Tampilkan postingan dengan label nonfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nonfiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013



Catatan Perjalanan ke Situ gede

Pusing. Hari-hari dengan penuh kegiatan sungguh memilukan. Kepala dipenuhi dengan segala macam urusan, tugas yang begitu banyak pun terasa menyesak di otak. Dan pikiran tak pernah bisa tenang manakala memikirkan tugas tersebut, begitu banyak.

Refreshing, adalah salah satu cara yang barangkali bisa membuat hati dan pikiran tenang, sehingga kepala pun dapat merasakan suasana senyap setelah bergelut dalam recoknya kesibukan.

Jumat, 5 April 20013. Akhirnya kami para santri Pesantren Media bisa merasakan kembali segarnya dunia luar, melupakan sejenak pikiran yang tengah gaduh. Kali ini, tujuan perjalanan kami tidak jauh, yaitu sebuah danau yang kutahu bernamu Danau Cifor, dan sekitarnya. Senang juga, mendengar berita tersebut.

Pagi hari sekitar jam 8. Dua mobil mengangkut keberangkatan kami, Mobil Panther dan Mobil Avanza. Aku dan beberapa teman ikhwan lainnya berangkat dengan menaiki Mobil Panther yang dikemudikan oleh Musa, salah satu sahabatku. Dan sisanya, menggunakan Mobil Avanza yang dikemudikan oleh Ustadz Umar sendiri.

Suasana di mobil begitu panas, dan semakin panas oleh suara Taqi dan Abdullah yang tidak bisa berhenti ngoceh. Maka, untuk mengatasi hal demikian. Hawari pun berinisiatif mengadakan suatu pelombaan.

“Semuanya Diam, yang duluan ngomong, boleh di jewer atau di jitak!” Begitulah kira-kira Hawari memulai perlombaan.

Suasana pun sunyi, tak ada yang berani berusara, kecuali akhwat. Perlombaan ‘terlama diam’ ini hanya diikuti oleh ikhwan, masing-masing ikhwan berusaha mempertahankan agar tidak bersuara. Dan cara ini ternyata ampuh untuk membuat Taqi dan Abdullah diam. Lumayan lama, kami diam dalam kesunyian, hingga akhirnya Hawari bersuara saat bertanya karena tidak tahu cara mengoperasikan radio. Kepala hawari pun dihujani jitakan dari kami semua.

Segar. Kurasakan itu saat kulihat danau yang terhampar di hadapanku. Ya, kami sampai di salah satu tempat tujuan, Danau Cifor. Airnya memang tidak jernih, dan tidak terlalu dalam. Tapi, cukuplah untuk membuat pikiranku melayang ke masa lalu. Entah mengapa, danau ini begitu mengingatkanku dengan Sungai Sekayam, sungai berukuran sedang yang bermuara ke Sungai Kapuas, terletak tidak jauh dari rumahku di Sanggau (Kalbar). Sudahlah, lupakan semua itu, nampaknya aku begitu rindu dengan kampung halaman.

Kami semua bergegas, menuju salah satu tempat yang memikat. Bebek dengan ukuran sangat besar itu sungguh membuatku ingin menaikinya. Bukan bebek sungguhan, melainkan sebuah sepeda air berbentuk bebek yang muat dinaiki 2 orang, sebut saja bebek air. Tak menunggu lama, semua ikhwan langsung membanderol dan menaiki bebek air tersebut. Satu bebek, dinaiki 2 orang, dan aku naik bersama Musa.

Sensasi yang berbeda jelas kurasakan, ini pertama kalinya aku mengayuh sepeda air, berat namun bikin ketagihan. Dengan semangat, kukayuh bebek air tersebut hingga tak terasa kami sudah berada jauh dari tepi.

Sedikit bosan, akhirnya kami para ikhwan pun mengadakan perlombaan bebek air. Perlombaan ini diikuti oleh 3 bebek peserta. Bebek pertama dikendarai oleh aku dan Musa, bebek kedua dikendarai oleh Hawari dan Yusuf. Sedangkan bebek ketiga, bukan, bukan bebek, melainkan paus yang ketiga yang diduga akan menjadi saingan berat dikendarai oleh Kak Farid, Taqi dan Abdullah. Kendaraan mereka memang berbentuk paus, berbeda dari yang lain.

Semua peserta berjajar di garis start yang telah ditentukan. Dan 1..2..3.. Pertandingan pun dimulai. Nampaknya aku dan Musa sedang bernasib buruk, bebek yang kami naiki terasa lebih berat dari bebek hawari dan Kak Farid. Padahal, sekuat tenaga aku dan Musa mengayuh bebek tersebut, namun tetap saja tidak bisa mengejar 2 peserta lain yang berada di depan. Jauh, Sungguh jauh mereka meninggalkan kami. Akhirnya, Hawari dan Yusuf pun melewati garis finish yang ditandai dengan tiang bendera putih untuk yang pertama, sedangkan kelompok Kak Farid tinggal beberapa jengkal lagi, namun aku dan Musa masih sangat jauh tertinggal.

Tapi, nampaknya Allah berkehendak untuk menjadikan kami juara 2. Beberapa senti sebelum finish, paus yang dinaki Kak Farid, Abdullah dan Taqi, tiba-tiab saja malah berbalik 90 derajat, padahal mereka sudah hampir finsih. Akhirnya, dengan kondisi tersebut, Aku dan Musa pun bisa merebut posisi dua dan mencapai garis finish terlebih dahulu dari Kelompok Kak Farid

Usai sudah jalan-jalan menelusuri danau menggunakan bebek air. Kami mendarat ke tepi, memberikan kesempatan kepada santri lain yang belum menaikinya karena jumlah bebek air yang terbatas.

Dan setelah semua merasa puas, kami semua kemudian beranjak ke mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan, Ustadz Umar meminta kami semua berbaris untuk difoto menggunakan Camera DSLR Pesantren.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju penangkaran rusa yang berada tidak jauh dari danau Cifor. Letaknya masih berada di sekitar danau tersebut. Dan kami juga sempat melihat beberapa rumah tahan gempa, is amazing. Suasana pun semakin segar saat kami memasuki daerah yang dipenuhi dengan hutan, pepohonan yang berjajar rapi dengan daun kering yang berguguran di tanah.

Kami turun di tempat itu, sebuah penangkaran Rusa. Namun mataku lebih tertarik kepada pepohonan lebat yang berada di seberang penangkaran rusa tersebut. Maka aku dan ikhwan lainnya pun mencoba mengambil dan mengabadikan beberapa moment di tempat itu. Suasana begitu dingin, sungguh tenang kurasakan dalam pikiran.

Dan, Pikiran itu kembali. Kembali aku melewati dimensi-dimensi masa lalu. Dan tiba-tiba saja aku merasakan seperti berada di belakang rumah. Melihat pepohonan ini, pikiranku melayang begitu jauh ke pulau kalimantan, teringat pekarangan belakang rumahku yang penuh dengan pohon karet, daun kuningnya yang berguguran, lintasan cahaya matahari yang menelusup melewati celah-celah pepohonan, dan kesejukan yang terasa oleh silirnya angin . Semua suasana itu benar-benar membawaku kembali berada di rumah.

Oh tidak, lupakanlah. Lagi-lagi aku merasa begitu rindu dengan kampung halaman.

Takkan kubiarkan semua kerinduan itu datang begitu saja. Rasa rindu selalu saja membuatku lemah, menusuk setiap persendian, membuat tulang-tulang terasa sangat ngilu, darah pun terasa begitu nyeri. Racau, pikiran menjadi tidak karuan. Tapi, suasana ini terus saja mengingatkan itu semua.

Kulupakan semua itu, dan kemudian, kami berjalan lagi, menjelajahi penangkaran rusa tersebut. Tidak banyak jumlah rusa yang ada. Dan sungguh, kasihan sekali melihat kondisi rusa tersebut, kurasa kandangnya kurang mendukung. Mungkin berada di dalam kandang tersebut lebih baik daripada dibiarkan bebas di hutan dengan ancaman para pemburu yang siap kapan saja dengan alat tembaknya.

Lalu kami menuju sebuah tempat yang cukup indah. Masih di tepi Danau Cifor tersebut, angin sepoi-sepoi melengkapi keindahan ciptaan Allah ini. Dan mata pun dimanjakan oleh pepohonan yang tidak kalah indahnya dari tempat-tempat sebelumnya. Hanya saja, sangat disayangkan karena ternyata tempat tersebut menjadi ajang berbuat maksiat bagi banyak remaja. Kulihat betapa banyak remaja yang berpacaran di tempat tersebut. Miris aku melihatnya. Andai saja ada cara untuk memberitahu mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah. Namun keberanian yang kumiliki tidak mampu membawaku untuk mencegahnya.

Begitu banyak tempat indah yang sudah kami lewati, betapa menakjubkan, dan betapa pula kami harus menyadari akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Semuanya begitu menakjubkan, dan semuanya berhasil mengingatkanku pada sebuah tempat yang ingin sekali kukunjungi saat ini, Kampung halaman. Maka, saat itu aku berharap waktu mempercepat langkahnya menuju 3 bulan ke depan, Karena hanya Bulan Ramadhan yang dapat membawaku menuju tempat itu, Insya Allah jika Allah menghendaki dan masih memberi umur.

Perjalanan belum selesai, setelah kunjungan di sekitar Danau Cifor, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjugi IPB Dramaga. Tujuan kami bukan untuk mendaftar menjadi siswa baru, namun hanya ingin membeli susu sapi dan yoghurt yang dijual di sana. Meski, aku tidak ikut membeli, setidaknya ini menjadi pengalamanku melaksanakan Sholat Jumat di Masjid yang ada di Kampus IPB Dramaga tersebut.

Dan, akhirnya. Setelah Sholat Jumat dan makan siang, kami menagkhiri rekreasi kali ini. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai keinginan, pikiran kini kembali tenang, meski kaki masih terasa pegal akibat mengayuh bebek air tersebut.

Terima Kasih buat Pesantren Media yang telah mau mengadakan agenda perjalanan rutin. Insya Allah ini berguna untuk menyegarkan pikiran di tengah kesibukan yang ada.

Bulan depan kemana lagi ya?

Rekreasi Kerinduan



Catatan Perjalanan ke Situ gede

Pusing. Hari-hari dengan penuh kegiatan sungguh memilukan. Kepala dipenuhi dengan segala macam urusan, tugas yang begitu banyak pun terasa menyesak di otak. Dan pikiran tak pernah bisa tenang manakala memikirkan tugas tersebut, begitu banyak.

Refreshing, adalah salah satu cara yang barangkali bisa membuat hati dan pikiran tenang, sehingga kepala pun dapat merasakan suasana senyap setelah bergelut dalam recoknya kesibukan.

Jumat, 5 April 20013. Akhirnya kami para santri Pesantren Media bisa merasakan kembali segarnya dunia luar, melupakan sejenak pikiran yang tengah gaduh. Kali ini, tujuan perjalanan kami tidak jauh, yaitu sebuah danau yang kutahu bernamu Danau Cifor, dan sekitarnya. Senang juga, mendengar berita tersebut.

Pagi hari sekitar jam 8. Dua mobil mengangkut keberangkatan kami, Mobil Panther dan Mobil Avanza. Aku dan beberapa teman ikhwan lainnya berangkat dengan menaiki Mobil Panther yang dikemudikan oleh Musa, salah satu sahabatku. Dan sisanya, menggunakan Mobil Avanza yang dikemudikan oleh Ustadz Umar sendiri.

Suasana di mobil begitu panas, dan semakin panas oleh suara Taqi dan Abdullah yang tidak bisa berhenti ngoceh. Maka, untuk mengatasi hal demikian. Hawari pun berinisiatif mengadakan suatu pelombaan.

“Semuanya Diam, yang duluan ngomong, boleh di jewer atau di jitak!” Begitulah kira-kira Hawari memulai perlombaan.

Suasana pun sunyi, tak ada yang berani berusara, kecuali akhwat. Perlombaan ‘terlama diam’ ini hanya diikuti oleh ikhwan, masing-masing ikhwan berusaha mempertahankan agar tidak bersuara. Dan cara ini ternyata ampuh untuk membuat Taqi dan Abdullah diam. Lumayan lama, kami diam dalam kesunyian, hingga akhirnya Hawari bersuara saat bertanya karena tidak tahu cara mengoperasikan radio. Kepala hawari pun dihujani jitakan dari kami semua.

Segar. Kurasakan itu saat kulihat danau yang terhampar di hadapanku. Ya, kami sampai di salah satu tempat tujuan, Danau Cifor. Airnya memang tidak jernih, dan tidak terlalu dalam. Tapi, cukuplah untuk membuat pikiranku melayang ke masa lalu. Entah mengapa, danau ini begitu mengingatkanku dengan Sungai Sekayam, sungai berukuran sedang yang bermuara ke Sungai Kapuas, terletak tidak jauh dari rumahku di Sanggau (Kalbar). Sudahlah, lupakan semua itu, nampaknya aku begitu rindu dengan kampung halaman.

Kami semua bergegas, menuju salah satu tempat yang memikat. Bebek dengan ukuran sangat besar itu sungguh membuatku ingin menaikinya. Bukan bebek sungguhan, melainkan sebuah sepeda air berbentuk bebek yang muat dinaiki 2 orang, sebut saja bebek air. Tak menunggu lama, semua ikhwan langsung membanderol dan menaiki bebek air tersebut. Satu bebek, dinaiki 2 orang, dan aku naik bersama Musa.

Sensasi yang berbeda jelas kurasakan, ini pertama kalinya aku mengayuh sepeda air, berat namun bikin ketagihan. Dengan semangat, kukayuh bebek air tersebut hingga tak terasa kami sudah berada jauh dari tepi.

Sedikit bosan, akhirnya kami para ikhwan pun mengadakan perlombaan bebek air. Perlombaan ini diikuti oleh 3 bebek peserta. Bebek pertama dikendarai oleh aku dan Musa, bebek kedua dikendarai oleh Hawari dan Yusuf. Sedangkan bebek ketiga, bukan, bukan bebek, melainkan paus yang ketiga yang diduga akan menjadi saingan berat dikendarai oleh Kak Farid, Taqi dan Abdullah. Kendaraan mereka memang berbentuk paus, berbeda dari yang lain.

Semua peserta berjajar di garis start yang telah ditentukan. Dan 1..2..3.. Pertandingan pun dimulai. Nampaknya aku dan Musa sedang bernasib buruk, bebek yang kami naiki terasa lebih berat dari bebek hawari dan Kak Farid. Padahal, sekuat tenaga aku dan Musa mengayuh bebek tersebut, namun tetap saja tidak bisa mengejar 2 peserta lain yang berada di depan. Jauh, Sungguh jauh mereka meninggalkan kami. Akhirnya, Hawari dan Yusuf pun melewati garis finish yang ditandai dengan tiang bendera putih untuk yang pertama, sedangkan kelompok Kak Farid tinggal beberapa jengkal lagi, namun aku dan Musa masih sangat jauh tertinggal.

Tapi, nampaknya Allah berkehendak untuk menjadikan kami juara 2. Beberapa senti sebelum finish, paus yang dinaki Kak Farid, Abdullah dan Taqi, tiba-tiab saja malah berbalik 90 derajat, padahal mereka sudah hampir finsih. Akhirnya, dengan kondisi tersebut, Aku dan Musa pun bisa merebut posisi dua dan mencapai garis finish terlebih dahulu dari Kelompok Kak Farid

Usai sudah jalan-jalan menelusuri danau menggunakan bebek air. Kami mendarat ke tepi, memberikan kesempatan kepada santri lain yang belum menaikinya karena jumlah bebek air yang terbatas.

Dan setelah semua merasa puas, kami semua kemudian beranjak ke mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan, Ustadz Umar meminta kami semua berbaris untuk difoto menggunakan Camera DSLR Pesantren.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju penangkaran rusa yang berada tidak jauh dari danau Cifor. Letaknya masih berada di sekitar danau tersebut. Dan kami juga sempat melihat beberapa rumah tahan gempa, is amazing. Suasana pun semakin segar saat kami memasuki daerah yang dipenuhi dengan hutan, pepohonan yang berjajar rapi dengan daun kering yang berguguran di tanah.

Kami turun di tempat itu, sebuah penangkaran Rusa. Namun mataku lebih tertarik kepada pepohonan lebat yang berada di seberang penangkaran rusa tersebut. Maka aku dan ikhwan lainnya pun mencoba mengambil dan mengabadikan beberapa moment di tempat itu. Suasana begitu dingin, sungguh tenang kurasakan dalam pikiran.

Dan, Pikiran itu kembali. Kembali aku melewati dimensi-dimensi masa lalu. Dan tiba-tiba saja aku merasakan seperti berada di belakang rumah. Melihat pepohonan ini, pikiranku melayang begitu jauh ke pulau kalimantan, teringat pekarangan belakang rumahku yang penuh dengan pohon karet, daun kuningnya yang berguguran, lintasan cahaya matahari yang menelusup melewati celah-celah pepohonan, dan kesejukan yang terasa oleh silirnya angin . Semua suasana itu benar-benar membawaku kembali berada di rumah.

Oh tidak, lupakanlah. Lagi-lagi aku merasa begitu rindu dengan kampung halaman.

Takkan kubiarkan semua kerinduan itu datang begitu saja. Rasa rindu selalu saja membuatku lemah, menusuk setiap persendian, membuat tulang-tulang terasa sangat ngilu, darah pun terasa begitu nyeri. Racau, pikiran menjadi tidak karuan. Tapi, suasana ini terus saja mengingatkan itu semua.

Kulupakan semua itu, dan kemudian, kami berjalan lagi, menjelajahi penangkaran rusa tersebut. Tidak banyak jumlah rusa yang ada. Dan sungguh, kasihan sekali melihat kondisi rusa tersebut, kurasa kandangnya kurang mendukung. Mungkin berada di dalam kandang tersebut lebih baik daripada dibiarkan bebas di hutan dengan ancaman para pemburu yang siap kapan saja dengan alat tembaknya.

Lalu kami menuju sebuah tempat yang cukup indah. Masih di tepi Danau Cifor tersebut, angin sepoi-sepoi melengkapi keindahan ciptaan Allah ini. Dan mata pun dimanjakan oleh pepohonan yang tidak kalah indahnya dari tempat-tempat sebelumnya. Hanya saja, sangat disayangkan karena ternyata tempat tersebut menjadi ajang berbuat maksiat bagi banyak remaja. Kulihat betapa banyak remaja yang berpacaran di tempat tersebut. Miris aku melihatnya. Andai saja ada cara untuk memberitahu mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah. Namun keberanian yang kumiliki tidak mampu membawaku untuk mencegahnya.

Begitu banyak tempat indah yang sudah kami lewati, betapa menakjubkan, dan betapa pula kami harus menyadari akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Semuanya begitu menakjubkan, dan semuanya berhasil mengingatkanku pada sebuah tempat yang ingin sekali kukunjungi saat ini, Kampung halaman. Maka, saat itu aku berharap waktu mempercepat langkahnya menuju 3 bulan ke depan, Karena hanya Bulan Ramadhan yang dapat membawaku menuju tempat itu, Insya Allah jika Allah menghendaki dan masih memberi umur.

Perjalanan belum selesai, setelah kunjungan di sekitar Danau Cifor, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjugi IPB Dramaga. Tujuan kami bukan untuk mendaftar menjadi siswa baru, namun hanya ingin membeli susu sapi dan yoghurt yang dijual di sana. Meski, aku tidak ikut membeli, setidaknya ini menjadi pengalamanku melaksanakan Sholat Jumat di Masjid yang ada di Kampus IPB Dramaga tersebut.

Dan, akhirnya. Setelah Sholat Jumat dan makan siang, kami menagkhiri rekreasi kali ini. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai keinginan, pikiran kini kembali tenang, meski kaki masih terasa pegal akibat mengayuh bebek air tersebut.

Terima Kasih buat Pesantren Media yang telah mau mengadakan agenda perjalanan rutin. Insya Allah ini berguna untuk menyegarkan pikiran di tengah kesibukan yang ada.

Bulan depan kemana lagi ya?
Ini adalah sebuah tulisan mengenai salah satu metode menghafal al-Qur’an dengan cepat. Dan metode yang akan saya tulis ini adalah metode yang sering saya gunakan dalam proses menghafal al-Qur’an, dan terbukti selama saya menghafal al-Qur,an , saya merasa nyaman dan merasa mudah menggunakan metode ini, meskipun saya akui proses menghafal saya ini tidak terlalu cepat, tapi bagi saya ini adalah sebuah metode yang cukup nyaman digunakan untuk menghafal al-Qur’an. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Dan langsung saja, apa itu metodenya? Saya memberi nama metode ini METODE PENGULANGAN. Kenapa saya menyebutnya metode pengulangan, karena metode yang akan saya tulisan ini adalah sebuah cara menghafal al-Qur’an dengan tekhnik mengulang-ulang. Memang sih kalau yang namanya menghafal itu pasti diulang-ulang, tapi untuk metode ini akan membuat kita lebih fokus dengan ayat yang akan anda hafal itu, dengan mengulangnya hingga benar-benar lancar.

Nah, sebenarnya metode ini adalah metode yang pernah diajarkan oleh guru Tahfidz saya saat di Kalimantan, dan hingga saat ini masih saya gunakan, alhamdulillah dengan metode ini saya sudah berhasil menghafal sekitar 3 Juz al-Qur’an.

Dalam menggunakan metode ini, ada beberapa tahap yang harus kalian lewati. Dan untuk mempermudah kalian dalam membaca dan memahami isi tulisan ini, saya akan membuatnya secara terperinci. Dan inilah tahapan tahapan metode yang akan saya berikan. 


· Menentukan target

sebelum kalian mulai menghafal ayat atau surah dalam al-Qur’an, terlebih dahulu kalian harus menargetkan berapa baris/berapa ayat yang akan kalian hafalkan nanti, dan usahakan target yang kita tentukan itu semaksimal mungkin, jangan terlalu sedikit. Misalkan kalian menargetkan hari ini akan menghafal sebanyak 8 baris, jangan tanggung-tanggung dalam menentukan target.

Dan petanyaannya Mengapa perlu adanya target? Karena dengan target yang kita tentukan ini, insya Allah akan membuat kita menjadi semangat dan berusaha keras untuk dapat mencapai target itu, dan akan melatih kita untuk tetap konsisten dengan target yang sudah kita tentukan, anggap saja target tersebut adalah sesuatu yang harus kalian capai.


· Meyakinkan Diri

Nah setelah kalian telah berhasil menentukan target yang akan dihafal, kalian juga harus percaya bahwa kalian mampu mencapai target itu. Karena sering saya temui, banyak orang yang merasa tidak yakin dapat berhasil menghafal beberapa baris al-Qur’an dalam waktu tertentu. Nah, dengan keyakinan yang sudah kalian bentuk ini, kalian harus percaya bahwa Allah pasti akan memudahkan kalian dalam mengahafalnya. Karena jika kita berpersangka sulit dalam menghafal al-Qur’an, maka Allah akan benar-benar menyulitkan kalian, begitu pula sebaliknya.


· Mengulang Sebelum Menghafal

Nah pada tahap ini, barulah proses pengulangan dilakukan. Setelah kalian sudah menentukan target dan meyakinkan diri seperti yang sudah saya tuliskan di atas, langkah selanjutnya adalah menuju ke tahap membaca dengan mengulang-ulang.

Tapi tidak langsung menghafal. Sebelum kalian mulai menghafal, terlebih dahulu kalian harus membaca ayat yang sudah kalian targetkan tadi dengan melihat/membaca al-Qur,an, dan usahakan bacaanya pas dengan Tajwid, jangan terburu-buru. Ulangi bacaan itu sebanyak 20 kali.

Misalkan target kalian tadi adalah 8 baris, maka kalian harus membaca 8 baris ayat al-Qur’an itu dengan diulang-ulang sebanyak 3-5 kali, tapi dengan melihat al-Qur’an. Tujuannya adalah agar bacaan al-Qur’an itu sedikit-sedikit mulai terekam oleh otak kalian sehingga akan memudahkan kalian dalam menghafal ayat tersebut nantinya. Semakin banyak diulang maka semakin lekat di otak. 


· Mnghafal dengan Metode Pengulangan

Setelah kalian mengulang 3-5 kali dengan melihat al-Qur’an, barulah kalian mulai menghafal ayat tersebut sedikit demi sedikit, kata demi kata. Caranya sama, ayat yang akan kalian hafal itu diulang sebanyak 20 kali atau lebih, jika ayat nya terlalu panjang, maka bisa setengah atau seperempat terlebih dahulu, sesuaikan saja dengan kemampuan.

Kemudian setelah kalian sudah selesai mengulang ayat tersebut sebanyak 20 kali lebih, maka insya Allah ayat itu otomatis akan mulai terekam di otak, dan kali ini kalian harus mencoba melafalkan ayat yang telah kalian ulang sebanyak 20 kali itu tanpa melihat al-Qur’an. Insya Allah kalian akan hafal ayat itu. Jika pun belum, ulang terus ayat itu sambil konsentrasi dan memusatkan pikiran.

Begitu seterusnya, stiap ayat diulang sebanyak 20 kali atau lebih. Jika anda sudah berhasil menghafal hingga 4 baris atau lebih, Maka ulang kembali 4 baris itu sebanyak 20 kali tanpa melihat al-Qur’an, agar hafalannya semakin lekat dan tidak mudah hilang.

Seandaninya kalian telah berhasil menghafal 4 baris itu hingga benar-benar lancar dan sudah diulang-ulang. Kalian dapat melanjutkannya dengan menghafal ayat baru dengan cara yang sama seperti di atas, yaitu mengulang ayat hingga 20 kali atau lebih. Dan jika sudah berhasil 4 baris lagi, maka ulang lagi 4 baris itu sebanyak 20 kali.

Nah, jika target 8 baris yang telah kalian tentukan itu sudah berhasil dihafal, maka ulang lagi 8 baris itu sebanyak 20 kali atau lebih agar benar-benar ingat, tidak tersendat-sendat, dan bacaannya pas. Dan Hingga akhirnya selesailah target 8 baris itu. semoga kalian paham maksudnya.

Itulah metode cara menghafal al-Qur’an yang dapat saya bagikan kepada kalian, untuk menggunkan metode ini memang dibutuhkan kesabaran dan waktu yang lama, karena harus terus mengulang-ngulang ayat. Tapi insya Allah dengan metode ini hafalan kalian tidak mudah hilang alias akan lebih betah dan tahan lama untuk tinggal di otak kalian, sehingga tidak mudah lepas.

Oya, ada beberapa tips lagi agar kalian lebih mudah menghafalnya. Yang pertama adalah usahakan kalian membaca al-Qur’an itu dengan suara yang lantang dan nyaring, karena menurut pengalaman saya dalam menghafal al-Qur’an, suara nyaring dapat mempermudah otak dalam peniramaan suara, karena suara nyaring itu juga pasti akan terdengar oleh telinga sehingga akan lebih mudah hafal. Nggak tau juga sih teori pastinya, yang pasti saya sendiri lebih mudah menggunakan suara nyaring.

Tips yang lain adalah, usahakan anda juga mengerti atau memahami sidikit-sedikit arti kata atau ayat al-Qur’an yang kalian hafal tersebut. Syukur-syukur jika benar-benar paham bahasa arab, karena dengan mengerti artinya, insya Allah dapat mempermudah dalam menghafal.

Mungkin sekian metode dan tips dalam menghafal al-Qur’an yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat.

Menghafal al-Quran lebih mudah

Ini adalah sebuah tulisan mengenai salah satu metode menghafal al-Qur’an dengan cepat. Dan metode yang akan saya tulis ini adalah metode yang sering saya gunakan dalam proses menghafal al-Qur’an, dan terbukti selama saya menghafal al-Qur,an , saya merasa nyaman dan merasa mudah menggunakan metode ini, meskipun saya akui proses menghafal saya ini tidak terlalu cepat, tapi bagi saya ini adalah sebuah metode yang cukup nyaman digunakan untuk menghafal al-Qur’an. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Dan langsung saja, apa itu metodenya? Saya memberi nama metode ini METODE PENGULANGAN. Kenapa saya menyebutnya metode pengulangan, karena metode yang akan saya tulisan ini adalah sebuah cara menghafal al-Qur’an dengan tekhnik mengulang-ulang. Memang sih kalau yang namanya menghafal itu pasti diulang-ulang, tapi untuk metode ini akan membuat kita lebih fokus dengan ayat yang akan anda hafal itu, dengan mengulangnya hingga benar-benar lancar.

Nah, sebenarnya metode ini adalah metode yang pernah diajarkan oleh guru Tahfidz saya saat di Kalimantan, dan hingga saat ini masih saya gunakan, alhamdulillah dengan metode ini saya sudah berhasil menghafal sekitar 3 Juz al-Qur’an.

Dalam menggunakan metode ini, ada beberapa tahap yang harus kalian lewati. Dan untuk mempermudah kalian dalam membaca dan memahami isi tulisan ini, saya akan membuatnya secara terperinci. Dan inilah tahapan tahapan metode yang akan saya berikan. 


· Menentukan target

sebelum kalian mulai menghafal ayat atau surah dalam al-Qur’an, terlebih dahulu kalian harus menargetkan berapa baris/berapa ayat yang akan kalian hafalkan nanti, dan usahakan target yang kita tentukan itu semaksimal mungkin, jangan terlalu sedikit. Misalkan kalian menargetkan hari ini akan menghafal sebanyak 8 baris, jangan tanggung-tanggung dalam menentukan target.

Dan petanyaannya Mengapa perlu adanya target? Karena dengan target yang kita tentukan ini, insya Allah akan membuat kita menjadi semangat dan berusaha keras untuk dapat mencapai target itu, dan akan melatih kita untuk tetap konsisten dengan target yang sudah kita tentukan, anggap saja target tersebut adalah sesuatu yang harus kalian capai.


· Meyakinkan Diri

Nah setelah kalian telah berhasil menentukan target yang akan dihafal, kalian juga harus percaya bahwa kalian mampu mencapai target itu. Karena sering saya temui, banyak orang yang merasa tidak yakin dapat berhasil menghafal beberapa baris al-Qur’an dalam waktu tertentu. Nah, dengan keyakinan yang sudah kalian bentuk ini, kalian harus percaya bahwa Allah pasti akan memudahkan kalian dalam mengahafalnya. Karena jika kita berpersangka sulit dalam menghafal al-Qur’an, maka Allah akan benar-benar menyulitkan kalian, begitu pula sebaliknya.


· Mengulang Sebelum Menghafal

Nah pada tahap ini, barulah proses pengulangan dilakukan. Setelah kalian sudah menentukan target dan meyakinkan diri seperti yang sudah saya tuliskan di atas, langkah selanjutnya adalah menuju ke tahap membaca dengan mengulang-ulang.

Tapi tidak langsung menghafal. Sebelum kalian mulai menghafal, terlebih dahulu kalian harus membaca ayat yang sudah kalian targetkan tadi dengan melihat/membaca al-Qur,an, dan usahakan bacaanya pas dengan Tajwid, jangan terburu-buru. Ulangi bacaan itu sebanyak 20 kali.

Misalkan target kalian tadi adalah 8 baris, maka kalian harus membaca 8 baris ayat al-Qur’an itu dengan diulang-ulang sebanyak 3-5 kali, tapi dengan melihat al-Qur’an. Tujuannya adalah agar bacaan al-Qur’an itu sedikit-sedikit mulai terekam oleh otak kalian sehingga akan memudahkan kalian dalam menghafal ayat tersebut nantinya. Semakin banyak diulang maka semakin lekat di otak. 


· Mnghafal dengan Metode Pengulangan

Setelah kalian mengulang 3-5 kali dengan melihat al-Qur’an, barulah kalian mulai menghafal ayat tersebut sedikit demi sedikit, kata demi kata. Caranya sama, ayat yang akan kalian hafal itu diulang sebanyak 20 kali atau lebih, jika ayat nya terlalu panjang, maka bisa setengah atau seperempat terlebih dahulu, sesuaikan saja dengan kemampuan.

Kemudian setelah kalian sudah selesai mengulang ayat tersebut sebanyak 20 kali lebih, maka insya Allah ayat itu otomatis akan mulai terekam di otak, dan kali ini kalian harus mencoba melafalkan ayat yang telah kalian ulang sebanyak 20 kali itu tanpa melihat al-Qur’an. Insya Allah kalian akan hafal ayat itu. Jika pun belum, ulang terus ayat itu sambil konsentrasi dan memusatkan pikiran.

Begitu seterusnya, stiap ayat diulang sebanyak 20 kali atau lebih. Jika anda sudah berhasil menghafal hingga 4 baris atau lebih, Maka ulang kembali 4 baris itu sebanyak 20 kali tanpa melihat al-Qur’an, agar hafalannya semakin lekat dan tidak mudah hilang.

Seandaninya kalian telah berhasil menghafal 4 baris itu hingga benar-benar lancar dan sudah diulang-ulang. Kalian dapat melanjutkannya dengan menghafal ayat baru dengan cara yang sama seperti di atas, yaitu mengulang ayat hingga 20 kali atau lebih. Dan jika sudah berhasil 4 baris lagi, maka ulang lagi 4 baris itu sebanyak 20 kali.

Nah, jika target 8 baris yang telah kalian tentukan itu sudah berhasil dihafal, maka ulang lagi 8 baris itu sebanyak 20 kali atau lebih agar benar-benar ingat, tidak tersendat-sendat, dan bacaannya pas. Dan Hingga akhirnya selesailah target 8 baris itu. semoga kalian paham maksudnya.

Itulah metode cara menghafal al-Qur’an yang dapat saya bagikan kepada kalian, untuk menggunkan metode ini memang dibutuhkan kesabaran dan waktu yang lama, karena harus terus mengulang-ngulang ayat. Tapi insya Allah dengan metode ini hafalan kalian tidak mudah hilang alias akan lebih betah dan tahan lama untuk tinggal di otak kalian, sehingga tidak mudah lepas.

Oya, ada beberapa tips lagi agar kalian lebih mudah menghafalnya. Yang pertama adalah usahakan kalian membaca al-Qur’an itu dengan suara yang lantang dan nyaring, karena menurut pengalaman saya dalam menghafal al-Qur’an, suara nyaring dapat mempermudah otak dalam peniramaan suara, karena suara nyaring itu juga pasti akan terdengar oleh telinga sehingga akan lebih mudah hafal. Nggak tau juga sih teori pastinya, yang pasti saya sendiri lebih mudah menggunakan suara nyaring.

Tips yang lain adalah, usahakan anda juga mengerti atau memahami sidikit-sedikit arti kata atau ayat al-Qur’an yang kalian hafal tersebut. Syukur-syukur jika benar-benar paham bahasa arab, karena dengan mengerti artinya, insya Allah dapat mempermudah dalam menghafal.

Mungkin sekian metode dan tips dalam menghafal al-Qur’an yang dapat saya berikan, semoga bermanfaat.

Senin, 06 Mei 2013

Ini adalah catatan perjalanan ke IBF Senayan Jakarta

Pada tulisan kali ini, aku akan membagikan sedikit pengalamanku saat pergi ke IBF di Senayan Jakarta. Ini adalah kunjungan pertamaku ke Pameran Buku Islam yang diselenggarakan di Senayan Jakarta. Perjalanan kali ini sebenarnya merupakan program dari Pesantren Media, seluruh santri dianjurkan untuk ikut mengunjungi Pameran Buku Islam terbesar di Indonesia ini.

Tak usah berlama-lama, cerita pun dimulai.

Jam 8 kurang, sesuai instruksi yang telah diumumkan. Aku dan teman-teman ikhwan lainnya pun berangkat ke Pesantren Media, di situlah tempat seluruh santri berukumpul sebelum berangkat.

Aneh bin ajaib, sesampai di Pesantren, aku tak menemui sehelai orang pun (memangnya daun). Dan tak lama kemudian, ada salah satu santri akhwat yang mengatakan bahwa keberangkatan diundur satu jam, jadi berangkatnya jam 9.

Ya sudahlah, pasrah saja. Padahal tadi sudah bersemangat, ternyata ditunda. Aku sedikit kesal dengan penundaan ini, kenapa tidak diberi tahu sejak awal?! Jadi, kan nggak usah capek-capek datang awal begini. Tak hanya aku, beberapa teman ikhwan lainnya pun terlihat sedikit kesal.

Singkat cerita, sudah jam 9. Wah, enak ya kalau dalam tulisan, tiba-tiba sudah jam 9. Padahal pada saat itu, rasanya lama sekali aku menunggu 1 jam tersebut. Belum lagi, waktu selalu terasa lambat jika ditunggu, jam-nya malu kali kalau dilihatin terus.



· Perjalanan berangkat

Sebelum beragkat, Ustadz Umar memberikan sedikit pengumuman dan pengarahan kepada kami. Diantaranya adalah masalah keberangkatan. Keberangkatan dibagi menjadi 2 rombongan. Rombongan pertama, akan berangkat menggunakan mobil yayasan, yang akan dikemudikan oleh Ustadz Umar. Sedangkan rombongan yang kedua, berangkat menggunakan KRL ‘Commuter Line’, yang akan dipimpin oleh Kak Dedy, beliau merupakan guru sanggar musik di Pesantren Media.

Aku termasuk dalam rombongan kedua, bersama 12 orang lainnya, yaitu: Kak Dedy, Kak Farid, Musa, Yusuf, Abdullah, Taqi, dan 6 orang akhwat lainnya.

Kami berangkat dari pesantren sekitar jam setengah sepuluh menggunakan Mobil Panther. Dan kira-kira jam 10, kami pun sampai di Stasiun Bogor. Kemudian, Musa yang ditugaskan sebagai bendahara membeli 13 tiket kereta jurusan Cawang, harga tiket tak terlalu mahal, Rp.9000 per tiket. Usai membayar tiket, kami langsung menuju gerbong kereta tujuan. Suasana di dalam kereta masih sangat lengang, sehingga kami semua berhasil mendapatkan tempat duduk.

Aku duduk di salah satu kursi paling pinggir, berdekatan dengan pintu keluar, kedua mataku tak ketinggalan untuk menysusuri keadaan di dalam kereta, ini adalah pertama kalinya aku naik kereta. Hanya hatiku yang berbicara. “Beginikah suasana dalam kereta?” Aku bertanya-tanya sambil tertegun, ternyata mirip seperti yang kubayangkan sebelumnya.

Tak lama kami menunggu, sekitar jam setengah 11. Kereta akhirnya mulai berjalan, ini adalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Seluruh pintu kereta tertutup secara otomatis, dan suara roda kereta sedikit berdecit, menimbulkan suara yang tak enak didengar. Kereta pun melesat perlahan, hingga akhirnya sampai pada puncak kecepatannya. Cepat. Saking cepatnya, pemandanagan di luar jendela tak dapat benar-benar kunikmati. Dimensi ruang terlalu cepat berganti dan berpindah-pindah.

Ada banyak satasiun yang kami singgahi dari Bogor menuju Cawang ini, aku tak tahu berapa tepatnya, mungkin sekitar 13 stasiun. Setiap kali singgah, selalu saja ada tambahan penumpang. Hingga, suasana di dalam kereta semakin penuh. Untugnya, aku sudah mendapat tempat duduk.

Sekitar45 menit perjalanan, atau tepatnya jam 11:18, kami pun akhirnya sampai di Stasiun tujuan kami, yaitu Stasiun Cawang. Kami keluar, merenggangkan badan, melepas pegal setelah beberapa lama duduk. Tapi perjalanan belum selesai, kami masih harus berjalan menuju Halte Busway. Meski tidak terlalu jauh, sudah cukup membuat kaki-kaki kami kelelahan.

Seperti biasa, sebelum naik busway, kami harus membayar karcis Rp.3500. Tapi, tidak semudah itu juga, kami masih harus antri beberapa lama di halte untuk menunggu busway yang benar-benar mampu menampung semua jumlah rombongan kami yang berjumlah 13 ini. Cukup lama kami menunggu di halte ini.

Namun setiap penantian selalu ada akhirnya, setelah cukup lama menanti, kami pun berhasil merangsek masuk ke dalam salah satu busway. Tak jauh dengan suasana di kereta, saling berdusel-duselan, dan senggol-senggolan tak terelakkan lagi. Dan kali ini, kami semua harus rela berdiri hingga akhir tujuan.

Di salah satu halte yang sudah direncanakan sebelumnya, kami turun. Lega rasanya, meninggalkan suasana ‘sumpek’ di dalam busway. Belum terlalu lega, hari semakin siang, matahari semakin meninggi, suasana pun semakin panas, tapi perjalanan belum selesai sampai di sini. Rombongan pertama, yang berangkat menggunakan mobil yayasan sudah mengabarkan kepada kami bahwa mereka sudah sampai di Senayan Jakarta.

Atas beberapa pertimbangan, akhirnya kami putuskan untuk menyelesaikan sisa perjalanan dengan berjalan kaki, dari halte busway menuju Istora Senayan Jakarta. Ternyata cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, kurang lebih sekitar 200 M.

Akhirnya sampai. Tak terasa, ternyata sekarang sudah sekitar jam 1. Pantas saja, kakiku sudah terasa pegal, padahal belum sempat melihat-lihat stand yang ada di dalam. Kami langsung mencari rombongan pertama di tempat yang sudah ditentukan. Singkat pencarian, akhirnya ketemu juga. Sekarang seluruh santri rombongan sudah berkumpul. Sungguh terasa sekali perjalan ini, namun tak terasa jika hanya kutuangkan dalam tulisan ini, 2 halaman sudah kuhabiskan hanya untuk menceritakan perjalanan ini.



· Menjelajah ke Dunia Buku

Pandanganku tak bisa memusat, berpindah-pindah melihat setiap ‘lekukan’ daerah asing yang baru kukunjungi ini. Istora Senayan begitu penuh dengan antusiasme orang-orang yang rata-rata mencari buku. Begitu ramai, aku tak bisa menemukan sebuah kalimat konotasi yang tepat untuk menggambarkannya.

Sebelum mulai berkelilling mengunjungi stand-stand yang tersedia. Perut memaksa kami untuk makan terlebih dahulu, kemudian Sholat Dzuhur. Untuk berwudhu saja kami harus antri, sungguh pemandangan yang indah, melihat orang-orang saling berebut untuk sholat.

Usai sholat, barulah aku dan Kak Farid mulai masuk ke dalam, mulai menjelajahi dan melihat-lihat isi ruangan yang menjadi tujuan utama. Baru saja masuk, mataku sudah dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa, seperti kerumumanan rayap yang sedang berlalu-lalang menggerogoti kayu. Ramai sekali.

Kami terus bejalan. Sambil melihat-lihat buku yang sudah sengaja disediakan untuk memanjakan para tamu yang berdatangan. Dan tahukah kalian, untuk melangkah saja, kami memerlukan waktu berlipat-lipat lebih lama dari biasanya, kami harus pandai menemukan celah yang tepat untuk melangkahkan kaki. Itu adalah efek antusiasme warga yang luar biasa. Tapi, semua itu tak menyurutkan semangatku untuk terus menjelajah. Perlahan, aku mulai merangsek masuk lebih jauh.

Tak terasa, aku dan Kak Farid akhirnya sampai di panggung utama. Di panggung utama ini, pengunjung juga tak kalah banyak. Berjajar beberapa stand dari penerbit-penerbit buku terkenal di Indonesia, seperti Mizan, Gramedia, Republika, dan masih ada lagi yang lainnya. Aku tak mau ketinggalan, maka aku masuk ke dalam stand buku Mizan, dan tentunya aku berharap dapat menemukan buku yang sedang kucari sejak tadi. Dan ternyata, aku tak dapat menemukan buku tersebut.

Aku dan Kak Farid kemudian pindah menuju stand buku Gramedia. Baru saja masuk, aku langsung menemukan barisan buku yang aku cari, tak usah berlama-lama, langsung saja kuambil satu buku tersebut dan membayarnya di kasir.

Mendapatkan satu buku belum membuatku puas, aku dan Kak Farid masih saja menjelajah dunia buku ini, mencari dan berharap ada buku yang dapat ‘memikat’, kapan lagi ada diskon seperti ini. Kaki yang sudah semakin lelah sama sekali tidak mengurangi semangat kami, hingga tak terasa aku sudah berjalan cukup lama, dan ternyata sudah memasuki waktu Ashar. Aku dan Kak Farid pun langsung menuju tempat wudhu dan harus antri terlebih dahulu, kemudian Sholat Ashar.

Usai sholat, aku masih belum menyerah untuk melihat-lihat ke dalam Gedung Istora Senayan, namun kali ini bersama Musa, karena Kak Farid nampaknya sudah merasa kelelahan. Suasana di dalam seperti sebuah dunia buku, penuh bermacam-macam buku, membuat kaki-kaki tak pernah lelah untuk terus berjalan. Hingga tak terasa, aku sudah berhasil mendapatkan dua buku lagi, sedangkan Musa ‘memborong’ banyak buku, terhitung ada sekitar 6 buku yang ia beli. Mumpung lagi diskon.

Ternyata 3 buku yang kubeli tersebut telah membuat isi dompetku menipis. Untuk menghindari habisnya perbekalan uangku, aku pun langsung keluar, takut jika saja ada buku yang tiba-tiba ‘menggodaku’. Ngeri sekali, kalau uangku sampai habis.



· Perjalanan pulang

Sekitar jam 5, aku dan rombongan lainnya pun akhirnya harus mengakhiri jalan-jalan kali ini. Kami harus pulang, untuk menghindari sampai hingga larut malam. Perjalan pulang tak jauh berbeda dengan keberangkatan tadi.

Kami harus berjalan terlebih dahulu dari Istora Senayan ke Halte Busway, kurang lebih sekitar 200 M, terasa jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi tak apalah, perjalan tetap terasa menyenangkan, kehadiran teman membuat perjalan terasa lebih berwarna, labih menyenangkan, dan tentunya rasa lelah pun menjadi berkurang.

Sampai di Halte yang telah ditentukan, tak butuh waktu lama menunggu, kami langsung mendapati salah satu Busway yang cukup menampung jumlah kami yang tidak sedikit. Keadaan di dalam tidak seperti saat berangkat, kini terasa lebih longgar, bahkan aku dan teman ikhwan lainnya berhasil mendapatkan kursi duduk, lumayanlah untuk mengistirahatkan kaki sejenak.

Singkat cerita, kami telah sampa di Stasiun Cawang. Usai membeli tiket, kami menunggu kedatangan kereta di kursi yang telah disediakan. Cukup lama kami menunggu, namun sekitar jam 8 kurang 15 malam, kami pun naik ke dalam kereta. Sayang sekali, kereta penuh, tidak ada lagi kursi kosong. Terpaksa, kami semua berdiri. Sesekali aku dan beberapa teman lainnya duduk di lantai kereta karena merasa sedikit kelelahan.

Akhirnya, perjalanan segera berakhir, kami sampai di Stasiun Bogor, Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan Mobil Panther. Cerita pun berakhir ketika kami sampai di Rumah Media (asrama Ikhwan, Pesantren Media).



18 Maret 2013

Bogor

Kunjungan ke IBF-Jakarta

Ini adalah catatan perjalanan ke IBF Senayan Jakarta

Pada tulisan kali ini, aku akan membagikan sedikit pengalamanku saat pergi ke IBF di Senayan Jakarta. Ini adalah kunjungan pertamaku ke Pameran Buku Islam yang diselenggarakan di Senayan Jakarta. Perjalanan kali ini sebenarnya merupakan program dari Pesantren Media, seluruh santri dianjurkan untuk ikut mengunjungi Pameran Buku Islam terbesar di Indonesia ini.

Tak usah berlama-lama, cerita pun dimulai.

Jam 8 kurang, sesuai instruksi yang telah diumumkan. Aku dan teman-teman ikhwan lainnya pun berangkat ke Pesantren Media, di situlah tempat seluruh santri berukumpul sebelum berangkat.

Aneh bin ajaib, sesampai di Pesantren, aku tak menemui sehelai orang pun (memangnya daun). Dan tak lama kemudian, ada salah satu santri akhwat yang mengatakan bahwa keberangkatan diundur satu jam, jadi berangkatnya jam 9.

Ya sudahlah, pasrah saja. Padahal tadi sudah bersemangat, ternyata ditunda. Aku sedikit kesal dengan penundaan ini, kenapa tidak diberi tahu sejak awal?! Jadi, kan nggak usah capek-capek datang awal begini. Tak hanya aku, beberapa teman ikhwan lainnya pun terlihat sedikit kesal.

Singkat cerita, sudah jam 9. Wah, enak ya kalau dalam tulisan, tiba-tiba sudah jam 9. Padahal pada saat itu, rasanya lama sekali aku menunggu 1 jam tersebut. Belum lagi, waktu selalu terasa lambat jika ditunggu, jam-nya malu kali kalau dilihatin terus.



· Perjalanan berangkat

Sebelum beragkat, Ustadz Umar memberikan sedikit pengumuman dan pengarahan kepada kami. Diantaranya adalah masalah keberangkatan. Keberangkatan dibagi menjadi 2 rombongan. Rombongan pertama, akan berangkat menggunakan mobil yayasan, yang akan dikemudikan oleh Ustadz Umar. Sedangkan rombongan yang kedua, berangkat menggunakan KRL ‘Commuter Line’, yang akan dipimpin oleh Kak Dedy, beliau merupakan guru sanggar musik di Pesantren Media.

Aku termasuk dalam rombongan kedua, bersama 12 orang lainnya, yaitu: Kak Dedy, Kak Farid, Musa, Yusuf, Abdullah, Taqi, dan 6 orang akhwat lainnya.

Kami berangkat dari pesantren sekitar jam setengah sepuluh menggunakan Mobil Panther. Dan kira-kira jam 10, kami pun sampai di Stasiun Bogor. Kemudian, Musa yang ditugaskan sebagai bendahara membeli 13 tiket kereta jurusan Cawang, harga tiket tak terlalu mahal, Rp.9000 per tiket. Usai membayar tiket, kami langsung menuju gerbong kereta tujuan. Suasana di dalam kereta masih sangat lengang, sehingga kami semua berhasil mendapatkan tempat duduk.

Aku duduk di salah satu kursi paling pinggir, berdekatan dengan pintu keluar, kedua mataku tak ketinggalan untuk menysusuri keadaan di dalam kereta, ini adalah pertama kalinya aku naik kereta. Hanya hatiku yang berbicara. “Beginikah suasana dalam kereta?” Aku bertanya-tanya sambil tertegun, ternyata mirip seperti yang kubayangkan sebelumnya.

Tak lama kami menunggu, sekitar jam setengah 11. Kereta akhirnya mulai berjalan, ini adalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Seluruh pintu kereta tertutup secara otomatis, dan suara roda kereta sedikit berdecit, menimbulkan suara yang tak enak didengar. Kereta pun melesat perlahan, hingga akhirnya sampai pada puncak kecepatannya. Cepat. Saking cepatnya, pemandanagan di luar jendela tak dapat benar-benar kunikmati. Dimensi ruang terlalu cepat berganti dan berpindah-pindah.

Ada banyak satasiun yang kami singgahi dari Bogor menuju Cawang ini, aku tak tahu berapa tepatnya, mungkin sekitar 13 stasiun. Setiap kali singgah, selalu saja ada tambahan penumpang. Hingga, suasana di dalam kereta semakin penuh. Untugnya, aku sudah mendapat tempat duduk.

Sekitar45 menit perjalanan, atau tepatnya jam 11:18, kami pun akhirnya sampai di Stasiun tujuan kami, yaitu Stasiun Cawang. Kami keluar, merenggangkan badan, melepas pegal setelah beberapa lama duduk. Tapi perjalanan belum selesai, kami masih harus berjalan menuju Halte Busway. Meski tidak terlalu jauh, sudah cukup membuat kaki-kaki kami kelelahan.

Seperti biasa, sebelum naik busway, kami harus membayar karcis Rp.3500. Tapi, tidak semudah itu juga, kami masih harus antri beberapa lama di halte untuk menunggu busway yang benar-benar mampu menampung semua jumlah rombongan kami yang berjumlah 13 ini. Cukup lama kami menunggu di halte ini.

Namun setiap penantian selalu ada akhirnya, setelah cukup lama menanti, kami pun berhasil merangsek masuk ke dalam salah satu busway. Tak jauh dengan suasana di kereta, saling berdusel-duselan, dan senggol-senggolan tak terelakkan lagi. Dan kali ini, kami semua harus rela berdiri hingga akhir tujuan.

Di salah satu halte yang sudah direncanakan sebelumnya, kami turun. Lega rasanya, meninggalkan suasana ‘sumpek’ di dalam busway. Belum terlalu lega, hari semakin siang, matahari semakin meninggi, suasana pun semakin panas, tapi perjalanan belum selesai sampai di sini. Rombongan pertama, yang berangkat menggunakan mobil yayasan sudah mengabarkan kepada kami bahwa mereka sudah sampai di Senayan Jakarta.

Atas beberapa pertimbangan, akhirnya kami putuskan untuk menyelesaikan sisa perjalanan dengan berjalan kaki, dari halte busway menuju Istora Senayan Jakarta. Ternyata cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, kurang lebih sekitar 200 M.

Akhirnya sampai. Tak terasa, ternyata sekarang sudah sekitar jam 1. Pantas saja, kakiku sudah terasa pegal, padahal belum sempat melihat-lihat stand yang ada di dalam. Kami langsung mencari rombongan pertama di tempat yang sudah ditentukan. Singkat pencarian, akhirnya ketemu juga. Sekarang seluruh santri rombongan sudah berkumpul. Sungguh terasa sekali perjalan ini, namun tak terasa jika hanya kutuangkan dalam tulisan ini, 2 halaman sudah kuhabiskan hanya untuk menceritakan perjalanan ini.



· Menjelajah ke Dunia Buku

Pandanganku tak bisa memusat, berpindah-pindah melihat setiap ‘lekukan’ daerah asing yang baru kukunjungi ini. Istora Senayan begitu penuh dengan antusiasme orang-orang yang rata-rata mencari buku. Begitu ramai, aku tak bisa menemukan sebuah kalimat konotasi yang tepat untuk menggambarkannya.

Sebelum mulai berkelilling mengunjungi stand-stand yang tersedia. Perut memaksa kami untuk makan terlebih dahulu, kemudian Sholat Dzuhur. Untuk berwudhu saja kami harus antri, sungguh pemandangan yang indah, melihat orang-orang saling berebut untuk sholat.

Usai sholat, barulah aku dan Kak Farid mulai masuk ke dalam, mulai menjelajahi dan melihat-lihat isi ruangan yang menjadi tujuan utama. Baru saja masuk, mataku sudah dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa, seperti kerumumanan rayap yang sedang berlalu-lalang menggerogoti kayu. Ramai sekali.

Kami terus bejalan. Sambil melihat-lihat buku yang sudah sengaja disediakan untuk memanjakan para tamu yang berdatangan. Dan tahukah kalian, untuk melangkah saja, kami memerlukan waktu berlipat-lipat lebih lama dari biasanya, kami harus pandai menemukan celah yang tepat untuk melangkahkan kaki. Itu adalah efek antusiasme warga yang luar biasa. Tapi, semua itu tak menyurutkan semangatku untuk terus menjelajah. Perlahan, aku mulai merangsek masuk lebih jauh.

Tak terasa, aku dan Kak Farid akhirnya sampai di panggung utama. Di panggung utama ini, pengunjung juga tak kalah banyak. Berjajar beberapa stand dari penerbit-penerbit buku terkenal di Indonesia, seperti Mizan, Gramedia, Republika, dan masih ada lagi yang lainnya. Aku tak mau ketinggalan, maka aku masuk ke dalam stand buku Mizan, dan tentunya aku berharap dapat menemukan buku yang sedang kucari sejak tadi. Dan ternyata, aku tak dapat menemukan buku tersebut.

Aku dan Kak Farid kemudian pindah menuju stand buku Gramedia. Baru saja masuk, aku langsung menemukan barisan buku yang aku cari, tak usah berlama-lama, langsung saja kuambil satu buku tersebut dan membayarnya di kasir.

Mendapatkan satu buku belum membuatku puas, aku dan Kak Farid masih saja menjelajah dunia buku ini, mencari dan berharap ada buku yang dapat ‘memikat’, kapan lagi ada diskon seperti ini. Kaki yang sudah semakin lelah sama sekali tidak mengurangi semangat kami, hingga tak terasa aku sudah berjalan cukup lama, dan ternyata sudah memasuki waktu Ashar. Aku dan Kak Farid pun langsung menuju tempat wudhu dan harus antri terlebih dahulu, kemudian Sholat Ashar.

Usai sholat, aku masih belum menyerah untuk melihat-lihat ke dalam Gedung Istora Senayan, namun kali ini bersama Musa, karena Kak Farid nampaknya sudah merasa kelelahan. Suasana di dalam seperti sebuah dunia buku, penuh bermacam-macam buku, membuat kaki-kaki tak pernah lelah untuk terus berjalan. Hingga tak terasa, aku sudah berhasil mendapatkan dua buku lagi, sedangkan Musa ‘memborong’ banyak buku, terhitung ada sekitar 6 buku yang ia beli. Mumpung lagi diskon.

Ternyata 3 buku yang kubeli tersebut telah membuat isi dompetku menipis. Untuk menghindari habisnya perbekalan uangku, aku pun langsung keluar, takut jika saja ada buku yang tiba-tiba ‘menggodaku’. Ngeri sekali, kalau uangku sampai habis.



· Perjalanan pulang

Sekitar jam 5, aku dan rombongan lainnya pun akhirnya harus mengakhiri jalan-jalan kali ini. Kami harus pulang, untuk menghindari sampai hingga larut malam. Perjalan pulang tak jauh berbeda dengan keberangkatan tadi.

Kami harus berjalan terlebih dahulu dari Istora Senayan ke Halte Busway, kurang lebih sekitar 200 M, terasa jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi tak apalah, perjalan tetap terasa menyenangkan, kehadiran teman membuat perjalan terasa lebih berwarna, labih menyenangkan, dan tentunya rasa lelah pun menjadi berkurang.

Sampai di Halte yang telah ditentukan, tak butuh waktu lama menunggu, kami langsung mendapati salah satu Busway yang cukup menampung jumlah kami yang tidak sedikit. Keadaan di dalam tidak seperti saat berangkat, kini terasa lebih longgar, bahkan aku dan teman ikhwan lainnya berhasil mendapatkan kursi duduk, lumayanlah untuk mengistirahatkan kaki sejenak.

Singkat cerita, kami telah sampa di Stasiun Cawang. Usai membeli tiket, kami menunggu kedatangan kereta di kursi yang telah disediakan. Cukup lama kami menunggu, namun sekitar jam 8 kurang 15 malam, kami pun naik ke dalam kereta. Sayang sekali, kereta penuh, tidak ada lagi kursi kosong. Terpaksa, kami semua berdiri. Sesekali aku dan beberapa teman lainnya duduk di lantai kereta karena merasa sedikit kelelahan.

Akhirnya, perjalanan segera berakhir, kami sampai di Stasiun Bogor, Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan Mobil Panther. Cerita pun berakhir ketika kami sampai di Rumah Media (asrama Ikhwan, Pesantren Media).



18 Maret 2013

Bogor
Masa remaja adalah masa yang paling rentan terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Bisa dikatakan remaja adalah masa-masa labil, dimana mereka belum bisa memilih yang mana jalan yang harus mereka pilih.

Sejalan dengan itu semua, kehidupan kita selalu lekat dengan perkembangan teknologi, apalagi dikalangan remaja, yang sangat berpengaruh sekali dengan kemajuan teknologi saat ini. Jejaring sosial adalah salah satu teknologi yang sangat besar pengaruhnya di kalangan remaja saat ini. Bahkan jejaring sosial saat ini sudah semakin berkembang pesat, antara lain, facebook, twitter, friendstar, my space dan masih banyak lagi.

Jejaring sosial merupakan sebuah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut.Tampilan dasar situs jejaring sosial ini menampilkan halaman profil pengguna, yang di dalamnya terdiri dari identitas diri dan foto pengguna. Dan jelas, kalangan remaja lah yang selalu pertama kali mengenal dan berlomba-lomba membuat akun di jejaring sosial ini.

Keberadaan jejaring sosial yang semakin mewabbah di kalangan remaja ini membuat banyak dari kalangan remaja yang menganggap bahwa kepemilikan akun jejaring sosial adalah hal yang wajib hukumnya, yang harus mereka miliki. Bagi mereka jejaring sosial ini seakan lebih penting dari sepiring nasi. Padahal pada faktanya jejaring sosial hanya menyebakan banyak masalah dan banyak menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif yang dapat ditimbulkan jejaring sosial antara lain adalah.

· Bikin kecanduan

Tak hanya narkoba yang dapat menyebabkan kecanduan, jejaring sosial juga ternyata dapat menyebabkan remaja kecanduan. Awlanya tidak memiliki akun di jejaring sosial, setelah mencoba ikut-ikutan teman dan membuat akun di jejaring sosial, pasti ia akan kecanduan dan akan senantiasa memikirkan jejaring sosial tersebut. kemudian saat bangun tidur, maka yang akan dipikirkan dan dilakukan pertama kali adalah membuka handphone untuk sekedar mengecek notifikasi facebook atau twitter. Wah betapa hebatnya peran jejaring sosial dalam mengendalikan remaja.



· Mengurangi waktu produktif

Jika sudah keasyikan membuka jejaring sosial, maka seseorang akan betah berlama-lama bahkan hingga berjam-jam di depan layar monitor atau pun layar handphone, nah kalau sudah demikian seseorang itu pasti tidak sadar betapa banyaknya waktu yang ia buang hanya sekdedar untuk mengurus akun jejaring sosial nya yang tidak ada gunanya, akibatnya waktu yang biasa digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif menjadi berkurang atau malah nggak jadi ngerjain sesuatu karena keasyikan menggunakan jejaring sosial.



· Menambah beban pengeluaran

Keberadaan jejaring sosial yang membuat remaja menganggap kepemlikan akun jejaring sosial itu adalah suatu hal yang wajib, memaksa remaja zaman sekarang ini harus memiliki media yang dapat mereka pergunakan untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut seperti komputer atau handphone, sehingga untuk mendapatkan itu semua, seseorang tersebut harus merogoh kantong lebih dalam untuk mendapatkannya, dan itu pun belum cukup untuk dapat megakses situs jejaring sosial, ia masih harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk membeli pulsa sebagai sarana internet. Adapun cara lain adalah dengan pergi ke warnet, tapi untuk ke warnet, sesorang itu juga harus mengeluarkan uang, sehingga tanpa terasa sudah banyak uang yang ia keluarkan untuk hal yang sia-sia.



· Mengurangi konsentrasi belajar

Seorang pelajar yang sudah kecanduan berat dengan jejaring sosial, ia pasti akan banyak mengeluhkan kegiatan-kegiatan di sekolahnya. Ia tetap pergi sekolah, namun pikirannya melayang ke jejaring sosial. Guru yang berbicara di depan tidak dihiraukan karena pikirannya telah dipenuhi jejaring sosial. Bahkan banyak juga siswa siswa yang bolos untuk pergi ke warnet. Sehingga secara sadar maupun tidak sadar keberadaan jejaring sosial bisa mengaburkan konsentrasi belajar.



· Mengancam keamanan diri

Di telivisi sering sekali terdengar kasus penipuan yang asal mulanya dari jejaring sosial, bahkan tak hanya penipuan, jejaring sosial juga dapat menyebabkan bayak hal kriminal seperti kemalingan hingga pembunuhan. Oleh karena itu, jangan pernah sekali-kali anda terlalu memaparkan identitas diri, apalagi itu merupakan hal pribadi yang seharusnya tidak diketahui orang. Kalau perlu jangan menuliskan alamat rumah secara detail, karena bisa jadi ada perampok yang sudah siap menyergap rumah anda.



· Mengancam kesehatan

Seperti yang sudah disebutkan di depan, asyiknya bermain jejaring sosial menyebabkan seseorang lupa dengan waktu, sehingga ia dapat menghabiskan berjam-jam waktu nya hanya untuk mengurus hal yang tidak berguna tersebut. Lalu apakah hal tersebut dapat mengganggu kesehatan? Tentu saja bisa. Seseorang yang sudah kecanduan jejaring sosial otomatis ia akan lebih sering menghabiskan wktunya di depan layar monitor atau handphone, sehingga waktu makannya biasanya akan tertunda bahkan bisa jadi ia lebih memilih bermain jejaring sosial dibandingkan dengan makan, sehingga dalam hal ini jejaring sosial dapat menyebabkan penyakit mag. Ada pula orang yang kuat bergadang semalaman hanya untuk bermain jejaring sosial, dan hal tersebut sangat mengganggu kesehatan.



· Merenggangkan hubungan sesama

Banyak yang berpendapat bahwa jejaring sosial dapat mempererat hubungan sesama, pendapat tersebut memang benar, namun sejalan dengan itu, ternyata jejaring sosial juga dapat merenggangkan hubungan sesama. Mengapa demikian? Karena seseorang yang memiliki akun jejaring sosial biasanya memiliki banyak teman melalui dunia maya, namun karena itu pula lah, seseorang tersebut akan merasa bahwa temannya hanya ada di dunia maya, ia merasa teman dunia maya lebih penting dari teman di sebelah rumhnya, ia akan menganggap teman sebelah rumahnya sudah tidak penting lagi. Ia lebih mengurus teman dunia maya nya sehingga dapat melupakan teman lama.

Itu tadi adalah beberapa dampak negatif yang ditimbulkan jejaring sosial, sebenarnya masih banyak lagi dampak negtif yang dapat ditumbulkan jejaring sosial ini.

Tapi sebenarnya tak sepenuhnya jejaring sosial itu berdampak negatif, ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dalam menggunakan jejaring sosial ini, dan seharusnya kita menggunakan jejaring sosial ini untuk mengambil manfaat-manfaat tersebut, bukan malah mencari banyak kerugian dengan tidak menghiraukan dampak buruk yang akan terjadi nantinya. Damapk positif yang dapat ditimbulkan jejaring sosial antara lain adalah

· Memperluas jaringan pertemanan

Jejaring sosial memang dapat memperluas pertemanan, kita dapat berhubungan dengan seseorang tanpa langsung bertatap muka dengannya, sekali pun orang yang tidak kita kenal. Kita dapat berbincang-bincang dan bertukar pikiran dengan orang yang tak kita kenal sebelumnya. Itulah keuntungan jejaring sosial yang patut kita ikuti, dengan catatan, jangan melupakan teman lama.



· Sebagai media dalam bisnis

Selain untuk memperluas pertemanan, jejaring sosial juga dapat digunakan untuk media dalam bisnis. Oleh karena itu, sering sekali terlihat ada sebuah iklan di jejaring sosial yang menawarkan barang-barang maupun jasa. Dan memang seharunya kita menggunakan jejaring sosial tersebut dalam hal-hal yang berguna tersebut, karena dengan jejaring sosial, informasi akan sangat cepat menyebar.



· Untuk memperoleh atau menyebarkan informasi

Jika saya membuka jejaring sosial, biasanya ada saja salah satu teman yang menyebarkan informasi, ada yang penting, dan ada pula yang tidak penting. Contohnya informasi mengenai berita yang sedang hangat, mengenai foto-foto yang lucu hingga yang unik, mengenai keadaan suatau tempat, dan banyak lagi. Dan perlu dicatat, bahwa informasi yang akan kita sebar tersebut, harus dipertimbangkan terlebih dahulu, apakah itu pantas disebar ataukah tidak, dan yang lebih penting lagi, informasi itu harus baik.



· Mengembangkan keterampilan dan sosial

Anak dan remaja yang menggunakan jejaring sosial biasanya secara perlahan keteramilan teknis dan sosialnya akan berkembang. Mengkikuti perkembangan zaman yang semakin canggih, mereka akan belajar bagimana cara beradaptasi, bersosialisasi dengan publik, dan mengelola jaringan pertemanan.



Itu lah beberapa hal mengenai remaja dan jejaring sosial, semoga kalian semua dapat memahami apa saja dampak yang ditimbulkan dari jejaring sosial tersebut. Saya berharap kalian dapat menggunakan jejaring sosial tersebut dalam hal positif, jangan biarkan generasi muda kita rusak. Semoga sedikit informasi tadi dapat menginspirasi kalian, terutama kaum remaja.

Remaja dan jejaring Sosial

Masa remaja adalah masa yang paling rentan terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Bisa dikatakan remaja adalah masa-masa labil, dimana mereka belum bisa memilih yang mana jalan yang harus mereka pilih.

Sejalan dengan itu semua, kehidupan kita selalu lekat dengan perkembangan teknologi, apalagi dikalangan remaja, yang sangat berpengaruh sekali dengan kemajuan teknologi saat ini. Jejaring sosial adalah salah satu teknologi yang sangat besar pengaruhnya di kalangan remaja saat ini. Bahkan jejaring sosial saat ini sudah semakin berkembang pesat, antara lain, facebook, twitter, friendstar, my space dan masih banyak lagi.

Jejaring sosial merupakan sebuah web berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut.Tampilan dasar situs jejaring sosial ini menampilkan halaman profil pengguna, yang di dalamnya terdiri dari identitas diri dan foto pengguna. Dan jelas, kalangan remaja lah yang selalu pertama kali mengenal dan berlomba-lomba membuat akun di jejaring sosial ini.

Keberadaan jejaring sosial yang semakin mewabbah di kalangan remaja ini membuat banyak dari kalangan remaja yang menganggap bahwa kepemilikan akun jejaring sosial adalah hal yang wajib hukumnya, yang harus mereka miliki. Bagi mereka jejaring sosial ini seakan lebih penting dari sepiring nasi. Padahal pada faktanya jejaring sosial hanya menyebakan banyak masalah dan banyak menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif yang dapat ditimbulkan jejaring sosial antara lain adalah.

· Bikin kecanduan

Tak hanya narkoba yang dapat menyebabkan kecanduan, jejaring sosial juga ternyata dapat menyebabkan remaja kecanduan. Awlanya tidak memiliki akun di jejaring sosial, setelah mencoba ikut-ikutan teman dan membuat akun di jejaring sosial, pasti ia akan kecanduan dan akan senantiasa memikirkan jejaring sosial tersebut. kemudian saat bangun tidur, maka yang akan dipikirkan dan dilakukan pertama kali adalah membuka handphone untuk sekedar mengecek notifikasi facebook atau twitter. Wah betapa hebatnya peran jejaring sosial dalam mengendalikan remaja.



· Mengurangi waktu produktif

Jika sudah keasyikan membuka jejaring sosial, maka seseorang akan betah berlama-lama bahkan hingga berjam-jam di depan layar monitor atau pun layar handphone, nah kalau sudah demikian seseorang itu pasti tidak sadar betapa banyaknya waktu yang ia buang hanya sekdedar untuk mengurus akun jejaring sosial nya yang tidak ada gunanya, akibatnya waktu yang biasa digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif menjadi berkurang atau malah nggak jadi ngerjain sesuatu karena keasyikan menggunakan jejaring sosial.



· Menambah beban pengeluaran

Keberadaan jejaring sosial yang membuat remaja menganggap kepemlikan akun jejaring sosial itu adalah suatu hal yang wajib, memaksa remaja zaman sekarang ini harus memiliki media yang dapat mereka pergunakan untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut seperti komputer atau handphone, sehingga untuk mendapatkan itu semua, seseorang tersebut harus merogoh kantong lebih dalam untuk mendapatkannya, dan itu pun belum cukup untuk dapat megakses situs jejaring sosial, ia masih harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk membeli pulsa sebagai sarana internet. Adapun cara lain adalah dengan pergi ke warnet, tapi untuk ke warnet, sesorang itu juga harus mengeluarkan uang, sehingga tanpa terasa sudah banyak uang yang ia keluarkan untuk hal yang sia-sia.



· Mengurangi konsentrasi belajar

Seorang pelajar yang sudah kecanduan berat dengan jejaring sosial, ia pasti akan banyak mengeluhkan kegiatan-kegiatan di sekolahnya. Ia tetap pergi sekolah, namun pikirannya melayang ke jejaring sosial. Guru yang berbicara di depan tidak dihiraukan karena pikirannya telah dipenuhi jejaring sosial. Bahkan banyak juga siswa siswa yang bolos untuk pergi ke warnet. Sehingga secara sadar maupun tidak sadar keberadaan jejaring sosial bisa mengaburkan konsentrasi belajar.



· Mengancam keamanan diri

Di telivisi sering sekali terdengar kasus penipuan yang asal mulanya dari jejaring sosial, bahkan tak hanya penipuan, jejaring sosial juga dapat menyebabkan bayak hal kriminal seperti kemalingan hingga pembunuhan. Oleh karena itu, jangan pernah sekali-kali anda terlalu memaparkan identitas diri, apalagi itu merupakan hal pribadi yang seharusnya tidak diketahui orang. Kalau perlu jangan menuliskan alamat rumah secara detail, karena bisa jadi ada perampok yang sudah siap menyergap rumah anda.



· Mengancam kesehatan

Seperti yang sudah disebutkan di depan, asyiknya bermain jejaring sosial menyebabkan seseorang lupa dengan waktu, sehingga ia dapat menghabiskan berjam-jam waktu nya hanya untuk mengurus hal yang tidak berguna tersebut. Lalu apakah hal tersebut dapat mengganggu kesehatan? Tentu saja bisa. Seseorang yang sudah kecanduan jejaring sosial otomatis ia akan lebih sering menghabiskan wktunya di depan layar monitor atau handphone, sehingga waktu makannya biasanya akan tertunda bahkan bisa jadi ia lebih memilih bermain jejaring sosial dibandingkan dengan makan, sehingga dalam hal ini jejaring sosial dapat menyebabkan penyakit mag. Ada pula orang yang kuat bergadang semalaman hanya untuk bermain jejaring sosial, dan hal tersebut sangat mengganggu kesehatan.



· Merenggangkan hubungan sesama

Banyak yang berpendapat bahwa jejaring sosial dapat mempererat hubungan sesama, pendapat tersebut memang benar, namun sejalan dengan itu, ternyata jejaring sosial juga dapat merenggangkan hubungan sesama. Mengapa demikian? Karena seseorang yang memiliki akun jejaring sosial biasanya memiliki banyak teman melalui dunia maya, namun karena itu pula lah, seseorang tersebut akan merasa bahwa temannya hanya ada di dunia maya, ia merasa teman dunia maya lebih penting dari teman di sebelah rumhnya, ia akan menganggap teman sebelah rumahnya sudah tidak penting lagi. Ia lebih mengurus teman dunia maya nya sehingga dapat melupakan teman lama.

Itu tadi adalah beberapa dampak negatif yang ditimbulkan jejaring sosial, sebenarnya masih banyak lagi dampak negtif yang dapat ditumbulkan jejaring sosial ini.

Tapi sebenarnya tak sepenuhnya jejaring sosial itu berdampak negatif, ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dalam menggunakan jejaring sosial ini, dan seharusnya kita menggunakan jejaring sosial ini untuk mengambil manfaat-manfaat tersebut, bukan malah mencari banyak kerugian dengan tidak menghiraukan dampak buruk yang akan terjadi nantinya. Damapk positif yang dapat ditimbulkan jejaring sosial antara lain adalah

· Memperluas jaringan pertemanan

Jejaring sosial memang dapat memperluas pertemanan, kita dapat berhubungan dengan seseorang tanpa langsung bertatap muka dengannya, sekali pun orang yang tidak kita kenal. Kita dapat berbincang-bincang dan bertukar pikiran dengan orang yang tak kita kenal sebelumnya. Itulah keuntungan jejaring sosial yang patut kita ikuti, dengan catatan, jangan melupakan teman lama.



· Sebagai media dalam bisnis

Selain untuk memperluas pertemanan, jejaring sosial juga dapat digunakan untuk media dalam bisnis. Oleh karena itu, sering sekali terlihat ada sebuah iklan di jejaring sosial yang menawarkan barang-barang maupun jasa. Dan memang seharunya kita menggunakan jejaring sosial tersebut dalam hal-hal yang berguna tersebut, karena dengan jejaring sosial, informasi akan sangat cepat menyebar.



· Untuk memperoleh atau menyebarkan informasi

Jika saya membuka jejaring sosial, biasanya ada saja salah satu teman yang menyebarkan informasi, ada yang penting, dan ada pula yang tidak penting. Contohnya informasi mengenai berita yang sedang hangat, mengenai foto-foto yang lucu hingga yang unik, mengenai keadaan suatau tempat, dan banyak lagi. Dan perlu dicatat, bahwa informasi yang akan kita sebar tersebut, harus dipertimbangkan terlebih dahulu, apakah itu pantas disebar ataukah tidak, dan yang lebih penting lagi, informasi itu harus baik.



· Mengembangkan keterampilan dan sosial

Anak dan remaja yang menggunakan jejaring sosial biasanya secara perlahan keteramilan teknis dan sosialnya akan berkembang. Mengkikuti perkembangan zaman yang semakin canggih, mereka akan belajar bagimana cara beradaptasi, bersosialisasi dengan publik, dan mengelola jaringan pertemanan.



Itu lah beberapa hal mengenai remaja dan jejaring sosial, semoga kalian semua dapat memahami apa saja dampak yang ditimbulkan dari jejaring sosial tersebut. Saya berharap kalian dapat menggunakan jejaring sosial tersebut dalam hal positif, jangan biarkan generasi muda kita rusak. Semoga sedikit informasi tadi dapat menginspirasi kalian, terutama kaum remaja.

Acara nonton bareng yang diadakan Pesantren Media di Komplek Laladon Permai ternyata tidak mendapat respon yang baik dari masyarakat sekitar. 

Untuk memperingati Bulan Muharram ini, Pesantren Media mengadakan acara ‘nonton bareng film Umar bin Khattab. Hingga saat ini (30/11) sudah 21 episode film Umar ditayangkan di Laladon Permai. Film yang menceritakan mengenai kisah perjuangan Islam ini, ditayangkan sebanyak 2 episode per malam. Hingga hari kesebelas ini, penonton film Umar terbilang masih sedikit. Selebaran yang telah disebarkan kepada masyarakat Laladon Permai ternyata tidak mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat Laladon Permai ini. Terhitung, hingga saat ini, penontonnya hanya sekitar 3 sampai 5 orang ditambah seluruh santri pesantren Media yang memang diharuskan untuk mengikuti acara nonton bareng ini.

Saat ditanya, Oyok salah satu penonton rutin acara nonton bareng ini mengatakan bahwa ia menyukai film Umar bin Khattab ini karena menceritakan kisah zaman dahulu, yaitu mengenai Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam dan melawan orang-orang musyrik.

Dan Jika dilihat dari segi isi dan kualitas, film Umar ini memang sudah terbilang cukup bagus, bahkan sangat bagus. Film ini sepertinya benar-benar telah disetting untuk menggambarkan keadaan pada zaman Nabi Muhammad. Tokoh-tokoh pemeran film Umar pun terlihat sangat baik dalam memerankan tokohnya masing-masing. Dan adegan yang paling terlihat nyata sekaligus mendebarkan adalah pada saat adegan peperangan. Semuanya terlihat seperti tidak ada rekayasa, suara tebasan pedang yang terdengar nyata membuat peperangan itu seakan sedang terjadi di Laladon ini.

Pada awalnya, acara nonton bareng film Umar Bin khattab ini diadakan di lapangan Laladon Permai, di belakang Pos Satpam. Namun, lantaran akhir-akhir ini di Bogor selalu hujan, maka acara nonton bareng ini lebih sering diadakan di Masjid Nurul Iman, Komplek Laladon Permai. Dari 11 malam yang sudah dilalui, 9 diantaranya ditayangkan di Masjid Nurul Iman, dan baru 2 kali di lapangan.

Acara nonton bareng film Umar bin Khattab ini ditayangkan setiap malam kecuali malam Jum’at ba’da sholat Isya di lapangan atau pun di Masjid Nurul Iman jika hujan. Seperti yang sudah disebutkan di depan tadi, setiap malamnya ditayangkan sebanyak 2 episode. Adapun hidangan yang disediakan dari pihak pesantren Media adalah bandrek susu, minuman hangat yang terbuat dari jahe kemudian ditambah susu.

Untuk lebih memeriahkan dan menambah semangat para penonton, Ustad Umar selaku direktur Pesantren Media sekaligus penggagas acara nonton bareng ini, mengadakan quiz berhadiah untuk para penonton. Quiz yang berisi mengenai pertanyaan seputar film Umar ini diadakan setelah usai 2 episode film Umar. Setiap malamnya, ada 5 pemenang yang berhak mendaptkan hadiah. Hadiah yang diberikan oleh para pemenang memanglah tidak besar, namun sudah cukup untuk membuat para penonton berlomba-lomba menjawab pertanyaan dari Ustad Umar ini. Hadiah yang diperebutkan adalah satu bungkus beng-beng/tango untuk setiap pemenang.

Pada dasarnya, acara nonton bareng ini diadakan agar masyarakat sekitar dapat mengetahui bagaimana perjuangan penyebaran Islam pada zaman Nabi Muhammad, sekaligus sebagai pelajaran siroh nabawi bagi Santri Pesantren Media. Namun sayanganya, antusiasme warga Komplek Laladon Permai ini sangatlah kurang. Jumlah penonton yang selalu sedikit setiap malam sudah menggambarkan bagaimana kurangnya antusias warga Laladon Permai ini.

Ini adalah sebauh tulisan yang juga merupakan bagian dari tugas membuat reportase di kelas menulis kreatif Pesantren Media. (ahmad khoirul anam)

Sekilas Peperangan di Laladon Permai

Acara nonton bareng yang diadakan Pesantren Media di Komplek Laladon Permai ternyata tidak mendapat respon yang baik dari masyarakat sekitar. 

Untuk memperingati Bulan Muharram ini, Pesantren Media mengadakan acara ‘nonton bareng film Umar bin Khattab. Hingga saat ini (30/11) sudah 21 episode film Umar ditayangkan di Laladon Permai. Film yang menceritakan mengenai kisah perjuangan Islam ini, ditayangkan sebanyak 2 episode per malam. Hingga hari kesebelas ini, penonton film Umar terbilang masih sedikit. Selebaran yang telah disebarkan kepada masyarakat Laladon Permai ternyata tidak mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat Laladon Permai ini. Terhitung, hingga saat ini, penontonnya hanya sekitar 3 sampai 5 orang ditambah seluruh santri pesantren Media yang memang diharuskan untuk mengikuti acara nonton bareng ini.

Saat ditanya, Oyok salah satu penonton rutin acara nonton bareng ini mengatakan bahwa ia menyukai film Umar bin Khattab ini karena menceritakan kisah zaman dahulu, yaitu mengenai Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam dan melawan orang-orang musyrik.

Dan Jika dilihat dari segi isi dan kualitas, film Umar ini memang sudah terbilang cukup bagus, bahkan sangat bagus. Film ini sepertinya benar-benar telah disetting untuk menggambarkan keadaan pada zaman Nabi Muhammad. Tokoh-tokoh pemeran film Umar pun terlihat sangat baik dalam memerankan tokohnya masing-masing. Dan adegan yang paling terlihat nyata sekaligus mendebarkan adalah pada saat adegan peperangan. Semuanya terlihat seperti tidak ada rekayasa, suara tebasan pedang yang terdengar nyata membuat peperangan itu seakan sedang terjadi di Laladon ini.

Pada awalnya, acara nonton bareng film Umar Bin khattab ini diadakan di lapangan Laladon Permai, di belakang Pos Satpam. Namun, lantaran akhir-akhir ini di Bogor selalu hujan, maka acara nonton bareng ini lebih sering diadakan di Masjid Nurul Iman, Komplek Laladon Permai. Dari 11 malam yang sudah dilalui, 9 diantaranya ditayangkan di Masjid Nurul Iman, dan baru 2 kali di lapangan.

Acara nonton bareng film Umar bin Khattab ini ditayangkan setiap malam kecuali malam Jum’at ba’da sholat Isya di lapangan atau pun di Masjid Nurul Iman jika hujan. Seperti yang sudah disebutkan di depan tadi, setiap malamnya ditayangkan sebanyak 2 episode. Adapun hidangan yang disediakan dari pihak pesantren Media adalah bandrek susu, minuman hangat yang terbuat dari jahe kemudian ditambah susu.

Untuk lebih memeriahkan dan menambah semangat para penonton, Ustad Umar selaku direktur Pesantren Media sekaligus penggagas acara nonton bareng ini, mengadakan quiz berhadiah untuk para penonton. Quiz yang berisi mengenai pertanyaan seputar film Umar ini diadakan setelah usai 2 episode film Umar. Setiap malamnya, ada 5 pemenang yang berhak mendaptkan hadiah. Hadiah yang diberikan oleh para pemenang memanglah tidak besar, namun sudah cukup untuk membuat para penonton berlomba-lomba menjawab pertanyaan dari Ustad Umar ini. Hadiah yang diperebutkan adalah satu bungkus beng-beng/tango untuk setiap pemenang.

Pada dasarnya, acara nonton bareng ini diadakan agar masyarakat sekitar dapat mengetahui bagaimana perjuangan penyebaran Islam pada zaman Nabi Muhammad, sekaligus sebagai pelajaran siroh nabawi bagi Santri Pesantren Media. Namun sayanganya, antusiasme warga Komplek Laladon Permai ini sangatlah kurang. Jumlah penonton yang selalu sedikit setiap malam sudah menggambarkan bagaimana kurangnya antusias warga Laladon Permai ini.

Ini adalah sebauh tulisan yang juga merupakan bagian dari tugas membuat reportase di kelas menulis kreatif Pesantren Media. (ahmad khoirul anam)
ini adalah Diskusi Aktual Pesantren Media. Rabu, 10 Oktober 2012 

Hak rakyat menikmati fasilitas pelayanan publik yang lebih baik ternyata semakin tahun terus-menerus dibajak oleh pemerintahnya sendiri. Seperti yang diberitakan di koran KOMPAS edisi Rabu 8 Oktober 2012, yang berisi mengenai pengendapan uang anggaran APBD di Bank yang setiap tahun semakin meningkat. Dalam laporan itu disebutkan juga, berdasarkan data kementrian keuangan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD yang mengendap di Bank pada akhir tahun 2002 sebanyak 22 Triliun Rupiah, pada akhir tahun 2009 sebanyak 59 Triliun Rupiah, dan Akhir Desember 2011 meroket menjadi 80,4 Trilun Rupiah. Wah jelas sekali, bahwa hak rakyat memang terus-menerus dibajak oleh pemerintah, Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan daerah, malah disimpan di bank yang entah apa tujuannya.

Dengan adanya data itulah, pada diskusi kali ini, Rabu 10 Oktober 2012, Pesantren Media mengambil judul ‘Ternyata 80 Triliun Uang APBD Ngendap di Bank’. Seperti biasanya, diskusi ini diadakan di lantai dasar Pesantren Media dengan dihadiri Ustad Umar sebagai moderator atau pemimpin diskusi, aku(Ahmad Khoirul Anam) sebagai notulen, dan juga dihadiri oleh seluruh santri Pesantren media, kecuali Kak Farid yang sedang pulang karena ada suatu urusan. Dan tidak seperti biasanya Ustad Oleh tidak hadir dalam diskusi kali ini.

Diskusi pun dimulai, seperti bisanya selalu dibuka oleh Moderator, begitu juga pada diskusi kali ini. Sebagai pembukaan, Ustad Umar menjelaskan betapa terkejutnya beliau saat pertama kali membaca berita ini dari koran KOMPAS. Kok bisa gini? Beliau hampir tidak percaya, dan beliau menambahkan jika dirinya luar biasa terkejut saat membaca berita ini. Ternyata sebenarnya masyarakat ini memiliki banyak uang. Hanya saja pemerintah tidak menggunakan uang ini untuk kebutuhan masyarakat yang masih banyak memerlukannya, tapi pemerintah malah menyimpan uang ini ke bank, padahal kebutuhan daerah dan masyarakat masih belum terpenuhi semua.

Kemudian diskusi pun dilanjutkan dengan sesi pertanyaan. “Ayo siapa yang mau bertanya angkat tangannya, jangan angkat kaki, kalau angkat tangan pakai tangan kanan ya?” seperti biasa Ustad Umar selalu bercanada, jadi diskusi ini menjadi lebih seru.

Hampir seluruh santri mengangkat tangan, karena rata-rata dari mereka sudah mempersiapkan pertanyaan dari rumah. Tapi tetap ada saja yang tidak bertanya, termasuk aku. Karena sejujurnya aku masih bingung dengan tema yang diangkat kali ini, maksud nya apa?

Lupakan tentang itu. karena sekarang adalah waktunya membacakan pertanyaaan.

“Ayo, yang akhwat duluan, bacakan pertanyaannya!”

Satu-persatu pertanyaan pun dibacakan.

Yang pertama dibacakan adalah pertanyaan Putri. “Untuk apa pemerintah menyimpan uang APBD ini di bank?”

Kemudian pertanyaan dari Wigati. “bagaimana cara pemerintah mengatasi masalah penyimpanan uang APBD di bank ini?”

Dan pertanyaan yang paling singkat, berasal dari Cylpa. “Apa fungsi APBD?”

Kemudian masih dari santri akhwat, kali ini pertanyaan dari novia. “ Siapa yang menyimpan uang APBD di bank, dan bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini?”

Pertanyaa dari Siti. “Mengapa masalah ini bisa terjadi?”

Dari dini yang pertanyaannya agak sulit kutangkap, karena seperti biasa penjelasannya yang selalu panjang lebar dan rumit, namun Ustad Umar selaku moderator pun mengulangi lagi pertanyaannya. “mengapa maslah APBD ini selalu menjadi masalah klasik di Indonesia?”

“APBD ini dibangun untuk membiayai masyarakat atau untuk membiayai belanja pegawai?” Hal ini ditanyakan oleh Mayla.

Sebelum pertanyaan dilanjutkan, Ustad Umar bertanya kepada kami semua. “Siapa yang orang tuanya PNS, ayo angkat tangannya?”

Tidak terlalu banyak santri yang mengangkatkan tangannya, bahkan dari ikhwan sepertinya tidak ada yang mengangkatkan tangannya, mungkin tidak ada diantara mereka yang orang tuanya adalah seorang PNS.

Lalu Ustad Umar bertanya lagi. “Siapa yang orang tuanya pegawai swasta?”

Lagi-lagi hanya sedikit yang mengangkat tangan.

“Siapa yang orang tuanya Wirausaha?”

Barulah banyak santri yang mengangkat tangannya, termasuk aku dan santri ikwan lainnya, karena setahu aku semua antri ikhwan mengangkat tangannya.

Ada yang bertanya. “Wirausaha itu apa Ustad?”

“Wirausaha itu orang yang membuka lapangan pekerjaan sendiri, bahakn tambal ban juga termasuk wirausaha.” Ustad Umar menjelaskan.

Kemudian sesi pertanyaan pun dilanjutkan, dan masih pertanyaan dari santri akhwat.

Dan ini adalah pertanyaan yang terakhir dari akhwat, yaitu dari Rani. “dampak apa yang terjadi jika APBD tidak dkeluarkan ?”

Semua pertanyaan akhwat sudadh dibajakan, selanjutnya adalah membacakan pertanyaan dari Ikhwan.

“Nah sekarang giliran yang ikhwan untuk bertanya, yang mau bertanya angkat tangan!” Perintah Ustad Umar.

Sama hal nya dengan akhwat, tidak semua santri ikhwan bertanya. Dari tujuh orang yang hadir, hanya 3 orang yang bertanya. yaitu dari Yasin, Musa, dan Hawari. Masing-masing dari mereka bertanya

“Bagaimana cara mengatasi masalah pengendapan uang APBD di bank ini.”

“mengapa uang sebesar 80 triliun ini disimpan di bank, dan tidak digunakan untuk kepentingan rakyat?”

“Di bank mana dana APBD itu disimpan, mengapa pemerintah tidak memiliki cara yang lebih kreatif untuk mengembangkan uang APBD dibanding hanya dengan mencari bunga bank dari simpanan dana APBD?” pertanyaan ini dari Hawari, dan seperti biasa pertanyaannya selalu lebih panjang dari yang lain, dan pertanyaannya selalu lebih kreatif.

Semua pertanyaan sudah dibacakan, selanjutnya masuk dalam sesi diskusi, alias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah ditanyakan barusan. Seperti biasa yang didahulukan untuk dijawab pertanyaan yang dinilah lebih mudah untuk djawab atau pertanyaan yang memiliki bobot paling ringan.

Karena pertanyaan dari Cylpa dinilai paling mudah dijawab, maka pertanyaan yang pertama dijawab adalah pertanyaan dari Cylpa, yang menanyakan mengenai fungsi APBD.

“Yang mau jawab angkat tangannya tinggi-tinggi?”

Sepertinya tidak ada yang mengangkat tangan.

Karena tidak ada yang mau menjawab, jadi Ustad Umar lah yang menjawab. Dimulai dari menjelaskan mengenai kepanjangan APBD yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, lalu penjelasan pun dilanjutkan. Anggaran itu apa? Anggaran itu adalah dana yang sudah disediakan atau yang dipatok baik untuk pendapatan maupun dana yang disediakan untuk keperluan disuatu daerah. Lalu fungsinya apa? Agar pemerintah punya target pendapatannya berapa dan punya target stok uang yang akan dibelanjakan untuk daerah itu. itulah fungsi APBD menurut penjelasan dari Ustad Umar.

“Tadi ada yang bertanya. Mengapa uang anggaran APBD itu disimpan bank, nah siapa yang bisa jawab, angkat tangannya?” Tanya Ustad Umar.

Sambil mengangkat tangannya, Hawari langsung menjawab pertanyaan dari putri ini.

“karena bank menyediakan bunga.”

“yaa, benar sekali, karena bank menyediakan bunga.” Ustad Umar megulangi jawaban dari Hawari. Dan Usatad Umar menambahkan bahwa yang paling besar mendapat bunganya adalah simpanan berjangka atau depositem sedangkan yang paling kecil bunganya adalah Giro.

“Lalu yang kedua karena apa? Ada kemungkinan Karena pemerintah itu tidak bisa memanfaatkan uang yang sudah ada, pemerintah tidak kreatif. Dan yang ketiga diduga kuat ada kongkalikong atau adanya persekongkolan antara penguasa daerah dengan bank, karena bank nanti akan memberi bonus kepada pemerintah yang mau menaruh atau menyimpan uang dibanknya. Lalu di bank mana biasanya menyimpan uang ini? Ya sekalian menjawab pertanyaan dari Hawari. Biasanya disimpan di bank BPD(Bank Pembangunan Daerah). Dan yang keempat, karena pemerintah tidak kreatif, mereka ingin mendapatakn uang walaupun itu uang haram, dari hasil bunga bank.”

Setelah pertanyaan itu terjawab, Kemudian beralih ke pertanyaan selanjutnya. pertanyaan dari Wigati. “Lalu bagaimana cara pemerintah mengatasi hal tersebut?”

Seperti biasanya Ustad Umar selalu menawarkan terlebih dahulu kepada kami. “Siapa yang bisa menjawabnya, hayo bagaimana caranya?”

Tidak ada yang mau menjawab.

Akhirnya Ustad Umar yang menjawabnya. “Kalau dalam Islam, jika memang betul suatu daerah itu sudah memenuhi kebutuhan rakyat di daerahnya artinya benar-benar terpenuhi, maka dana lebih itu bisa dialihkan ke provinsi yang lain yang membutuhkan. Tapi masalahnya fakta nya nggak begitu, faktanya saat ini adalah kebutuhan rakyat di daerah itu saja tidak terpenuhi karena duitnya malah banyak yang disimpan di bank, tidak dipakai untuk pembangunan. Jadi apakah pemerintah pusat itu bisa menyelesaikan maslalah ini? FAKTANYA TIDAK BISA.”

Dengan tegas Ustad Umar berkata demikian. Dan ia juga menambahkan bahwa pemerintah itu paling hanya bisa menghimbau.

Lalu berlanjut ke pertanyaan selanjutnya.”Siapa yang menyimpan uang APBD itu di bank?” ini adalah salah satu pertanyaan dari Novia, ia menanyakan dua pertanyaan.

Ustad Umar menjawab pertanyaan itu, tapi sebelumnya ia kembali menawarkan kepada kami untuk menjawabnya. Tapi tidak ada yang mau mengangkatkan tangannya.

“Jadi yang menyimpan uang itu di bank adalah bendaharanya, tapi atas persetujuan kepala daerah provinsi, yaitu Gubernur.” Jawaban yang singkat dari Ustad Umar.

Beralih ke pertanyaan selanjutnya dari Siti. “Mengapa masalah penyimpanana APBD di bank ini bisa terjadi?”

“Ayo siapa yang mau menjawab pertanyaan ini. Mengapa masalah ini bisa terjadi?”

“Masak gak tahu, tadi kan sudah dibahas sebelumya. Satu karena di bank mnyediakan bunga, yang kedua karena pemerintah tidak kreatif. Lalu kenapa pemerintah itu tidak kreatif, seperti yang ditanyakan Hawari? Itu karena pemerintah itu bodoh, meyalurkan uang begitu saja tidak bisa. Kalau susah-susah, bayarin saja semua pelajar-pelajar itu, kesehatan itu digratisin saja semuanya, bayarin obat-obatannya, kan selesai.”

“Lalu pertanyaan selanjutnya apa Nam?” Tanya Ustad Umar kepadaku.

“Mengapa masalah APBD ini selalu menjadi masalah yang klasik.”

“Mengapa? Karena adanya aspek ribawi, alias adanya bank-bank yang menyediakan bunga, jika tidak ada bung pasti tidak menyimpan di bank.” Jelas Ustad Umar kepada kami.

Saat diskusi sedang berlangsung sekitar setengah 40 menit, tiba-tiba hujan pun turun, hujan sedikit mengganggu diskusi ini. Selain suara kami jadi susah terdengar, diskusi juga harus ditunda untuk beberapa saat, karena santri akhwatnya harus mempersiapkan kamar-kamarnya yang bocor.

Beberapa menit kemudian, setelah semua santri telah siap, diskusi pun dilanjutkan dengan beralih ke pertanyan selanjutnya. “APBD itu sebenarnya dibangun untuk membiayai masyarakat atau membiayai gaji pegawai.”

“Siapa yang mau jawab?”

Abdullah, salah satu anak dari Ustad Umar yang besokalah di homeschooling pun mencoba untuk menjawab pertanyaan itu. “Aku tahu bi, sebenarnya untuk masyarakat tapi malah digunakan untuk pegawai.”

Tenyata jawaban dari Abdullah itu tidak benar, Ustad Umar membenarkan jawabannya. Menurutnya yang benar itu adalah untuk kedua-duanya, ada yang namanya belanja tetap dan ada yang namanya belanja tidak tetap. Beliau lalu menambahkan, contoh belanja yang tetap adalah seperti gaji pegawai, gaji PNS. Gaji PNS itu sebagian diambil dari APBD dan ada juga yang dimabil dari APBN, terus yang termasuk bekanja tetap yang lainnya seperti biaya pensiun, biaya rapat-rapat dan yang lainnya. Kemudia beliau juga menyebutkan contoh-contoh belanja yang tidak tetap adalah seperti biaya pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Tapi yang sering terjadi biaya tidak tetap ini malah sering terabaikan, akhirnya pembangunan yang seharusnya banyak dilakukan malah tidak bisa diterapkan, padahal sebenarnya di dalam Islam itu, rumah-rumah penduduk yang sudah ambruk itu seharusnya dibangun kembali menggunkaan uang daerah. Begitu juga kerusakan yang terjadi karena bencana-bencana.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah. “dampak apa yang terjadi jika APBD tidak dikeluaran?”

Mungkin Ustad Umar lupa menawarkan pertanyaan itu kepada kami, sehingga ia langsung menjawab pertanyaan itu tanpa menawarkannya terlebih dahulu. “sebenarnya pertanyaan yang tepat adalah mengapa APBD itu tidak semua dikeluarkan? APBD itu sebenarnya dikeluarkan, tapi selalu saja ada yang disisakkan. dan akibatnya daerah itu tidak akan berkembang, contohnya jalannya itu-itu saja, jumlah jalan tetap padahal jumlah penduduk dan jumlah kendaraan semakin banyak. Pendidikannya juga tidak berkembang, malahan sekarang yang berkembang itu adalah sekolah swasta. Terus juga akibat yang lain adalah hidup terasa semakin sulit, selain itu juga uang itu nanti akan menjadi rebutan kepala daerah, karena kepala daerahnya pasti diduga kuat mendapat bonus dari bank BPD.

Diskusi sempat ditunda sebentar, karena sang Moderator perlu ke toilet.

Tak lama kemudian, diskusi pun dilanjutkan.

Pertanyaan selanjtunya adalah pertanyaan dari Hawari. “Mengapa pemerintah tidak kreatif dalam menggunakan uang APBD ini?”

Seperti biasanya Ustad Umar selalu menawarkan. “siapa yang mau menjawab pertanyaan ini?”

Lalu Taqi yang juga salah satu anak dari Ustad Umar yang juga bersekolah di homeschooling pun mengangkat tangannya, pertanda ia mau menjawabnya.

”karena mereka tidak sekolah.”

“kata Taqi tadi karena mereka tidak sekolah. Salah jawabannya, banyak orang yang sekolah tapi tidak kreatif, dan banyak orang yang tidak sekolah tapi malah justru lebih kreatif. Lalu Kenapa? Karena malas tidak mau belajar, hanya ingin berkuasa, dan juga karena tidak tahu bagaimana cara mengembangkan uang secara Islami, seperti membuat industri, atau seharusnya pemerintah bekerja sama dengan rakyatnya yang perlu di modali, misalnya usaha-usaha kecil, kan masih banyak petani-petani dan perkebunan yang masih memerlukan modal. Atau yang lain contohnya seperti kemarin, pembuatan mobil esemka yang mendapat modal dari pemerintah, supaya harga mobilnya murah, gak sampai ratusan juta. Jalan-jalan juga dibuat, supaya tidak macet, pasar-pasar dibuat. Kan uangnya bisa habis, daripada dismpan di bank.” Ustad Umar memebetulkan jawaban dari Taqi.

“Lalu pertanyaan selanjutnya apa Nam?”

Sebagai Notulen aku membacakan pertanyaan selanjutnya, pertanyaan yang berasal dari yasin. “Bagaimana cara mengatasi masalah pengendapan uang APBD?”

“Ya, cara mengatasi nya sebenarnya gampang, hilangkan saja BPD (Bank Pemabnguan Daerah). Kalau pun ada BPD tidak boleh dengan riba, atau dengan bunga. Jadi pemerintah pasti tidak mau menaruh uangnya di Bank. Yang kedua uang itu harus diawasi agar semuanya habis terpakai pada tahun itu untuk kepentingan rakyat. Caranya bagaimana? Cara nya pemerintahnya harus tahu cara mengelola uang untuk kepentingan masyarakat agar berkmebang. Kalau gak bisa lagi, kasih aja ke fakir miskin yang masih banyak membutuhkan. Jadi uangnya dapat bermanfaat daripada hanya disimpan di bank.”

Pertanyaan yag harus djawab selanjutnya adalah pertanyaan dari Musa. “mengapa uang sebesar 80 triliun ini disimpan di bank, dan tidak digunakan untuk kepentingan rakyat?”

Karena maghrib tinggal bebrapa menit, Ustad Umar langsung saja menjawabnya. “Tadi juga sudah dibahas kan. Karena pemerintah tidak kreatif dalam mengelola uang, pemerintah tidak mau belajar cara memanfaatkan uang yang Islami, pemerintah tidak tahu cara mengelolah uang yang sudah ada, atau juga diduga kuat ada kongkalikong dengan pihak bank.”

Diskusi berjalan semakin terburu-buru, karen amengejar waktu yang sebentar lagi maghrib.

Dan pertanyaan yang terakhir adalah dari Novia. “Bagaimaa pandangan Islam mengnai hal ini?”

“Ayo siapa yang mau jawab?” Ustad Umar menawarkan kepada kami.

Karena tidak ada yang menjawab, maka beliau menjawabnya. “Dalam Islam, jelas sekali tidak boleh menyimpan uang rakyatnya di bank, bahkan menyimpan di kas negara pun tidak dibolehkan. Rasulullah pernah suatu saat, habis sholat, sesudah salam Rasulullah langsung meloncat. Rasulullah teringat kalau dirumahnya masih ada satu dinar yang masih disimpan dirumah Rasulullah, dan belum diberikan ke fakir miskin.”

“Jadi tidak boleh menyimpan uang rakyat di bank, kalaupun ada yang disimpan itu hanya untuk persiapan jika terjadi bencana. Selain dari itu didistribusikan semuanya. Kalau semua nya sudah dimodalin tapi uang nya masih sisa gimana? Gampang, seperti yang saya bilang tadi kasikan saja ke fakir miskin atau yang membutuhkan. Bahkan pernah dulu pada zaman Umar bin Abdul Azis ia memberikan uang/modal kepada laki-laki yang belum nikah, agar cepat-cepat nikah. Dan jika masih lebih juga, uangnya bisa digunakan untuk membebaskan budak yang belum merdeka baik yang didalam negeri maupun yang diluar negeri. Sehingga dimasa Islam, orang itu kaya-kaya. Karena rakyat tidak pernah dikenai pajak, karena didalam Islam tidak ada yang namanya pa pajak, yang ada zakat, jiziah(upeti orang kafir yang hidup dalam negara Islam).” Begitulah Ustad Umr menerangkannya.

Semua pertanyaan telah terjawab, dan dengan djawabnya pertanyaan terakhir ini oleh Ustad Umar, diskusi pun ahkhirnya selesai setelah terdengar azan Maghrib. Diskusi itu diakhiri dengan membaca kafaratul majlis bersama-sama.

Jadi, saya sebagai notulen menyimpulkan. Pemerintah itu sebenarnya sudah salah karena menyimpan uang APBD di bank, seharusnya uang itu disaluran untuk kebutuhan daerah dan masyrakat karena masih banya daerah-daerah yang belum memnuhi kebutuhannya . Di dalam Isalm tidak dibenarkan menyimpan uang rakyat di bank atau pun di kas negara. Seharusnya pemerintah harus lebih kreatif dalam mengelola uang APBD ini, tidak malah ditaruh di bank.”

itulah diskusi kali ini rabu 10 Oktober 2012.

Ternyata 80 Triliun uang APBD Ngendap di Bank

ini adalah Diskusi Aktual Pesantren Media. Rabu, 10 Oktober 2012 

Hak rakyat menikmati fasilitas pelayanan publik yang lebih baik ternyata semakin tahun terus-menerus dibajak oleh pemerintahnya sendiri. Seperti yang diberitakan di koran KOMPAS edisi Rabu 8 Oktober 2012, yang berisi mengenai pengendapan uang anggaran APBD di Bank yang setiap tahun semakin meningkat. Dalam laporan itu disebutkan juga, berdasarkan data kementrian keuangan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD yang mengendap di Bank pada akhir tahun 2002 sebanyak 22 Triliun Rupiah, pada akhir tahun 2009 sebanyak 59 Triliun Rupiah, dan Akhir Desember 2011 meroket menjadi 80,4 Trilun Rupiah. Wah jelas sekali, bahwa hak rakyat memang terus-menerus dibajak oleh pemerintah, Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan daerah, malah disimpan di bank yang entah apa tujuannya.

Dengan adanya data itulah, pada diskusi kali ini, Rabu 10 Oktober 2012, Pesantren Media mengambil judul ‘Ternyata 80 Triliun Uang APBD Ngendap di Bank’. Seperti biasanya, diskusi ini diadakan di lantai dasar Pesantren Media dengan dihadiri Ustad Umar sebagai moderator atau pemimpin diskusi, aku(Ahmad Khoirul Anam) sebagai notulen, dan juga dihadiri oleh seluruh santri Pesantren media, kecuali Kak Farid yang sedang pulang karena ada suatu urusan. Dan tidak seperti biasanya Ustad Oleh tidak hadir dalam diskusi kali ini.

Diskusi pun dimulai, seperti bisanya selalu dibuka oleh Moderator, begitu juga pada diskusi kali ini. Sebagai pembukaan, Ustad Umar menjelaskan betapa terkejutnya beliau saat pertama kali membaca berita ini dari koran KOMPAS. Kok bisa gini? Beliau hampir tidak percaya, dan beliau menambahkan jika dirinya luar biasa terkejut saat membaca berita ini. Ternyata sebenarnya masyarakat ini memiliki banyak uang. Hanya saja pemerintah tidak menggunakan uang ini untuk kebutuhan masyarakat yang masih banyak memerlukannya, tapi pemerintah malah menyimpan uang ini ke bank, padahal kebutuhan daerah dan masyarakat masih belum terpenuhi semua.

Kemudian diskusi pun dilanjutkan dengan sesi pertanyaan. “Ayo siapa yang mau bertanya angkat tangannya, jangan angkat kaki, kalau angkat tangan pakai tangan kanan ya?” seperti biasa Ustad Umar selalu bercanada, jadi diskusi ini menjadi lebih seru.

Hampir seluruh santri mengangkat tangan, karena rata-rata dari mereka sudah mempersiapkan pertanyaan dari rumah. Tapi tetap ada saja yang tidak bertanya, termasuk aku. Karena sejujurnya aku masih bingung dengan tema yang diangkat kali ini, maksud nya apa?

Lupakan tentang itu. karena sekarang adalah waktunya membacakan pertanyaaan.

“Ayo, yang akhwat duluan, bacakan pertanyaannya!”

Satu-persatu pertanyaan pun dibacakan.

Yang pertama dibacakan adalah pertanyaan Putri. “Untuk apa pemerintah menyimpan uang APBD ini di bank?”

Kemudian pertanyaan dari Wigati. “bagaimana cara pemerintah mengatasi masalah penyimpanan uang APBD di bank ini?”

Dan pertanyaan yang paling singkat, berasal dari Cylpa. “Apa fungsi APBD?”

Kemudian masih dari santri akhwat, kali ini pertanyaan dari novia. “ Siapa yang menyimpan uang APBD di bank, dan bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini?”

Pertanyaa dari Siti. “Mengapa masalah ini bisa terjadi?”

Dari dini yang pertanyaannya agak sulit kutangkap, karena seperti biasa penjelasannya yang selalu panjang lebar dan rumit, namun Ustad Umar selaku moderator pun mengulangi lagi pertanyaannya. “mengapa maslah APBD ini selalu menjadi masalah klasik di Indonesia?”

“APBD ini dibangun untuk membiayai masyarakat atau untuk membiayai belanja pegawai?” Hal ini ditanyakan oleh Mayla.

Sebelum pertanyaan dilanjutkan, Ustad Umar bertanya kepada kami semua. “Siapa yang orang tuanya PNS, ayo angkat tangannya?”

Tidak terlalu banyak santri yang mengangkatkan tangannya, bahkan dari ikhwan sepertinya tidak ada yang mengangkatkan tangannya, mungkin tidak ada diantara mereka yang orang tuanya adalah seorang PNS.

Lalu Ustad Umar bertanya lagi. “Siapa yang orang tuanya pegawai swasta?”

Lagi-lagi hanya sedikit yang mengangkat tangan.

“Siapa yang orang tuanya Wirausaha?”

Barulah banyak santri yang mengangkat tangannya, termasuk aku dan santri ikwan lainnya, karena setahu aku semua antri ikhwan mengangkat tangannya.

Ada yang bertanya. “Wirausaha itu apa Ustad?”

“Wirausaha itu orang yang membuka lapangan pekerjaan sendiri, bahakn tambal ban juga termasuk wirausaha.” Ustad Umar menjelaskan.

Kemudian sesi pertanyaan pun dilanjutkan, dan masih pertanyaan dari santri akhwat.

Dan ini adalah pertanyaan yang terakhir dari akhwat, yaitu dari Rani. “dampak apa yang terjadi jika APBD tidak dkeluarkan ?”

Semua pertanyaan akhwat sudadh dibajakan, selanjutnya adalah membacakan pertanyaan dari Ikhwan.

“Nah sekarang giliran yang ikhwan untuk bertanya, yang mau bertanya angkat tangan!” Perintah Ustad Umar.

Sama hal nya dengan akhwat, tidak semua santri ikhwan bertanya. Dari tujuh orang yang hadir, hanya 3 orang yang bertanya. yaitu dari Yasin, Musa, dan Hawari. Masing-masing dari mereka bertanya

“Bagaimana cara mengatasi masalah pengendapan uang APBD di bank ini.”

“mengapa uang sebesar 80 triliun ini disimpan di bank, dan tidak digunakan untuk kepentingan rakyat?”

“Di bank mana dana APBD itu disimpan, mengapa pemerintah tidak memiliki cara yang lebih kreatif untuk mengembangkan uang APBD dibanding hanya dengan mencari bunga bank dari simpanan dana APBD?” pertanyaan ini dari Hawari, dan seperti biasa pertanyaannya selalu lebih panjang dari yang lain, dan pertanyaannya selalu lebih kreatif.

Semua pertanyaan sudah dibacakan, selanjutnya masuk dalam sesi diskusi, alias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah ditanyakan barusan. Seperti biasa yang didahulukan untuk dijawab pertanyaan yang dinilah lebih mudah untuk djawab atau pertanyaan yang memiliki bobot paling ringan.

Karena pertanyaan dari Cylpa dinilai paling mudah dijawab, maka pertanyaan yang pertama dijawab adalah pertanyaan dari Cylpa, yang menanyakan mengenai fungsi APBD.

“Yang mau jawab angkat tangannya tinggi-tinggi?”

Sepertinya tidak ada yang mengangkat tangan.

Karena tidak ada yang mau menjawab, jadi Ustad Umar lah yang menjawab. Dimulai dari menjelaskan mengenai kepanjangan APBD yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, lalu penjelasan pun dilanjutkan. Anggaran itu apa? Anggaran itu adalah dana yang sudah disediakan atau yang dipatok baik untuk pendapatan maupun dana yang disediakan untuk keperluan disuatu daerah. Lalu fungsinya apa? Agar pemerintah punya target pendapatannya berapa dan punya target stok uang yang akan dibelanjakan untuk daerah itu. itulah fungsi APBD menurut penjelasan dari Ustad Umar.

“Tadi ada yang bertanya. Mengapa uang anggaran APBD itu disimpan bank, nah siapa yang bisa jawab, angkat tangannya?” Tanya Ustad Umar.

Sambil mengangkat tangannya, Hawari langsung menjawab pertanyaan dari putri ini.

“karena bank menyediakan bunga.”

“yaa, benar sekali, karena bank menyediakan bunga.” Ustad Umar megulangi jawaban dari Hawari. Dan Usatad Umar menambahkan bahwa yang paling besar mendapat bunganya adalah simpanan berjangka atau depositem sedangkan yang paling kecil bunganya adalah Giro.

“Lalu yang kedua karena apa? Ada kemungkinan Karena pemerintah itu tidak bisa memanfaatkan uang yang sudah ada, pemerintah tidak kreatif. Dan yang ketiga diduga kuat ada kongkalikong atau adanya persekongkolan antara penguasa daerah dengan bank, karena bank nanti akan memberi bonus kepada pemerintah yang mau menaruh atau menyimpan uang dibanknya. Lalu di bank mana biasanya menyimpan uang ini? Ya sekalian menjawab pertanyaan dari Hawari. Biasanya disimpan di bank BPD(Bank Pembangunan Daerah). Dan yang keempat, karena pemerintah tidak kreatif, mereka ingin mendapatakn uang walaupun itu uang haram, dari hasil bunga bank.”

Setelah pertanyaan itu terjawab, Kemudian beralih ke pertanyaan selanjutnya. pertanyaan dari Wigati. “Lalu bagaimana cara pemerintah mengatasi hal tersebut?”

Seperti biasanya Ustad Umar selalu menawarkan terlebih dahulu kepada kami. “Siapa yang bisa menjawabnya, hayo bagaimana caranya?”

Tidak ada yang mau menjawab.

Akhirnya Ustad Umar yang menjawabnya. “Kalau dalam Islam, jika memang betul suatu daerah itu sudah memenuhi kebutuhan rakyat di daerahnya artinya benar-benar terpenuhi, maka dana lebih itu bisa dialihkan ke provinsi yang lain yang membutuhkan. Tapi masalahnya fakta nya nggak begitu, faktanya saat ini adalah kebutuhan rakyat di daerah itu saja tidak terpenuhi karena duitnya malah banyak yang disimpan di bank, tidak dipakai untuk pembangunan. Jadi apakah pemerintah pusat itu bisa menyelesaikan maslalah ini? FAKTANYA TIDAK BISA.”

Dengan tegas Ustad Umar berkata demikian. Dan ia juga menambahkan bahwa pemerintah itu paling hanya bisa menghimbau.

Lalu berlanjut ke pertanyaan selanjutnya.”Siapa yang menyimpan uang APBD itu di bank?” ini adalah salah satu pertanyaan dari Novia, ia menanyakan dua pertanyaan.

Ustad Umar menjawab pertanyaan itu, tapi sebelumnya ia kembali menawarkan kepada kami untuk menjawabnya. Tapi tidak ada yang mau mengangkatkan tangannya.

“Jadi yang menyimpan uang itu di bank adalah bendaharanya, tapi atas persetujuan kepala daerah provinsi, yaitu Gubernur.” Jawaban yang singkat dari Ustad Umar.

Beralih ke pertanyaan selanjutnya dari Siti. “Mengapa masalah penyimpanana APBD di bank ini bisa terjadi?”

“Ayo siapa yang mau menjawab pertanyaan ini. Mengapa masalah ini bisa terjadi?”

“Masak gak tahu, tadi kan sudah dibahas sebelumya. Satu karena di bank mnyediakan bunga, yang kedua karena pemerintah tidak kreatif. Lalu kenapa pemerintah itu tidak kreatif, seperti yang ditanyakan Hawari? Itu karena pemerintah itu bodoh, meyalurkan uang begitu saja tidak bisa. Kalau susah-susah, bayarin saja semua pelajar-pelajar itu, kesehatan itu digratisin saja semuanya, bayarin obat-obatannya, kan selesai.”

“Lalu pertanyaan selanjutnya apa Nam?” Tanya Ustad Umar kepadaku.

“Mengapa masalah APBD ini selalu menjadi masalah yang klasik.”

“Mengapa? Karena adanya aspek ribawi, alias adanya bank-bank yang menyediakan bunga, jika tidak ada bung pasti tidak menyimpan di bank.” Jelas Ustad Umar kepada kami.

Saat diskusi sedang berlangsung sekitar setengah 40 menit, tiba-tiba hujan pun turun, hujan sedikit mengganggu diskusi ini. Selain suara kami jadi susah terdengar, diskusi juga harus ditunda untuk beberapa saat, karena santri akhwatnya harus mempersiapkan kamar-kamarnya yang bocor.

Beberapa menit kemudian, setelah semua santri telah siap, diskusi pun dilanjutkan dengan beralih ke pertanyan selanjutnya. “APBD itu sebenarnya dibangun untuk membiayai masyarakat atau membiayai gaji pegawai.”

“Siapa yang mau jawab?”

Abdullah, salah satu anak dari Ustad Umar yang besokalah di homeschooling pun mencoba untuk menjawab pertanyaan itu. “Aku tahu bi, sebenarnya untuk masyarakat tapi malah digunakan untuk pegawai.”

Tenyata jawaban dari Abdullah itu tidak benar, Ustad Umar membenarkan jawabannya. Menurutnya yang benar itu adalah untuk kedua-duanya, ada yang namanya belanja tetap dan ada yang namanya belanja tidak tetap. Beliau lalu menambahkan, contoh belanja yang tetap adalah seperti gaji pegawai, gaji PNS. Gaji PNS itu sebagian diambil dari APBD dan ada juga yang dimabil dari APBN, terus yang termasuk bekanja tetap yang lainnya seperti biaya pensiun, biaya rapat-rapat dan yang lainnya. Kemudia beliau juga menyebutkan contoh-contoh belanja yang tidak tetap adalah seperti biaya pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Tapi yang sering terjadi biaya tidak tetap ini malah sering terabaikan, akhirnya pembangunan yang seharusnya banyak dilakukan malah tidak bisa diterapkan, padahal sebenarnya di dalam Islam itu, rumah-rumah penduduk yang sudah ambruk itu seharusnya dibangun kembali menggunkaan uang daerah. Begitu juga kerusakan yang terjadi karena bencana-bencana.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah. “dampak apa yang terjadi jika APBD tidak dikeluaran?”

Mungkin Ustad Umar lupa menawarkan pertanyaan itu kepada kami, sehingga ia langsung menjawab pertanyaan itu tanpa menawarkannya terlebih dahulu. “sebenarnya pertanyaan yang tepat adalah mengapa APBD itu tidak semua dikeluarkan? APBD itu sebenarnya dikeluarkan, tapi selalu saja ada yang disisakkan. dan akibatnya daerah itu tidak akan berkembang, contohnya jalannya itu-itu saja, jumlah jalan tetap padahal jumlah penduduk dan jumlah kendaraan semakin banyak. Pendidikannya juga tidak berkembang, malahan sekarang yang berkembang itu adalah sekolah swasta. Terus juga akibat yang lain adalah hidup terasa semakin sulit, selain itu juga uang itu nanti akan menjadi rebutan kepala daerah, karena kepala daerahnya pasti diduga kuat mendapat bonus dari bank BPD.

Diskusi sempat ditunda sebentar, karena sang Moderator perlu ke toilet.

Tak lama kemudian, diskusi pun dilanjutkan.

Pertanyaan selanjtunya adalah pertanyaan dari Hawari. “Mengapa pemerintah tidak kreatif dalam menggunakan uang APBD ini?”

Seperti biasanya Ustad Umar selalu menawarkan. “siapa yang mau menjawab pertanyaan ini?”

Lalu Taqi yang juga salah satu anak dari Ustad Umar yang juga bersekolah di homeschooling pun mengangkat tangannya, pertanda ia mau menjawabnya.

”karena mereka tidak sekolah.”

“kata Taqi tadi karena mereka tidak sekolah. Salah jawabannya, banyak orang yang sekolah tapi tidak kreatif, dan banyak orang yang tidak sekolah tapi malah justru lebih kreatif. Lalu Kenapa? Karena malas tidak mau belajar, hanya ingin berkuasa, dan juga karena tidak tahu bagaimana cara mengembangkan uang secara Islami, seperti membuat industri, atau seharusnya pemerintah bekerja sama dengan rakyatnya yang perlu di modali, misalnya usaha-usaha kecil, kan masih banyak petani-petani dan perkebunan yang masih memerlukan modal. Atau yang lain contohnya seperti kemarin, pembuatan mobil esemka yang mendapat modal dari pemerintah, supaya harga mobilnya murah, gak sampai ratusan juta. Jalan-jalan juga dibuat, supaya tidak macet, pasar-pasar dibuat. Kan uangnya bisa habis, daripada dismpan di bank.” Ustad Umar memebetulkan jawaban dari Taqi.

“Lalu pertanyaan selanjutnya apa Nam?”

Sebagai Notulen aku membacakan pertanyaan selanjutnya, pertanyaan yang berasal dari yasin. “Bagaimana cara mengatasi masalah pengendapan uang APBD?”

“Ya, cara mengatasi nya sebenarnya gampang, hilangkan saja BPD (Bank Pemabnguan Daerah). Kalau pun ada BPD tidak boleh dengan riba, atau dengan bunga. Jadi pemerintah pasti tidak mau menaruh uangnya di Bank. Yang kedua uang itu harus diawasi agar semuanya habis terpakai pada tahun itu untuk kepentingan rakyat. Caranya bagaimana? Cara nya pemerintahnya harus tahu cara mengelola uang untuk kepentingan masyarakat agar berkmebang. Kalau gak bisa lagi, kasih aja ke fakir miskin yang masih banyak membutuhkan. Jadi uangnya dapat bermanfaat daripada hanya disimpan di bank.”

Pertanyaan yag harus djawab selanjutnya adalah pertanyaan dari Musa. “mengapa uang sebesar 80 triliun ini disimpan di bank, dan tidak digunakan untuk kepentingan rakyat?”

Karena maghrib tinggal bebrapa menit, Ustad Umar langsung saja menjawabnya. “Tadi juga sudah dibahas kan. Karena pemerintah tidak kreatif dalam mengelola uang, pemerintah tidak mau belajar cara memanfaatkan uang yang Islami, pemerintah tidak tahu cara mengelolah uang yang sudah ada, atau juga diduga kuat ada kongkalikong dengan pihak bank.”

Diskusi berjalan semakin terburu-buru, karen amengejar waktu yang sebentar lagi maghrib.

Dan pertanyaan yang terakhir adalah dari Novia. “Bagaimaa pandangan Islam mengnai hal ini?”

“Ayo siapa yang mau jawab?” Ustad Umar menawarkan kepada kami.

Karena tidak ada yang menjawab, maka beliau menjawabnya. “Dalam Islam, jelas sekali tidak boleh menyimpan uang rakyatnya di bank, bahkan menyimpan di kas negara pun tidak dibolehkan. Rasulullah pernah suatu saat, habis sholat, sesudah salam Rasulullah langsung meloncat. Rasulullah teringat kalau dirumahnya masih ada satu dinar yang masih disimpan dirumah Rasulullah, dan belum diberikan ke fakir miskin.”

“Jadi tidak boleh menyimpan uang rakyat di bank, kalaupun ada yang disimpan itu hanya untuk persiapan jika terjadi bencana. Selain dari itu didistribusikan semuanya. Kalau semua nya sudah dimodalin tapi uang nya masih sisa gimana? Gampang, seperti yang saya bilang tadi kasikan saja ke fakir miskin atau yang membutuhkan. Bahkan pernah dulu pada zaman Umar bin Abdul Azis ia memberikan uang/modal kepada laki-laki yang belum nikah, agar cepat-cepat nikah. Dan jika masih lebih juga, uangnya bisa digunakan untuk membebaskan budak yang belum merdeka baik yang didalam negeri maupun yang diluar negeri. Sehingga dimasa Islam, orang itu kaya-kaya. Karena rakyat tidak pernah dikenai pajak, karena didalam Islam tidak ada yang namanya pa pajak, yang ada zakat, jiziah(upeti orang kafir yang hidup dalam negara Islam).” Begitulah Ustad Umr menerangkannya.

Semua pertanyaan telah terjawab, dan dengan djawabnya pertanyaan terakhir ini oleh Ustad Umar, diskusi pun ahkhirnya selesai setelah terdengar azan Maghrib. Diskusi itu diakhiri dengan membaca kafaratul majlis bersama-sama.

Jadi, saya sebagai notulen menyimpulkan. Pemerintah itu sebenarnya sudah salah karena menyimpan uang APBD di bank, seharusnya uang itu disaluran untuk kebutuhan daerah dan masyrakat karena masih banya daerah-daerah yang belum memnuhi kebutuhannya . Di dalam Isalm tidak dibenarkan menyimpan uang rakyat di bank atau pun di kas negara. Seharusnya pemerintah harus lebih kreatif dalam mengelola uang APBD ini, tidak malah ditaruh di bank.”

itulah diskusi kali ini rabu 10 Oktober 2012.
Siapa yang tidak suka dengan jalan-jalan. Aku yakin kalian yang membaca ini pasti suka dengan jalan-jalan, atau paling tidak kalian juga pernah jalan-jalan kan. Jalan-jalan itu dapat berati luas. Bisa diartikan rekreasi, liburan, kunjungan, cuma mondar-mandir, berbelanja, keling-keliling, bokoknya banyak deh. Begitu juga diriku, aku senang jika diajak jalan-jalan, tapi terkadang tidak senang juga kalau tidak punya uang.

Ngomong-ngomong tentang jalan-jalan, aku punya cerita tentang perjalanan yang seru ni. Pokoknya wajib dibaca deh. Sebenarnya jalan-jalanku kali ini bisa dibilang rekreasi, tapi tidak sepenuhnya rekreasi, karena selain untuk rekreasi, jalan-jalan ini juga merupakan bentuk penerapan dari apa yang telah aku pelajari sebelumnya di pesantren media. Sekitar 3 bulan aku bersekolah di pesantren media ini, sudah banyak pelajaran yang aku dan kawan-kawan terima, dan sekarang adalah waktunya kami menerapkan semua ilmu yang telah diberikan itu, mulai dari fotografi, menulis perjalanan, aqidah Islamiyah, membaca fakta, wawacara, dan yang lainnya. semua itu harus kami tuangkan dalam sebuah tulisan, dan itulah mengapa tulisan ini dapat aku buat.

Kali ini, kami semua (santri-santri pesantren media) akan berekreasi ke curuk luhur yang terletak di lereng gunung salak. Untuk mengetahui bagimana keseruan ceritanya, dibaca aja sampai habis.

Usai sholat subuh di masjid Nurul Iman, aku dan teman-temanku lainnya (santri pesantren media), sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Baju ganti, minum, kantong kresek, HP, dan payung, semuanya sudah kupersiapkan dengan matang, dan berulang-ulang aku memeriksa lagi semua barang-barang itu agar tidak ada yang tertinggal. Semua nya benar-benar kupersiapkan dengan baik.

Jam setengah tujuh, kami semua ngumpul di pesantren media. Selain untuk makan pagi, juga untuk mendengarkan pengumuman dan pengarahan dari Ustad Umar, diantaranya adalah pengumuman mengenai barang-barang yang harus dibawa, mengenai transportasi, dan mengenai tugas yang harus kami selesaikan.

Jam tujuh kurang lima belas menit, dua angkot sudah datang ke pesantren media utuk menjemput kami, dan tepat jam tujuh kami pun berangkat. jumlah peumpang yang tidak sesuai dengan ukuran angkot membuat kami semua bersempit-sempitan, ada 12 orang penumpang di dalam angkot yang kami naiki itu. Yaitu, aku, Musa, Kak Farid, hawari, Heri, Yusuf, Abdullah, Taqi, dan 4 orang akhwat ditambah satu lagi sopir.

Mobil pun berangkat ke arah pagelaran, di pertigaan pagelaran kami belok kanan, kurang lebih 300 M, kami belok kanan lagi, kemudian dari situ kami lurus terus melewati jalan raya pangkalan taman pasir, desa sukajadi. Lalu setelah itu aku tidak terlalu memperhatikan jalan lagi,aku ngantuk sehingga hanya bisa tertunduk-tunduk lesu. Yang aku tahu semakin lama jalanan semakin sempit, daerah semakin sunyi, suasana pedesaan semakin terasa, dan yang paling terasa adalah suhu udaranya yang lebih dingin.

Sudah sekitar setengah jam kami melakukan perjalanan, tapi sepertinya kami belum juga sampai ke lereng gunung salak, tapi gunung salak terlihat semakin dekat dan sangat dekat, hingga tak terasa lama-kelamaan kami sudah berada di tempat yang tinggi. Gunung salak sudah tidak terlihat lagi, mungkin kami sudah berada di punggungnya, namun jalanan tetap menanjak dan berliku-liku, dan berkali-kali pula mobil angkot yang kami naiki mati mesinnya, sehingga membuat aku dan para penumpang lainnya sedikit panik.

Aku sempat membayangkan betapa pentingnya keberadaan gunug di Bumi, bayangkan saja jika tidak ada gunung, pasti bumi ini akan goyang. Karena sesungguhnya Allah menciptakan gunung di bumi ini antara lain sebagai pasak agar bumi ini tidak goyang, seperti firman Allah dalam surah An-Naba ayat 7 yang artinya:

dan telah kami jadikan gunung-gunung sebagai Pasak( pasak bumi).

Dan juga dalam suarah al-Anbiya yang berbunyi:

َجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Yang artinya: dan telah kami jadikan di bui ini gunung-gunung yang kokoh, supaya bumi itu tidak goncang bersama mereka dan telah kami jadikan pula di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk

Dari dua ayat diatas, jelas sekali bahwa, Gunung itu diciptakan Allah untuk menjaga bumi agar tidak guncang.

Itu sedikit mengenai penciptaan gunung. Baiklah cerita pun berlanjut.

Aku tak menyangka ternyata perjalanan ke curuk luhur bisa membutuhkan waktu selama ini, padahal dari pesantren, gunung salak itu terlihat dekat. Namun akhirnya setelah 50 menit perjalanan, kami akhirnya sampai juga ke curuk luhur. Dari luar tempat ini tidak terlihat seperti tempat wisata, bahkan air terjunnya pun belum terlihat, aku masih bertanya-tanya dalam hati, seperti apa ya air terjunnya, apakah seindah yang aku lihat di internet, ataukah lebih jelek. Yang pasti aku sudah tidak sabar untuk masuk dan mengambil foto.

Dan tibalah saatnya kami masuk ke dalam tempat wisata ini, setelah masuk, aku terkesima melihat ke bawah, bukan karena kagum dengan air terjunnya, tapi aku heran sekali, karena dari atas tidak terlihat sama sekali ada air terjun yang mengalir, aku hanya melihat banyak nya kolam renang, waterslide dan waterboom seperti yang terlihat pada gambar di samping. Aku heran sekali, aku berpikir bahwa kami salah tempat, tapi jelas sekali dari luar tertulis CURUK LUHUR.

Untuk memastikan semua nya, dan agar kami semua tidak bertanya-tanya terus, akhirnya kami semua turun ke bawah dan mencoba mencari air terjun itu, dari bawah barulah terlihat air terjun yang mengalir deras, kami langsung menuju air terjun itu.

Saat dekat sengan Curuk itu, Suara kami hampir tidak terdengar karena kalah dengan suara air terjun yang ada. Tapi air terjun yang aku lihat ini, berbeda sekali dengan airu terjun yang aku lihat dari internet, di internet lebih terlihat alami dan indah, sedangkan yang aku lihat ini sudah berbeda jauh, suasana alami nya sudah hilang. Tapi tak apalah, semua nya tetap terlihat indah.

Berdasarkan yang aku baca di sekiatar lokasi, tinggi curuk luhur ini sekitar 39 meter. Sedangkan kedalamannya mencapai 3 meter.

Oia temen –temen, ngomong mengenai air terjun, aku jadi teringat mengenai air tawar dan air asin. Kalian pernah kan mendengar berita adanya sungai di bwah laut, dan anehnya lagi air tawar itu tidak mau menyatu dengan air asin. Mungkin fenomena itu terasa aneh dan tidak masuk akal, tapi sebenarnya di dalam al-Qur’an Allah sudah menjelaskan tentang hal ini sebelumnya di dalam surah al-Furqan ayat 53 yang artinya:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas yang menghalaginya.

Jelas lah, bahwa air asin dan air tawar itu memang sudah ditakdirkan untuk tidak bercampur. Bayangakanlah jika semua air di bumi ini terasa asin, manusia pasti bingung, apa yang harus diminum. Tapi Allah telah menciptakan adanya air tawar untuk manusia dan makhluk lainnya yang membutuhkan.

Jadi jagalah dan manfaatkanlah air tawar ini sebaik-baiknya, jangan di sia-siakan.

baiklah kita lanjutkan lagi ceritanya

Aku tak mau melupakan sedikit pun kenangan ini, aku langsung memotret-motret air terjun dan sekitarnya, dan untuk memuasakan diri, kami semua(santri ikhwan) pun terjun ke telaga air terjun itu. Airnya sungguh dingin dan segar. Beberapa menit mandi di telaga itu membuat kami semua kedinginan, padahal Cuma beberapa menit, tapi sungguh dingin sekali, akhirnya kami semua pun menyudahkan mandi di telaga ini, tapi sebelum itu kami foto-foto terebih dahulu.

Meskipun kami sudah kedinginan akibat mandi di telaga itu, tapi tidak membuat kami menyudahi semua ini, kami mencoba untuk mandi di kolam renang yang ada di curuk ini. untuk yang pertama kalinya, kami mencoba ke kolam kecil yang ada waterboomnya. Wah pasti seru ni menahan terpaan air dari waterboom itu.

Bosan bermain-main di kolam wateboom, kami pun beralih menuju kolam lainnya, satu persatu kolam renang yang ada di curuk luhur ini kami coba. Selain kolam, kami juga mencoba waterslide(sebut saja luncuran) yang ada disini, dari yang kecil, yang pendek, berliku-liku, yang pajang, taupun yang tinggi sekalipun. Yang biasa hingga yang membuat histeris dan ketakutan.

Kemudaian saat kami merasa capek dan benar-benar kedinginan, kami semua memutuskan untuk segera menyudahi semua kesenangan ini. Tapi sebelum menyudahi itu semua, kami semua telah sepakat untuk mencoba satu buah wateslide lagi yang belum kami coba sejak tadi, dan seperti nya akan lebih menyenangkan karena lebih panjang dan lebih tinggi daripada waterslide lain yang telah kami coba. Seperti biasa yang mencoba pertama adalah Yusuf, karena dia yang paling pemberani diantara kami. Setelah itu Musa dan Hawari, lalu Heri. Dan tibalah giliranku, aku ragu karena dari atas terlihat menyeramkan sekali, aplagi aku paling takut dengan yang namanya ketinggian, tapi aku keinginan itu mendorongku untuk tetap mencobanya, dan saat aku meluncur kebawah, awalnya terasa biasa saja, namun ketika saat sudah sampai di tengah, aku serasa seperti melayang di udara, aku melesat semakin kencang, jantungku berdebar kuat sekali, dan reflek saja aku berteriak, hingga akhirnya aku pun mendarat di air dengan hempasan yang lumayan. Asyik sekali meluncur dari waterslide yang memiliki panjang 30 Meter ini.

Setelah berhasil mecoba waterslide yang berukuran 30 meter itu, kami merasa ketagihan. Kami terus mencoba berkali-kali, bahkan Yusuf malah meluncur dengan posisi kepala di depan sambil tiarap. Berani sekali dia, padahal itu tidak dibolehkan dalam peraturan yang telah dibuat. Waterslide yang ini adalah yang paling seru dan menantang dibandingkan dengan yang lainnya, buktinya kami semua terus saja berulang-ulang mencobanya, hingga pada akhirnya waktu mandi pun selesai, kami semua harus ganti baju. Yaaa padahal aku masih pingin mencobanya.

Lama bermain di air membuat kedua telingaku kemsaukkan air, aku bingung cara mengeluarkannya. Aku pasrah saja, dengan berharap semoga dapat keluar sendiri, kemudian aku langsung ganti baju.

Karena kami sudah lapar, jadi Ustad Umar memutuskan untuk makan dulu, padahal baru jam 10, tapi semua nya sudah lapar. Setelah kami semua sudah kenyang, tugas kami selanjutnya adalah mengerjakan tugas yang diberikan, seperti mengamati fakta, wawancara, dan fotografi.

Kami semua berkeliling-kliling mencari objek yang bagus untuk bahan fotografi sambil mengamati keadaan sekitar. Di lain sisi aku masih merasa bingung karena air yang sejak tadi mengganggu kedua telingaku ini belum keluar juga hingga saat ini, aku semakin takut kalau air ini tidak mau keluar. Beberapa kali aku sudah menyuruh temanku untuk meniupkan telingaku, tapi tetap saja tidak bisa. Karena tidak tahu lagi caranya, maka aku biarkan saja.

Aku sudah mondar-mandir cukup lama, dan foto yang kuambil pun seperti nya sudah cukup. Aku duduk-duduk sebentar, sambil memikirkan cara mengeluarkan air yang masuk ke telingaku ini. lalu Musa memberi tahu kan suatu cara untuk mengeluarkan air ini, aku langsung memperaktekkan apa yang dikatakan Musa dengan cara memasukkan air lagi ke dalam telingaku. Ternyata cara yang diberikan Musa ini berhasil, kedua telingaku kini sudah terasa nyaman dan kembali sperti semula.

Sekarang sudah jam 11 lewat 15, Ustad Umar sudah menyuruh kami semua untuk kumpul untuk persiapan sholat Jumat. Saat itu, aku melihat seorang remaja tangung yang sepertinya sedang menunggu dagangannya, lalu Kuhampiri dirinya, dan aku pun berbincang-bincang dengan remaja itu.

Saat kutanya, ia memperkenalkan dirinya, namanya Taufik, berumur 17 tahun.

Menurut remaja berumur 17 tahun ini, setiap hari ia datang ke curuk luhur ini untuk berjualan. Kasihan sekali dia, karena tidak setiap hari dagangannya laku, bahkan menurutnya, seringkali ia tidak mendapatkan satupun pelanggan dalam satu hari. Tapi Taufik juga menambahkan, jika Sabtu dan Minggu pasti ada saja pelanggan, karena Curuk luhur ini hanya ramai jika pada hari Sabtu dan Minggu.

Rumah yang jauh tidak membuat taufik menyerah dengan Usaha nya, meskipun rumahnya terbilang jauh dari Curuk ini, namun setiap hari ia tetap berusaha untuk datang untuk berjualan menggunakan motornya.

wawancara pun dilanjutkan, menurut remaja berumur 17 tahun ini, sudah satu tahun ia berjualan pakaian di curuk ini, sebenarnya ia ingin sekali mencari pekerjaan lain, tapi tak ada pilihan lain, sehingga ia hanya bisa bersyukur karena masih diberi pekerjaan.

Taufik juga menceritakan suka duka saat berjualan di Curuk ini, ia terkadang merasa sedih sekali jika pengunjung sepi, karena dagangannya juga pasti tidak laku. Dan sebaliknya ia merasa senang jika pengunjung curuk ini ramai, karena dengan demikian dagangan akan laku.

Perbincangan singkat itu pun selesai, semua santri laki-laki naik ke atas untuk sholat jumat, dengan meggunakan mobil Ustad Umar, kami semua pun berangkat ke masjid. Dan disinilah insiden baru menyeramkan telah terjadi. Insiden yang membuat kami semua hanya pasrah dengan takdir ini. sebuah ketegangan yang tak diduga sebelumnya.

Kami telah menemukan masjid untuk sholat Jumat, tapi Ustad Umar bingung mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya, jalananya kecil sehingga jika diparkir di pinggir jalan dapat menggannggu pengguna jalan yang lain. Tapi ada sebuah jalan kecil menurun yang mengarah ke tempat parkir Masjid, sebelum Ustad Umar melewari jalan itu, ia menyuruh Musa untuk keluar dan memastikan apakah jalan kecil itu layak untuk dilewati. Musa pun keluar lalu melihat jalan kecil itu, dan ia mengangguk pertanda jalan itu bisa digunakan.

Selain kecil dan menurun, untuk melewati jalan itu juga harus belok sekitar 30 derajat, sugguh belokan yang sangat tajam dan mengerikan. Dengan instruksi Musa dari luar, perlahan Ustad Umar membelokkan mobil nya dan memaksakan melewati jalan kecil itu. Sudah setengah belokkan dilewati, dan kemudian saat Ustad Umar akan memundurkan mobilnya, entah mengapa mobil itu malah melaju ke depan ke arah jalan setapak yang curam ke bawah. Melihat mobil yang kami naiki tak terkendali dan berjalan terperosok ke bawah, kami semua yang ada di mobi berteriak ketakutan, aku berulangkali mngucapkan “Astaghfirullah”. Hawari yang saat itu sedang tidur langsung terbangun dan berteriak “Allahuakbar”. Sdangkan Musa yang sedang berada didepan mobil berusaha menahan laju mobil yang tak terkendali hingga Musa terdorong terus sampai ke bawah. Mobil yang kami naiki terperosok cuku jauh ke bawah, menabrak tanaman-tanaman yang ada di depannya, hngga tanama-tanaman itu rusak bersama tanahnya. Untungnya mobil itu pun berhenti karena Ustad Umar langsung mengerem mobil itu, bayangkan saja jika mobil itu terus saja maju hingga ke bawah, pasti nyawa yang menjadi taruhannya.

Kami belum benar-benar aman, karena mobil masih dalam posisi yang rawan, bisa saja mobil itu maju lagi. Takut mobil itu akan maju lagi, kami langsung keluar. Sedangkan Ustad Umar masih menahan rem mobil itu, karena jika rem itu dilepaskan, mobil itu pasti akan jatuh hingga ke bawah. Musa langsung mengambil batu untuk mengganjal mobil itu agar tidak terus maju. Dan barulah Ustad Umar bisa keluar dari mobilnya.

Mendengar suara mobil yang terjebak ini, hampir semua jamaah yang sedang menunggu di dalam Masjid itu keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, mereka bertanya-bertanya, tapi aku tak tahu entah apa yang mereka ucapkan karena semua jamaah itu menggunakan bahasa sunda. Tapi yang aku tahu ada salah satu jamaah yang menyuruh agar kami tetap tenang, karena setelah usai sholat jumat nanti, mereka berjanji akan membantu mengeluarkan mobil itu. Sungguh baik sekali penduduk disini, ujarku dalam hati.

Untuk sementara mobil itu ditinggalkan, karena ada panggilan Allah yang lebih utama. Kami semua langsung berwudhu, lalu masuk ke dalam masjid. Khotib sudah mulai berbicara, tapi tak ada satupun kata yang kumengerti dari ucapan khotib itu, bagaimana tidak, khotib itu berkhotbah menggunakan bahasa sunda. Aku semakin yakin kalau daerah ini dihuni oleh orang sunda. Sholat pun dimulai, sungguh aku tidak bisa khusyuk dalam sholat jumat ini, aku teru saja memikirkan mobil itu.

Usai sholat Jumat, dengan dibantu para jamaah masjid, mereka semua bergotong royong menarik mobil itu agar keluar dari posisi rawan itu. sungguh beruntung sekali mobil itu terjebak di daerah yang penduduknya sangat mementingkan kebersamaan, terlihat sekali kepedulian mereka terhadap kami yang sedang dilanda musibah ini.

Dengan tali tambang yang sudah diikatkan ke mobil, warga sekitar pun menarik mobil itu dengan semangat gotong royong, dan tidak butuh waktu lama untuk menrik mobil itu, hanya sekitar 5 menit, mobil pun berhasil tertarik hingga kembali diatas.

Sungguh baik sekali penduduk warga itu, kami tidak tahu harus bagaimana untuk memabalas jasanya, kami semua hanya bisa berterima kasih.

Aku bersyukur sekali, karena ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada kami untuk tetap hidup di dunia ini. aku tahu Allah masih sayang kepada kami.

Kemudian, kami langsung kembali ke curuk, kembali bersama rombongan, dan kemudian langsung pulang menggunakan angkot. Dan selesai lah kisah kali ini.



Rekreasi Penuh Warna

Siapa yang tidak suka dengan jalan-jalan. Aku yakin kalian yang membaca ini pasti suka dengan jalan-jalan, atau paling tidak kalian juga pernah jalan-jalan kan. Jalan-jalan itu dapat berati luas. Bisa diartikan rekreasi, liburan, kunjungan, cuma mondar-mandir, berbelanja, keling-keliling, bokoknya banyak deh. Begitu juga diriku, aku senang jika diajak jalan-jalan, tapi terkadang tidak senang juga kalau tidak punya uang.

Ngomong-ngomong tentang jalan-jalan, aku punya cerita tentang perjalanan yang seru ni. Pokoknya wajib dibaca deh. Sebenarnya jalan-jalanku kali ini bisa dibilang rekreasi, tapi tidak sepenuhnya rekreasi, karena selain untuk rekreasi, jalan-jalan ini juga merupakan bentuk penerapan dari apa yang telah aku pelajari sebelumnya di pesantren media. Sekitar 3 bulan aku bersekolah di pesantren media ini, sudah banyak pelajaran yang aku dan kawan-kawan terima, dan sekarang adalah waktunya kami menerapkan semua ilmu yang telah diberikan itu, mulai dari fotografi, menulis perjalanan, aqidah Islamiyah, membaca fakta, wawacara, dan yang lainnya. semua itu harus kami tuangkan dalam sebuah tulisan, dan itulah mengapa tulisan ini dapat aku buat.

Kali ini, kami semua (santri-santri pesantren media) akan berekreasi ke curuk luhur yang terletak di lereng gunung salak. Untuk mengetahui bagimana keseruan ceritanya, dibaca aja sampai habis.

Usai sholat subuh di masjid Nurul Iman, aku dan teman-temanku lainnya (santri pesantren media), sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Baju ganti, minum, kantong kresek, HP, dan payung, semuanya sudah kupersiapkan dengan matang, dan berulang-ulang aku memeriksa lagi semua barang-barang itu agar tidak ada yang tertinggal. Semua nya benar-benar kupersiapkan dengan baik.

Jam setengah tujuh, kami semua ngumpul di pesantren media. Selain untuk makan pagi, juga untuk mendengarkan pengumuman dan pengarahan dari Ustad Umar, diantaranya adalah pengumuman mengenai barang-barang yang harus dibawa, mengenai transportasi, dan mengenai tugas yang harus kami selesaikan.

Jam tujuh kurang lima belas menit, dua angkot sudah datang ke pesantren media utuk menjemput kami, dan tepat jam tujuh kami pun berangkat. jumlah peumpang yang tidak sesuai dengan ukuran angkot membuat kami semua bersempit-sempitan, ada 12 orang penumpang di dalam angkot yang kami naiki itu. Yaitu, aku, Musa, Kak Farid, hawari, Heri, Yusuf, Abdullah, Taqi, dan 4 orang akhwat ditambah satu lagi sopir.

Mobil pun berangkat ke arah pagelaran, di pertigaan pagelaran kami belok kanan, kurang lebih 300 M, kami belok kanan lagi, kemudian dari situ kami lurus terus melewati jalan raya pangkalan taman pasir, desa sukajadi. Lalu setelah itu aku tidak terlalu memperhatikan jalan lagi,aku ngantuk sehingga hanya bisa tertunduk-tunduk lesu. Yang aku tahu semakin lama jalanan semakin sempit, daerah semakin sunyi, suasana pedesaan semakin terasa, dan yang paling terasa adalah suhu udaranya yang lebih dingin.

Sudah sekitar setengah jam kami melakukan perjalanan, tapi sepertinya kami belum juga sampai ke lereng gunung salak, tapi gunung salak terlihat semakin dekat dan sangat dekat, hingga tak terasa lama-kelamaan kami sudah berada di tempat yang tinggi. Gunung salak sudah tidak terlihat lagi, mungkin kami sudah berada di punggungnya, namun jalanan tetap menanjak dan berliku-liku, dan berkali-kali pula mobil angkot yang kami naiki mati mesinnya, sehingga membuat aku dan para penumpang lainnya sedikit panik.

Aku sempat membayangkan betapa pentingnya keberadaan gunug di Bumi, bayangkan saja jika tidak ada gunung, pasti bumi ini akan goyang. Karena sesungguhnya Allah menciptakan gunung di bumi ini antara lain sebagai pasak agar bumi ini tidak goyang, seperti firman Allah dalam surah An-Naba ayat 7 yang artinya:

dan telah kami jadikan gunung-gunung sebagai Pasak( pasak bumi).

Dan juga dalam suarah al-Anbiya yang berbunyi:

َجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Yang artinya: dan telah kami jadikan di bui ini gunung-gunung yang kokoh, supaya bumi itu tidak goncang bersama mereka dan telah kami jadikan pula di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk

Dari dua ayat diatas, jelas sekali bahwa, Gunung itu diciptakan Allah untuk menjaga bumi agar tidak guncang.

Itu sedikit mengenai penciptaan gunung. Baiklah cerita pun berlanjut.

Aku tak menyangka ternyata perjalanan ke curuk luhur bisa membutuhkan waktu selama ini, padahal dari pesantren, gunung salak itu terlihat dekat. Namun akhirnya setelah 50 menit perjalanan, kami akhirnya sampai juga ke curuk luhur. Dari luar tempat ini tidak terlihat seperti tempat wisata, bahkan air terjunnya pun belum terlihat, aku masih bertanya-tanya dalam hati, seperti apa ya air terjunnya, apakah seindah yang aku lihat di internet, ataukah lebih jelek. Yang pasti aku sudah tidak sabar untuk masuk dan mengambil foto.

Dan tibalah saatnya kami masuk ke dalam tempat wisata ini, setelah masuk, aku terkesima melihat ke bawah, bukan karena kagum dengan air terjunnya, tapi aku heran sekali, karena dari atas tidak terlihat sama sekali ada air terjun yang mengalir, aku hanya melihat banyak nya kolam renang, waterslide dan waterboom seperti yang terlihat pada gambar di samping. Aku heran sekali, aku berpikir bahwa kami salah tempat, tapi jelas sekali dari luar tertulis CURUK LUHUR.

Untuk memastikan semua nya, dan agar kami semua tidak bertanya-tanya terus, akhirnya kami semua turun ke bawah dan mencoba mencari air terjun itu, dari bawah barulah terlihat air terjun yang mengalir deras, kami langsung menuju air terjun itu.

Saat dekat sengan Curuk itu, Suara kami hampir tidak terdengar karena kalah dengan suara air terjun yang ada. Tapi air terjun yang aku lihat ini, berbeda sekali dengan airu terjun yang aku lihat dari internet, di internet lebih terlihat alami dan indah, sedangkan yang aku lihat ini sudah berbeda jauh, suasana alami nya sudah hilang. Tapi tak apalah, semua nya tetap terlihat indah.

Berdasarkan yang aku baca di sekiatar lokasi, tinggi curuk luhur ini sekitar 39 meter. Sedangkan kedalamannya mencapai 3 meter.

Oia temen –temen, ngomong mengenai air terjun, aku jadi teringat mengenai air tawar dan air asin. Kalian pernah kan mendengar berita adanya sungai di bwah laut, dan anehnya lagi air tawar itu tidak mau menyatu dengan air asin. Mungkin fenomena itu terasa aneh dan tidak masuk akal, tapi sebenarnya di dalam al-Qur’an Allah sudah menjelaskan tentang hal ini sebelumnya di dalam surah al-Furqan ayat 53 yang artinya:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas yang menghalaginya.

Jelas lah, bahwa air asin dan air tawar itu memang sudah ditakdirkan untuk tidak bercampur. Bayangakanlah jika semua air di bumi ini terasa asin, manusia pasti bingung, apa yang harus diminum. Tapi Allah telah menciptakan adanya air tawar untuk manusia dan makhluk lainnya yang membutuhkan.

Jadi jagalah dan manfaatkanlah air tawar ini sebaik-baiknya, jangan di sia-siakan.

baiklah kita lanjutkan lagi ceritanya

Aku tak mau melupakan sedikit pun kenangan ini, aku langsung memotret-motret air terjun dan sekitarnya, dan untuk memuasakan diri, kami semua(santri ikhwan) pun terjun ke telaga air terjun itu. Airnya sungguh dingin dan segar. Beberapa menit mandi di telaga itu membuat kami semua kedinginan, padahal Cuma beberapa menit, tapi sungguh dingin sekali, akhirnya kami semua pun menyudahkan mandi di telaga ini, tapi sebelum itu kami foto-foto terebih dahulu.

Meskipun kami sudah kedinginan akibat mandi di telaga itu, tapi tidak membuat kami menyudahi semua ini, kami mencoba untuk mandi di kolam renang yang ada di curuk ini. untuk yang pertama kalinya, kami mencoba ke kolam kecil yang ada waterboomnya. Wah pasti seru ni menahan terpaan air dari waterboom itu.

Bosan bermain-main di kolam wateboom, kami pun beralih menuju kolam lainnya, satu persatu kolam renang yang ada di curuk luhur ini kami coba. Selain kolam, kami juga mencoba waterslide(sebut saja luncuran) yang ada disini, dari yang kecil, yang pendek, berliku-liku, yang pajang, taupun yang tinggi sekalipun. Yang biasa hingga yang membuat histeris dan ketakutan.

Kemudaian saat kami merasa capek dan benar-benar kedinginan, kami semua memutuskan untuk segera menyudahi semua kesenangan ini. Tapi sebelum menyudahi itu semua, kami semua telah sepakat untuk mencoba satu buah wateslide lagi yang belum kami coba sejak tadi, dan seperti nya akan lebih menyenangkan karena lebih panjang dan lebih tinggi daripada waterslide lain yang telah kami coba. Seperti biasa yang mencoba pertama adalah Yusuf, karena dia yang paling pemberani diantara kami. Setelah itu Musa dan Hawari, lalu Heri. Dan tibalah giliranku, aku ragu karena dari atas terlihat menyeramkan sekali, aplagi aku paling takut dengan yang namanya ketinggian, tapi aku keinginan itu mendorongku untuk tetap mencobanya, dan saat aku meluncur kebawah, awalnya terasa biasa saja, namun ketika saat sudah sampai di tengah, aku serasa seperti melayang di udara, aku melesat semakin kencang, jantungku berdebar kuat sekali, dan reflek saja aku berteriak, hingga akhirnya aku pun mendarat di air dengan hempasan yang lumayan. Asyik sekali meluncur dari waterslide yang memiliki panjang 30 Meter ini.

Setelah berhasil mecoba waterslide yang berukuran 30 meter itu, kami merasa ketagihan. Kami terus mencoba berkali-kali, bahkan Yusuf malah meluncur dengan posisi kepala di depan sambil tiarap. Berani sekali dia, padahal itu tidak dibolehkan dalam peraturan yang telah dibuat. Waterslide yang ini adalah yang paling seru dan menantang dibandingkan dengan yang lainnya, buktinya kami semua terus saja berulang-ulang mencobanya, hingga pada akhirnya waktu mandi pun selesai, kami semua harus ganti baju. Yaaa padahal aku masih pingin mencobanya.

Lama bermain di air membuat kedua telingaku kemsaukkan air, aku bingung cara mengeluarkannya. Aku pasrah saja, dengan berharap semoga dapat keluar sendiri, kemudian aku langsung ganti baju.

Karena kami sudah lapar, jadi Ustad Umar memutuskan untuk makan dulu, padahal baru jam 10, tapi semua nya sudah lapar. Setelah kami semua sudah kenyang, tugas kami selanjutnya adalah mengerjakan tugas yang diberikan, seperti mengamati fakta, wawancara, dan fotografi.

Kami semua berkeliling-kliling mencari objek yang bagus untuk bahan fotografi sambil mengamati keadaan sekitar. Di lain sisi aku masih merasa bingung karena air yang sejak tadi mengganggu kedua telingaku ini belum keluar juga hingga saat ini, aku semakin takut kalau air ini tidak mau keluar. Beberapa kali aku sudah menyuruh temanku untuk meniupkan telingaku, tapi tetap saja tidak bisa. Karena tidak tahu lagi caranya, maka aku biarkan saja.

Aku sudah mondar-mandir cukup lama, dan foto yang kuambil pun seperti nya sudah cukup. Aku duduk-duduk sebentar, sambil memikirkan cara mengeluarkan air yang masuk ke telingaku ini. lalu Musa memberi tahu kan suatu cara untuk mengeluarkan air ini, aku langsung memperaktekkan apa yang dikatakan Musa dengan cara memasukkan air lagi ke dalam telingaku. Ternyata cara yang diberikan Musa ini berhasil, kedua telingaku kini sudah terasa nyaman dan kembali sperti semula.

Sekarang sudah jam 11 lewat 15, Ustad Umar sudah menyuruh kami semua untuk kumpul untuk persiapan sholat Jumat. Saat itu, aku melihat seorang remaja tangung yang sepertinya sedang menunggu dagangannya, lalu Kuhampiri dirinya, dan aku pun berbincang-bincang dengan remaja itu.

Saat kutanya, ia memperkenalkan dirinya, namanya Taufik, berumur 17 tahun.

Menurut remaja berumur 17 tahun ini, setiap hari ia datang ke curuk luhur ini untuk berjualan. Kasihan sekali dia, karena tidak setiap hari dagangannya laku, bahkan menurutnya, seringkali ia tidak mendapatkan satupun pelanggan dalam satu hari. Tapi Taufik juga menambahkan, jika Sabtu dan Minggu pasti ada saja pelanggan, karena Curuk luhur ini hanya ramai jika pada hari Sabtu dan Minggu.

Rumah yang jauh tidak membuat taufik menyerah dengan Usaha nya, meskipun rumahnya terbilang jauh dari Curuk ini, namun setiap hari ia tetap berusaha untuk datang untuk berjualan menggunakan motornya.

wawancara pun dilanjutkan, menurut remaja berumur 17 tahun ini, sudah satu tahun ia berjualan pakaian di curuk ini, sebenarnya ia ingin sekali mencari pekerjaan lain, tapi tak ada pilihan lain, sehingga ia hanya bisa bersyukur karena masih diberi pekerjaan.

Taufik juga menceritakan suka duka saat berjualan di Curuk ini, ia terkadang merasa sedih sekali jika pengunjung sepi, karena dagangannya juga pasti tidak laku. Dan sebaliknya ia merasa senang jika pengunjung curuk ini ramai, karena dengan demikian dagangan akan laku.

Perbincangan singkat itu pun selesai, semua santri laki-laki naik ke atas untuk sholat jumat, dengan meggunakan mobil Ustad Umar, kami semua pun berangkat ke masjid. Dan disinilah insiden baru menyeramkan telah terjadi. Insiden yang membuat kami semua hanya pasrah dengan takdir ini. sebuah ketegangan yang tak diduga sebelumnya.

Kami telah menemukan masjid untuk sholat Jumat, tapi Ustad Umar bingung mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya, jalananya kecil sehingga jika diparkir di pinggir jalan dapat menggannggu pengguna jalan yang lain. Tapi ada sebuah jalan kecil menurun yang mengarah ke tempat parkir Masjid, sebelum Ustad Umar melewari jalan itu, ia menyuruh Musa untuk keluar dan memastikan apakah jalan kecil itu layak untuk dilewati. Musa pun keluar lalu melihat jalan kecil itu, dan ia mengangguk pertanda jalan itu bisa digunakan.

Selain kecil dan menurun, untuk melewati jalan itu juga harus belok sekitar 30 derajat, sugguh belokan yang sangat tajam dan mengerikan. Dengan instruksi Musa dari luar, perlahan Ustad Umar membelokkan mobil nya dan memaksakan melewati jalan kecil itu. Sudah setengah belokkan dilewati, dan kemudian saat Ustad Umar akan memundurkan mobilnya, entah mengapa mobil itu malah melaju ke depan ke arah jalan setapak yang curam ke bawah. Melihat mobil yang kami naiki tak terkendali dan berjalan terperosok ke bawah, kami semua yang ada di mobi berteriak ketakutan, aku berulangkali mngucapkan “Astaghfirullah”. Hawari yang saat itu sedang tidur langsung terbangun dan berteriak “Allahuakbar”. Sdangkan Musa yang sedang berada didepan mobil berusaha menahan laju mobil yang tak terkendali hingga Musa terdorong terus sampai ke bawah. Mobil yang kami naiki terperosok cuku jauh ke bawah, menabrak tanaman-tanaman yang ada di depannya, hngga tanama-tanaman itu rusak bersama tanahnya. Untungnya mobil itu pun berhenti karena Ustad Umar langsung mengerem mobil itu, bayangkan saja jika mobil itu terus saja maju hingga ke bawah, pasti nyawa yang menjadi taruhannya.

Kami belum benar-benar aman, karena mobil masih dalam posisi yang rawan, bisa saja mobil itu maju lagi. Takut mobil itu akan maju lagi, kami langsung keluar. Sedangkan Ustad Umar masih menahan rem mobil itu, karena jika rem itu dilepaskan, mobil itu pasti akan jatuh hingga ke bawah. Musa langsung mengambil batu untuk mengganjal mobil itu agar tidak terus maju. Dan barulah Ustad Umar bisa keluar dari mobilnya.

Mendengar suara mobil yang terjebak ini, hampir semua jamaah yang sedang menunggu di dalam Masjid itu keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, mereka bertanya-bertanya, tapi aku tak tahu entah apa yang mereka ucapkan karena semua jamaah itu menggunakan bahasa sunda. Tapi yang aku tahu ada salah satu jamaah yang menyuruh agar kami tetap tenang, karena setelah usai sholat jumat nanti, mereka berjanji akan membantu mengeluarkan mobil itu. Sungguh baik sekali penduduk disini, ujarku dalam hati.

Untuk sementara mobil itu ditinggalkan, karena ada panggilan Allah yang lebih utama. Kami semua langsung berwudhu, lalu masuk ke dalam masjid. Khotib sudah mulai berbicara, tapi tak ada satupun kata yang kumengerti dari ucapan khotib itu, bagaimana tidak, khotib itu berkhotbah menggunakan bahasa sunda. Aku semakin yakin kalau daerah ini dihuni oleh orang sunda. Sholat pun dimulai, sungguh aku tidak bisa khusyuk dalam sholat jumat ini, aku teru saja memikirkan mobil itu.

Usai sholat Jumat, dengan dibantu para jamaah masjid, mereka semua bergotong royong menarik mobil itu agar keluar dari posisi rawan itu. sungguh beruntung sekali mobil itu terjebak di daerah yang penduduknya sangat mementingkan kebersamaan, terlihat sekali kepedulian mereka terhadap kami yang sedang dilanda musibah ini.

Dengan tali tambang yang sudah diikatkan ke mobil, warga sekitar pun menarik mobil itu dengan semangat gotong royong, dan tidak butuh waktu lama untuk menrik mobil itu, hanya sekitar 5 menit, mobil pun berhasil tertarik hingga kembali diatas.

Sungguh baik sekali penduduk warga itu, kami tidak tahu harus bagaimana untuk memabalas jasanya, kami semua hanya bisa berterima kasih.

Aku bersyukur sekali, karena ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepada kami untuk tetap hidup di dunia ini. aku tahu Allah masih sayang kepada kami.

Kemudian, kami langsung kembali ke curuk, kembali bersama rombongan, dan kemudian langsung pulang menggunakan angkot. Dan selesai lah kisah kali ini.



Laporan hasil diskusi aktual tanggal 5 Desember 2012

Rabu, 5 Desember 2012 Pesantren Media kembali mengadakan dikusi aktual. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya, diskusi aktual ini diadakan di lantai dasar Pesantren Media dengan diikuti seluruh santri Pesantren Media. Pada diskusi kali ini, tentunya kami membahas satu topik yang sedang hangat-hangatnya diberitakan di media massa, Yaitu mengenai “Bedah Kurikulum Tahun 2013.” 

Seperti yang diberitakan (ANTARA News) - Pemerintah akan mengubah kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Sekolah Menengah Kejuruan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi.

Pesantren Media mengambil topik tersebut karena dinilai sedang aktual dan dianggap sangat penting terutama bagi para siswa yang akan mengalaminya. Namun Pesantren Media tidak terlalu pusing dengan perubahan kurikulum ini, karena Pesantren Media sudah lebih dulu menggunakan kurikulum tersebut.

Diskusi aktual kali ini sedikit berbeda dengan biasanya. Jika biasanya yang menjadi moderator adalah Ustad Umar Abdullah (direktur Pesantren Media), maka kali ini yang menjadi modertor nya adalah Hawari, salah satu santri Pesantren Media tingkat 1 SMA, dan yang menjadi notulen adalah Ahmad Khoirul Anam. Sudah kedua kalinya diskusi aktual ini dipimpin oleh salah atu santri.

Ustad Umar memang sengaja melatih santri-santri nya agar terampil berbicara di depan umum, selain melatih keberanian juga dapat melatih rasa percaya diri. Itulah Pesantren Media, Mencetak da’i di bidang media.

Diskusi pun akhirnya dimulai. Hawari membuka diskusi ini dengan membaca Hamdalah. “Alhamdulillah kita bisa kembali ketemu dalam acara Diskusi Aktual tanggal 5 Desember 2012, dan kali ini kita akan membahas tema tentang ‘Bedah Kurikulum Tahun 2013’.”

Jika biasanya Ustad Umar selalu memberikan pendahuluan atau kalimat pengantar sebelum memulai Diskusi, Hawari tidak memberikan pengantar apapun, ia tidak tahu harus mendahulukan dengan apa. Maklumlah, baru pertama jadi moderator. Namun keberanian dan kepercayaan dirinya menjadi seorang moderator patut dihargai.

Diskusi pun langsung dimulai dengan sesi pertanyaan. “Silahkan angkat tangannya yang mau bertanya!” Perintah Hawari, sang moderator.

Terlihat beberapa santri mengangkatkan tanganya. Tak tahu berapa persisnya, namun sepertinya tidak terlalu banyak.

Kemudian pertanyaan pun dibacakan satu per satu. Dimulai dari santri akhwat.

“Apa yang salah dengan pelajaran IPA?” Ini adalah pertanyaan dari Ira, santri asal Bogor jenjang 1 SMA.

“Pelajaran IPA dan IPS di SD kan rencananya akan dihilangkan, terus nanti di SMA jurusannya apa, apakah akan diganti juga atau bagaimana?” Pertanyaan yang bagus dari Mayla.

“Apakah perubahan kurikulum ini ada hubungannya dengan Islam, dan apa tujuan mengganti kurikulum ini?” Dua pertanyan ini berasal dari Novia, yang merupakan santri jenjang 2 SMA.

“mengapa bisa terjadi pembedahan kurikulum ini?” Ini adalah pertanyaan dari Wigati, santri asal Siak.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari Neng Ilham, yang juga merupakan salah satu santri jenjang 2 SMA. “Apa pengaruhnya jika kurikulum ini tidak diganti?”

Seluruh pertanyaan dari santri akhwat sudah selesai dibacakan. Diskusi pun dilanjutkan dengan membacakan pertanyaan dari santri ikhwan. “Angkat tangannya ikhwan yang mau bertanya!” Perintah sang moderator.

Ternyata hanya dua orang yang terlihat mengangkat tangannya, yaitu Yusuf dan aku sendiri (Ahmad Khoirul Anam). Kemudian pertanyaan pun dibacakan dimulai dari pertanyaanku sendiri. “Apa saja perubahan kurikulum yang terjadi pada tahun 2013 nanti?” Itulah pertanyaanku. Aku adalah santri yang berasal dari Sanggau, Kalimantan Barat. Jenjang 1 SMA.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan Yusuf santri asal Sukabumi jenjang 1 SMP. “Bagaimana pemerintah memndang hal ini?”

Semua pertanyaan pun sudah dibacakan. Terhitung ada 7 pertanyaan yang harus dijawab dan didiskusikan. Kemudian Diskusi Aktual pun dilanjutkan dengan sesi menjawab pertanyaan, atau sesi diskusi. Dan pertanyaan yang pertama dijawab adalah pertanyaan dari Ira, “Apa yang salah dengan pelajaran IPA?”

“Ada yang bisa jawab, karena saya bukan ahli pendidikan jadi saya tidak tahu harus ngomong apa.” Ujar Hawari sang moderator yang merasa kesulitan menjawab.

Karena tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya, atau tidak ada yang mau menjawab, akhirnya Hawari sebagai Moderator berusaha menjawab menurut apa yang ia ketahui.

“Kalau menurut saya, seperti yang pernah dijelaskan oleh Ustadzah Lathifah Musa saat pelajaran Membaca Fakta, pelajaran IPA di SD itu seperti tidak ada manfaatnya, yang dipelajari terlalu banyak, seperti pelajaran kerangka, tulang-tulang. Masak anak SD disuruh belajar tulang-tulang, memangnya mau jadi dokter tulang. Dan memang tidak ditemui banyak manfaatnya jika anak SD diajari pelajaran IPA yang terlalu berat, sementara akhlaq nya belum diperbaiki. Oleh karena itu, pemerintah ingin lebih memfokuskan pada pelajaran budi pekerti.” Itulah pendapat yang disampaikan Hawari.

Mendengar jawaban dari Hawari, sepertinya tidak ada yang mau menambahkan atau bertanya. Sehingga diskusi pun dilanjutkan kembali dengan mendiskusikan pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Mayla, mengenai penghapusan mata pelajran IPA dan IPS yang berhubunagn dengan jurusan SMA nanti.

“Siapa yang mau jawab, angkat tangannya!” Hawari bertanya terlebih dahulu sebelum langsung dijawab olehnya.

Tidak ada yang mengangkat tangannya. Dengan bingung Hawari menjawab. “Yang jelas saya bukan perancangnya ya, jadi kalau mau tahu lebih lanjut silahkan tanya kepada perancangnya, karena secara otomatis jika mereka merencanakan penghapusan pelajaran IPA dan IPS pada SD dan SMP, seharusnya mereka juga mempersiapkan rencana selanjutnya kepada SMA yang mungkin seperti yang dijelaskan oleh Ustadzah Lathifah Musa bahwa yang SMA pelajarannya lebih ke arah pendalaman, jadi apa yang telah diajarkan di SD dan di SMP lebih didalami di SMA, namun jelasnya jurusannya seperti apa saya sendiri belum tahu, karena saya bukan yang merancang.” Itulah sedikit penjalasan dari moderator.

“ada yang mau menambahkan.” Tambah Hawari.

Ustad Oleh yang juga mengikuti diskusi ini pun terlihat mengangkat tangannya, pertanda ia mau menambahkan.

Ustad Oleh menambahkan, bahwa menurut pengamtannya dan juga yang beredar di beberapa media massa, bahwa kurikulum ini nantinya tidak akan membebani masyarakat dan juga gurunya, karena nantinya akan lebih kearah penalaran dibanding hafalan. Dan menurutnya, untuk mengubah secara maksimal kurikulum ini, tidak cukup hanya dalam satu tahun. Karena perubahan itu terkait banyak hal nantinya, misalnya buku-buku paket, meskipun nantinya buku-buku ini akan disediakan oleh pemerintah. Beliau juga menambahkan bahwa pelajaran IPA dan IPS memang akan dihilangkan, tapi substansinya tetap ada pada pelajaran lain, misalnya pada pelajaran PKn, Matematika, bahasa dan lain-lainnya. Dan untuk jurusan di SMA nya Ustad Oleh mengaku bahwa dirinya juga tidak terlalu tahu mengenai hal itu. Ia hanya membenarkan seperti yang dikatakan Hawari tadi, yaitu mengenai pendalaman pelajaran pada SMA nanti.

Ternyata Ustad Umar juga menambahkan sedikit. Kalau biasanya ia menjawab sebagai moderator, sekarang ia menjawab sebagai peserta.

“Sebenarnya rencana kurikulum 2013 sudah bagus, yaitu anak-anak SD dikembalikan pada keterampilan CALISTUNG, membaca menulis dan menghitung. Karena sekarang ini kan banyak anak-anak yang tidak bisa menulis, walaupun bisa SMS, lihat aja di facebook, akhirnya tulisannya kayak anak-anak alay. Dan Matematika juga kebanyakan hanya hafalin rumus, tidak tahu gunanya apa. Dan dari segi itu lah, maka kurikulum 2013 itu bisa dikatakan bagus, sehingga yang ditekankan nantinya adalah CALISTUNG, membaca, menulis, menghitung. Sehingga IPA dan IPS akan digabungkan ke pelajaran lainnay seperti Bahasa dan PKn. Dan mengenai jurusan di SMA tadi, Kemungkinan besar tidak ada penjurusan. Jadi, nanti SMA itu benar-benar akan lebih mendalami IPA dan IPS itu, dan baru di Universitas nanti mereka bisa memilih apa yang akan didalami. Dan Pramuka juga nantinya akan dijadikan pelajaran wajib, begitu juga dengan pelajaran bahasa akan lebih ditekankan.”

Itulah jawaban sekaligus tambahan dari Ustad umar. Kemudian diskusi pun berhenti sejenak, karena sang moderator perlu ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, diskusi pun kembali dilanjutkan. Selanjutnya menjawab pertanyaan dari Novia, yaitu mengenai hubungannya dengan Islam, dan apa tujuan digantinya kurikulum ini.

Tanpa menawarkan pertanyaan itu kepada kami. Moderator langsung menjawab pertanyaan dari Novia tersebut.

“Kalau hubungannya dengan Islam pasti ada ya, karena Islam itu memerintahkan agar umatnya berpendidikan, dan sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa untuk mendidik anak-anaknya. Apabila pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya itu salah, maka itu tentunya akan menjadi sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Sehingga saat kurikulum itu salah, maka kurikulum itu harus diganti. Nah jadi jelas sekali bahwa ini ada hubungannya dengan Islam, karena Islam memrintahkan kita untuk menuntut ilmu, dan banyak juga hadits-hadits dari Rasulullah yang menyruruh kita untuk menuntut ilmu. Bahkan di dalam Islam, menuntu ilmu itu wajib.”

Itulah jawaban dari Hawari mengenai hubungan Islam dengan Kurikulum. Lalu dilanjutkan pertanyaan yang kedua dari Novia, yaitu mengenai tujuan digantinya kurikulum.

“Ada yang bisa jawab? angkat tangannya!”

Tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya.

“Tadi sepertinya sudah dijawab kan, yaitu karena ada beberapa penyebab seperti yang sudah disebutkan tadi. Ada yang mau menambahkan?” Tanya moderator kepada peserta lainnya.

Jadi karen pertanyaan ini sudah dijawab di depan tadi, jadi pertanyaan ini langsung dilewat saja dan sudah dianggap terjawab.

Ya, karena tidak ada yang mau menambahkan, maka diskusi dilanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Wigati, mengenai kenapa bisa terjadi pembedahan kurikulum.

“Tadi sudah dijawab kan.”

Karena pertanyaan Wigati juga sudah terjawab di depan tadi, maka tidak dijawab kembali. Yaitu karena kurikulum sekarang, terutama pelajaran IPA dianggap tidak sesuai untuk anak SD, dan dianggap terlalu berat, ditambah lagi karena materi pelajaran yang banyak.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan dari Neng Ilham, yatiu pengaruh jika kurikulum tidak diganti.

Hawari sebagai moderator langsung menjawab. “Saya rasa jika tidak diganti, pendidikan Indonesia akan terus menerus dalam keterpurukan, seperti yang sering terjadi sekarang bahwa masih sering terjadi tawuran-tawuran, itu kan membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia perlu dibenahi, terutama budi pekertinya. Saya rasa begitulah. Ada yang mau menambahkan?”

Ternyata tidak ada yang mau menambahkan. Masih tersisa dua pertanyaan lagi yang belum terjawab, yaitu pertanyaan dariku dan dari Yusuf.

Diskusi pun dilanjutkan dengan pertanyaan dari aku sendiri, yaitu mengenai apa saja perubahan kurikulum yang terjadi pada 2013 nanti.

“Mata pelajaran yang diganti diantaranya IPA dan IPS, dan sebenarnya tidak dihapuskan, tapi disatukan ke pelajaran lainnya, dan juga masalah ujian, katanya sih nanti ujian akan dilakukan tanpa pengawas, karena pada satu ruangan itu terdapat 20 paket, jadi setiap anak akan mendapatkan soal-soal yang berbeda.” Hawari menjawab dengan singkat.

Ya, tak terasa sudah 6 pertanyaan yang terjawab, tinggal satu pertanyaan lagi dari yusuf. “bagaimana pemerintah memandang hal ini?”

Ustad Oleh pun berkomentar. “jadi pertanyaannya ini belum jelas. Memandang hal apa? Kan yang buat kan pemerintah sendiri. Mungkin pertanyaannya adalah, mengapa mempertimbangkan untuk perubahan kurikulum 2013?”

Kemudian Hawari juga menambahkan. “Saya memiliki jawaban dari pertanyaan Yusuf, saya pemerintah memandang ini baik-baik saja.” singkat sekali jawaban dari Hawari.

Ya, akhirnya semua pertanyaan pun telah berhasil terjawab, Namun sebelum sang moderator menutup diskusi ini. Ustad Oleh menambahkan sedikit mengenai diskusi kali ini.

“jadi saya berharap dengan diskusi itu, didapatkan jalan keluar dari pembahasan, sehingga ketika pulang kita punya jawaban kenapa membahas masalah ini? jadi karena ini memang penting bagi kita, karena kita memiliki kejelasan mengenai Islam, dan Islam yang akan di tawarkan kepada masyarakat dari diskusi ini, bahwa sejak dulu Islam sebenarnya sudah memiliki kurikulum yang jelas tentang pendidikan, dan kurikulum tersebut bertujuan untuk mengantarkan masyarakat yang akhlaqnya bagus, keimanannya kuat dan memiliki keilmuan. Dan kita patut apresiasi bahwa pemerintah telah menyadari kesalahannya, agar bisa menjadi bagus. Jadi solusinya itu kembali kepada Islam.” Itulah sedikit tambahan dari Ustad Oleh.

Kemudian sebelum ditutup ternyata Ustad Umar juga mau menambahkan sedikit.

“tadi ada yang bertanya nggak mengenai apa itu kurikulum. Jadi kurikulum itu adalah rangkaian pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik untuk membentuk target pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, itulah kurikulum. Jadi kurikulum yang ada di dalam Islam itu dikuatkan pada Akidah Islam, kemudian pengetahuan-pengetahuan dasar yang harus dikuasai oleh seseorang dalam kehidupannya, seperti membaca al-Qur’an dan sholat. Bahkan dulu, pada zaman Nabi Muhammad, tawanan-tawanan Perang Badar itu diwajibkan mengajarkan minimal 10 orang anak atau orang yang belum bisa baca sebagai tebusannya. Jadi, nggak boleh orang Islam itu nggak bisa baca, karena membaca adalah hal yang paling dasar, kemudian berhitung, dan menulis. Jadi secara dasar rencana kurikulum 2013 itu sebenarnya sudah dilaksanakan oleh Pesantren Media sejak 2 tahun yang lalu. “

Itu adalah sedikit tambahan dari Ustad Umar.

“Baik, kesimpulan akhir saya, ternyata pemerintah itu meniru Pesantren Media ya.” Ujar Hawari dengan penuh canda.

Semua peserta pun tertawa mendengar ucapan Hawari barusan, termasuk Ustad Oleh dan Ustad Umar.

“Jadi menurut pemerintah, pendidikan di Pesantren Media itu patut di contoh ya.” Lanjut Hawari dengan candanya.

Akhirnya Diskusi pun kali ini berakhir, dengan permohonan maaf dan salam, Hawari pun mengakhiri Diskusi ini. ”Sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Billahitaufik walhidayah, Wassalamualaikum warah matullahi wabarakaatuh.”

Dan saya sebagai notulen juga mohon maaf jika ada penulisan dan informasi yang salah. Wassalamualikum warah matullahi wabarakatuh.

Bedah Kurikulum Tahun 2013

Laporan hasil diskusi aktual tanggal 5 Desember 2012

Rabu, 5 Desember 2012 Pesantren Media kembali mengadakan dikusi aktual. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya, diskusi aktual ini diadakan di lantai dasar Pesantren Media dengan diikuti seluruh santri Pesantren Media. Pada diskusi kali ini, tentunya kami membahas satu topik yang sedang hangat-hangatnya diberitakan di media massa, Yaitu mengenai “Bedah Kurikulum Tahun 2013.” 

Seperti yang diberitakan (ANTARA News) - Pemerintah akan mengubah kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Sekolah Menengah Kejuruan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi.

Pesantren Media mengambil topik tersebut karena dinilai sedang aktual dan dianggap sangat penting terutama bagi para siswa yang akan mengalaminya. Namun Pesantren Media tidak terlalu pusing dengan perubahan kurikulum ini, karena Pesantren Media sudah lebih dulu menggunakan kurikulum tersebut.

Diskusi aktual kali ini sedikit berbeda dengan biasanya. Jika biasanya yang menjadi moderator adalah Ustad Umar Abdullah (direktur Pesantren Media), maka kali ini yang menjadi modertor nya adalah Hawari, salah satu santri Pesantren Media tingkat 1 SMA, dan yang menjadi notulen adalah Ahmad Khoirul Anam. Sudah kedua kalinya diskusi aktual ini dipimpin oleh salah atu santri.

Ustad Umar memang sengaja melatih santri-santri nya agar terampil berbicara di depan umum, selain melatih keberanian juga dapat melatih rasa percaya diri. Itulah Pesantren Media, Mencetak da’i di bidang media.

Diskusi pun akhirnya dimulai. Hawari membuka diskusi ini dengan membaca Hamdalah. “Alhamdulillah kita bisa kembali ketemu dalam acara Diskusi Aktual tanggal 5 Desember 2012, dan kali ini kita akan membahas tema tentang ‘Bedah Kurikulum Tahun 2013’.”

Jika biasanya Ustad Umar selalu memberikan pendahuluan atau kalimat pengantar sebelum memulai Diskusi, Hawari tidak memberikan pengantar apapun, ia tidak tahu harus mendahulukan dengan apa. Maklumlah, baru pertama jadi moderator. Namun keberanian dan kepercayaan dirinya menjadi seorang moderator patut dihargai.

Diskusi pun langsung dimulai dengan sesi pertanyaan. “Silahkan angkat tangannya yang mau bertanya!” Perintah Hawari, sang moderator.

Terlihat beberapa santri mengangkatkan tanganya. Tak tahu berapa persisnya, namun sepertinya tidak terlalu banyak.

Kemudian pertanyaan pun dibacakan satu per satu. Dimulai dari santri akhwat.

“Apa yang salah dengan pelajaran IPA?” Ini adalah pertanyaan dari Ira, santri asal Bogor jenjang 1 SMA.

“Pelajaran IPA dan IPS di SD kan rencananya akan dihilangkan, terus nanti di SMA jurusannya apa, apakah akan diganti juga atau bagaimana?” Pertanyaan yang bagus dari Mayla.

“Apakah perubahan kurikulum ini ada hubungannya dengan Islam, dan apa tujuan mengganti kurikulum ini?” Dua pertanyan ini berasal dari Novia, yang merupakan santri jenjang 2 SMA.

“mengapa bisa terjadi pembedahan kurikulum ini?” Ini adalah pertanyaan dari Wigati, santri asal Siak.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari Neng Ilham, yang juga merupakan salah satu santri jenjang 2 SMA. “Apa pengaruhnya jika kurikulum ini tidak diganti?”

Seluruh pertanyaan dari santri akhwat sudah selesai dibacakan. Diskusi pun dilanjutkan dengan membacakan pertanyaan dari santri ikhwan. “Angkat tangannya ikhwan yang mau bertanya!” Perintah sang moderator.

Ternyata hanya dua orang yang terlihat mengangkat tangannya, yaitu Yusuf dan aku sendiri (Ahmad Khoirul Anam). Kemudian pertanyaan pun dibacakan dimulai dari pertanyaanku sendiri. “Apa saja perubahan kurikulum yang terjadi pada tahun 2013 nanti?” Itulah pertanyaanku. Aku adalah santri yang berasal dari Sanggau, Kalimantan Barat. Jenjang 1 SMA.

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan Yusuf santri asal Sukabumi jenjang 1 SMP. “Bagaimana pemerintah memndang hal ini?”

Semua pertanyaan pun sudah dibacakan. Terhitung ada 7 pertanyaan yang harus dijawab dan didiskusikan. Kemudian Diskusi Aktual pun dilanjutkan dengan sesi menjawab pertanyaan, atau sesi diskusi. Dan pertanyaan yang pertama dijawab adalah pertanyaan dari Ira, “Apa yang salah dengan pelajaran IPA?”

“Ada yang bisa jawab, karena saya bukan ahli pendidikan jadi saya tidak tahu harus ngomong apa.” Ujar Hawari sang moderator yang merasa kesulitan menjawab.

Karena tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya, atau tidak ada yang mau menjawab, akhirnya Hawari sebagai Moderator berusaha menjawab menurut apa yang ia ketahui.

“Kalau menurut saya, seperti yang pernah dijelaskan oleh Ustadzah Lathifah Musa saat pelajaran Membaca Fakta, pelajaran IPA di SD itu seperti tidak ada manfaatnya, yang dipelajari terlalu banyak, seperti pelajaran kerangka, tulang-tulang. Masak anak SD disuruh belajar tulang-tulang, memangnya mau jadi dokter tulang. Dan memang tidak ditemui banyak manfaatnya jika anak SD diajari pelajaran IPA yang terlalu berat, sementara akhlaq nya belum diperbaiki. Oleh karena itu, pemerintah ingin lebih memfokuskan pada pelajaran budi pekerti.” Itulah pendapat yang disampaikan Hawari.

Mendengar jawaban dari Hawari, sepertinya tidak ada yang mau menambahkan atau bertanya. Sehingga diskusi pun dilanjutkan kembali dengan mendiskusikan pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Mayla, mengenai penghapusan mata pelajran IPA dan IPS yang berhubunagn dengan jurusan SMA nanti.

“Siapa yang mau jawab, angkat tangannya!” Hawari bertanya terlebih dahulu sebelum langsung dijawab olehnya.

Tidak ada yang mengangkat tangannya. Dengan bingung Hawari menjawab. “Yang jelas saya bukan perancangnya ya, jadi kalau mau tahu lebih lanjut silahkan tanya kepada perancangnya, karena secara otomatis jika mereka merencanakan penghapusan pelajaran IPA dan IPS pada SD dan SMP, seharusnya mereka juga mempersiapkan rencana selanjutnya kepada SMA yang mungkin seperti yang dijelaskan oleh Ustadzah Lathifah Musa bahwa yang SMA pelajarannya lebih ke arah pendalaman, jadi apa yang telah diajarkan di SD dan di SMP lebih didalami di SMA, namun jelasnya jurusannya seperti apa saya sendiri belum tahu, karena saya bukan yang merancang.” Itulah sedikit penjalasan dari moderator.

“ada yang mau menambahkan.” Tambah Hawari.

Ustad Oleh yang juga mengikuti diskusi ini pun terlihat mengangkat tangannya, pertanda ia mau menambahkan.

Ustad Oleh menambahkan, bahwa menurut pengamtannya dan juga yang beredar di beberapa media massa, bahwa kurikulum ini nantinya tidak akan membebani masyarakat dan juga gurunya, karena nantinya akan lebih kearah penalaran dibanding hafalan. Dan menurutnya, untuk mengubah secara maksimal kurikulum ini, tidak cukup hanya dalam satu tahun. Karena perubahan itu terkait banyak hal nantinya, misalnya buku-buku paket, meskipun nantinya buku-buku ini akan disediakan oleh pemerintah. Beliau juga menambahkan bahwa pelajaran IPA dan IPS memang akan dihilangkan, tapi substansinya tetap ada pada pelajaran lain, misalnya pada pelajaran PKn, Matematika, bahasa dan lain-lainnya. Dan untuk jurusan di SMA nya Ustad Oleh mengaku bahwa dirinya juga tidak terlalu tahu mengenai hal itu. Ia hanya membenarkan seperti yang dikatakan Hawari tadi, yaitu mengenai pendalaman pelajaran pada SMA nanti.

Ternyata Ustad Umar juga menambahkan sedikit. Kalau biasanya ia menjawab sebagai moderator, sekarang ia menjawab sebagai peserta.

“Sebenarnya rencana kurikulum 2013 sudah bagus, yaitu anak-anak SD dikembalikan pada keterampilan CALISTUNG, membaca menulis dan menghitung. Karena sekarang ini kan banyak anak-anak yang tidak bisa menulis, walaupun bisa SMS, lihat aja di facebook, akhirnya tulisannya kayak anak-anak alay. Dan Matematika juga kebanyakan hanya hafalin rumus, tidak tahu gunanya apa. Dan dari segi itu lah, maka kurikulum 2013 itu bisa dikatakan bagus, sehingga yang ditekankan nantinya adalah CALISTUNG, membaca, menulis, menghitung. Sehingga IPA dan IPS akan digabungkan ke pelajaran lainnay seperti Bahasa dan PKn. Dan mengenai jurusan di SMA tadi, Kemungkinan besar tidak ada penjurusan. Jadi, nanti SMA itu benar-benar akan lebih mendalami IPA dan IPS itu, dan baru di Universitas nanti mereka bisa memilih apa yang akan didalami. Dan Pramuka juga nantinya akan dijadikan pelajaran wajib, begitu juga dengan pelajaran bahasa akan lebih ditekankan.”

Itulah jawaban sekaligus tambahan dari Ustad umar. Kemudian diskusi pun berhenti sejenak, karena sang moderator perlu ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, diskusi pun kembali dilanjutkan. Selanjutnya menjawab pertanyaan dari Novia, yaitu mengenai hubungannya dengan Islam, dan apa tujuan digantinya kurikulum ini.

Tanpa menawarkan pertanyaan itu kepada kami. Moderator langsung menjawab pertanyaan dari Novia tersebut.

“Kalau hubungannya dengan Islam pasti ada ya, karena Islam itu memerintahkan agar umatnya berpendidikan, dan sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa untuk mendidik anak-anaknya. Apabila pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya itu salah, maka itu tentunya akan menjadi sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Sehingga saat kurikulum itu salah, maka kurikulum itu harus diganti. Nah jadi jelas sekali bahwa ini ada hubungannya dengan Islam, karena Islam memrintahkan kita untuk menuntut ilmu, dan banyak juga hadits-hadits dari Rasulullah yang menyruruh kita untuk menuntut ilmu. Bahkan di dalam Islam, menuntu ilmu itu wajib.”

Itulah jawaban dari Hawari mengenai hubungan Islam dengan Kurikulum. Lalu dilanjutkan pertanyaan yang kedua dari Novia, yaitu mengenai tujuan digantinya kurikulum.

“Ada yang bisa jawab? angkat tangannya!”

Tidak ada yang terlihat mengangkat tangannya.

“Tadi sepertinya sudah dijawab kan, yaitu karena ada beberapa penyebab seperti yang sudah disebutkan tadi. Ada yang mau menambahkan?” Tanya moderator kepada peserta lainnya.

Jadi karen pertanyaan ini sudah dijawab di depan tadi, jadi pertanyaan ini langsung dilewat saja dan sudah dianggap terjawab.

Ya, karena tidak ada yang mau menambahkan, maka diskusi dilanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan dari Wigati, mengenai kenapa bisa terjadi pembedahan kurikulum.

“Tadi sudah dijawab kan.”

Karena pertanyaan Wigati juga sudah terjawab di depan tadi, maka tidak dijawab kembali. Yaitu karena kurikulum sekarang, terutama pelajaran IPA dianggap tidak sesuai untuk anak SD, dan dianggap terlalu berat, ditambah lagi karena materi pelajaran yang banyak.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan dari Neng Ilham, yatiu pengaruh jika kurikulum tidak diganti.

Hawari sebagai moderator langsung menjawab. “Saya rasa jika tidak diganti, pendidikan Indonesia akan terus menerus dalam keterpurukan, seperti yang sering terjadi sekarang bahwa masih sering terjadi tawuran-tawuran, itu kan membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia perlu dibenahi, terutama budi pekertinya. Saya rasa begitulah. Ada yang mau menambahkan?”

Ternyata tidak ada yang mau menambahkan. Masih tersisa dua pertanyaan lagi yang belum terjawab, yaitu pertanyaan dariku dan dari Yusuf.

Diskusi pun dilanjutkan dengan pertanyaan dari aku sendiri, yaitu mengenai apa saja perubahan kurikulum yang terjadi pada 2013 nanti.

“Mata pelajaran yang diganti diantaranya IPA dan IPS, dan sebenarnya tidak dihapuskan, tapi disatukan ke pelajaran lainnya, dan juga masalah ujian, katanya sih nanti ujian akan dilakukan tanpa pengawas, karena pada satu ruangan itu terdapat 20 paket, jadi setiap anak akan mendapatkan soal-soal yang berbeda.” Hawari menjawab dengan singkat.

Ya, tak terasa sudah 6 pertanyaan yang terjawab, tinggal satu pertanyaan lagi dari yusuf. “bagaimana pemerintah memandang hal ini?”

Ustad Oleh pun berkomentar. “jadi pertanyaannya ini belum jelas. Memandang hal apa? Kan yang buat kan pemerintah sendiri. Mungkin pertanyaannya adalah, mengapa mempertimbangkan untuk perubahan kurikulum 2013?”

Kemudian Hawari juga menambahkan. “Saya memiliki jawaban dari pertanyaan Yusuf, saya pemerintah memandang ini baik-baik saja.” singkat sekali jawaban dari Hawari.

Ya, akhirnya semua pertanyaan pun telah berhasil terjawab, Namun sebelum sang moderator menutup diskusi ini. Ustad Oleh menambahkan sedikit mengenai diskusi kali ini.

“jadi saya berharap dengan diskusi itu, didapatkan jalan keluar dari pembahasan, sehingga ketika pulang kita punya jawaban kenapa membahas masalah ini? jadi karena ini memang penting bagi kita, karena kita memiliki kejelasan mengenai Islam, dan Islam yang akan di tawarkan kepada masyarakat dari diskusi ini, bahwa sejak dulu Islam sebenarnya sudah memiliki kurikulum yang jelas tentang pendidikan, dan kurikulum tersebut bertujuan untuk mengantarkan masyarakat yang akhlaqnya bagus, keimanannya kuat dan memiliki keilmuan. Dan kita patut apresiasi bahwa pemerintah telah menyadari kesalahannya, agar bisa menjadi bagus. Jadi solusinya itu kembali kepada Islam.” Itulah sedikit tambahan dari Ustad Oleh.

Kemudian sebelum ditutup ternyata Ustad Umar juga mau menambahkan sedikit.

“tadi ada yang bertanya nggak mengenai apa itu kurikulum. Jadi kurikulum itu adalah rangkaian pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik untuk membentuk target pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, itulah kurikulum. Jadi kurikulum yang ada di dalam Islam itu dikuatkan pada Akidah Islam, kemudian pengetahuan-pengetahuan dasar yang harus dikuasai oleh seseorang dalam kehidupannya, seperti membaca al-Qur’an dan sholat. Bahkan dulu, pada zaman Nabi Muhammad, tawanan-tawanan Perang Badar itu diwajibkan mengajarkan minimal 10 orang anak atau orang yang belum bisa baca sebagai tebusannya. Jadi, nggak boleh orang Islam itu nggak bisa baca, karena membaca adalah hal yang paling dasar, kemudian berhitung, dan menulis. Jadi secara dasar rencana kurikulum 2013 itu sebenarnya sudah dilaksanakan oleh Pesantren Media sejak 2 tahun yang lalu. “

Itu adalah sedikit tambahan dari Ustad Umar.

“Baik, kesimpulan akhir saya, ternyata pemerintah itu meniru Pesantren Media ya.” Ujar Hawari dengan penuh canda.

Semua peserta pun tertawa mendengar ucapan Hawari barusan, termasuk Ustad Oleh dan Ustad Umar.

“Jadi menurut pemerintah, pendidikan di Pesantren Media itu patut di contoh ya.” Lanjut Hawari dengan candanya.

Akhirnya Diskusi pun kali ini berakhir, dengan permohonan maaf dan salam, Hawari pun mengakhiri Diskusi ini. ”Sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Billahitaufik walhidayah, Wassalamualaikum warah matullahi wabarakaatuh.”

Dan saya sebagai notulen juga mohon maaf jika ada penulisan dan informasi yang salah. Wassalamualikum warah matullahi wabarakatuh.