenakan pakaian yang sangat minim?”

Sang gadis mengangguk pelan, berusaha mengingat kembali momen lamanya itu.

“Kau mengenakan baju yang hanya setinggi dada, dan celana pendek yang tak sampai menutup pahamu.” Pria misterius itu berusaha mengingatkan kembali semua yang telah terjadi. Sementara gadis muda hanya mendengarkan, kini ia benar-benar ingat kejadian saat itu, keadaaannya persis dengan yang diceritakan sang pria misterius. Bagaimana pria itu bisa tahu?

“Dan saat itu kau tidak sadar, bahwa ada seorang lelaki yang berulang kali memandangimu, melihat auratmu yang kau buka itu.” Suasana semakin mencekam, setiap kata yang diucapkan sang pria membuat gadis itu tertunduk. Tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali hanya mendengar.

“Dan tahukah kau, pakaian minim yang kau gunakan itu, ternyata mengundang nafsu syahwat lelaki itu. Dan keadaan jauh lebih buruk dari itu.” Pria misterius menghentikan tuturnya, matanya menatap tajam wanita di hadapannya itu, seperti baru saja mengutuknya.

“Lalu apa?” Sang gadis semakin penasaran, tak sabar ingin mengetahui fakta sebenarnya.

“Lalu, lelaki itu pulang ke rumah, dan melampiaskan nafsunya itu kepada anak perempuannya. Yang masih Kecil.” Nadanya semakin tinggi.

Sang gadis hanya terdiam, berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan pria itu barusan. Wajahnya tertunduk, mulai menyadari kesalahannya saat itu, saat ia mengenakan pakaian minim. Sang gadis benar-benar tidak mengira, semua seburuk itu, akibat kesalahannya.

“Dan lebih buruk lagi dari itu!” Bagaikan petir, suaranya menggelegar.

“Apa?” Sang gadis penasaran.

“Kemudian, setelah melampiaskan nafsunya kepada anaknya itu, lelaki itu lalu membunuh anaknya. Yang masih kecil.” Lagi-lagi diakhiri dengan kalimat yang sama, gadis itu merasa seperti ada yang menyayat hatinya barusan, begitu pedih. Andai saat itu ia menyadarinya, betapa buruknya keadaan sebenarnya.

“Dan kau tahu, kau lah penyebab semua itu.” Pria misterius itu nampak semakin kejam dengan ucapannya barusan, sorot matanya tajam, dahinya mengerut, wajahnya sangat mengerikan. Baru saja ia menetapkan sang gadis menjadi pelaku.

Gadis muda hanya menangis, menyadari semua kesalahannya itu. Ia benar-benar menyesal. Gara-gara pakaian minimnya itu, seorang anak kecil terbunuh. Ini terlalu berat untuk menjadi kenyataan.

Tapi, bagaimana mungkin pria misterius mengetahui kejadian tersebut. Mungkinkah ia benar-benar seorang malaikat yang akan menjemput gadis itu.

Sementara sang gadis masih belum percaya kesalahannya hingga sebesar itu. “Kemana kau akan membawaku lagi?” Sang gadis benar-benar pasrah, semua telah menjadi penyesalan. “Apakah kau akan membawaku ke neraka?”

Belum sempat pria misterius itu menjawab, tiba-tiba saja sosoknya menghilang, untuk yang ketiga kalinya, pria itu masuk ke dalam kumparan penuh cahaya. Kemudian menghilang, tersedot ke dalamnya. Dengan meninggalkan kalimat terakhirnya, “Aku bukan malaikat.”

Namun, sebelum kumparan itu lenyap, gadis muda itu ikut masuk ke dalam kumparan menyialukan itu. Dan, semua menjadi putih, entah dimana ia kini. Ruang lengang yang mencekam, serba putih.

ooOoo

Gadis 20 tahun itu membuka matanya, perlahan. Semua masih terlihat buram, silau oleh lampu malam. Lampu? Dimanakah ia kini, bukankah tadi ia masuk ke dalam sebuah kumparan yang menyilaukan. Dan lihatlah, banyak orang disekelilingnya. Ada apa ini?

“Ia sudah bangun!” Salah seorang mengatakan hal itu, dengan nada gembira. Entah siapa, seseorang yang tidak ia kenal.

“Kau sekarang di rumah sakit nak.” Suara ini begitu akrab. Ya, itu adalah ibunya.

Tapi, kenapa ia berada di rumah sakit ini. Bukankah terakhir ia mendapati dirinya mati, dengan jasad yang tergeletak tak berdaya di jalan itu. Bukankah ia sudah mati.

Gadis itu berusaha menelusuri ingatannya, mengingat kembali semua yang terjadi sebelum ia berada di rumah sakit ini. Dan ingat, sang gadis benar-benar ingat kejadian itu, sebuah mobil telah menabraknya di perempatan ketika ia menyebarang saat lampu merah menyala.

Tapi, ada ingatannya yang terasa begitu ganjil. Lalu, bagaimana dengan pria misterius itu? dan semua ceritanya. Pertanyaan baru muncul.

Pria misterius itu, kumparan cahaya itu, teryata hanya mimpi. Semua pesan dalam mimpi itu, begitu lekat dalam kepalanya. Kini gadis itu menyadari semua kesalahannya selama ini. Mimpi yang begitu nyata, membuatnya berpikir dirinya sudah mati.

Kemudian gadis itu menatap ke atas, dilihatnya lampu terang di rumah sakit itu, nampak seperti sebuah kumparan terang dalam mimpinya.

Bogor, 2 April 2013

Ahmad Khoirul Anam